SinarHarapan.id-Hutan Kota GBK Jakarta berubah menjadi lautan warna dan semangat selama dua hari, 6–7 Juni 2026. Ribuan warga dari berbagai generasi tumpah ruah merayakan Acaraki Jamu Festival 2026. Mengusung tema “The Rise of Jamu Culture”, festival ini tidak sekadar menjual minuman herbal, melainkan menegaskan kembalinya jamu sebagai identitas budaya sekaligus gaya hidup sehat masyarakat modern.
Wakil Presiden bersama jajaran menteri turut memeriahkan pembukaan, menandakan dukungan penuh pemerintah terhadap pelestarian warisan dunia tersebut. Pengakuan UNESCO pada 6 Desember 2023 yang menetapkan Budaya Sehat Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia menjadi fondasi utama mengapa festival ini krusial.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa jamu bukan lagi sekadar minuman saat sakit. “Acaraki Jamu Festival menjadi momentum penting untuk mengajak masyarakat kembali mengenal dan mencintai jamu. Festival ini menunjukkan jamu mampu beradaptasi dan terus berinovasi, sehingga tetap relevan bagi generasi muda,” ujarnya di tengah hiruk-pikuk pengunjung.(7/6)
Data yang dipaparkan panitia menunjukkan potensi luar biasa Indonesia. Dari sekitar 40.000 spesies tanaman di dunia, 30.000 di antaranya tumbuh di Indonesia. Kekayaan hayati ini menjadikan Indonesia sebagai pusat pengetahuan herbal abad ke-21.
Baca juga :Acaraki Jamu Festival Edisi Juli : Hidupkan Budaya dalam Format Inspiratif dan Membumi
Festival ini lahir dari kolaborasi strategis antara acaraki, Larutan Penyegar Cap Badak, BPOM RI, Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu), serta Kementerian Ekonomi Kreatif. Dua pendekatan besar diusung: pertama, pendekatan kreatif untuk generasi muda melalui musik, kuliner, dan seni; kedua, penguatan kualitas dan keamanan produk bersama BPOM serta GP Jamu.

Ketua Umum GP Jamu, Jony Yuwono, menyoroti pentingnya semangat jamu gendong yang tetap lestari di tengah perubahan. “Melalui acaraki Jamu Festival, kami berharap semakin banyak pihak tergerak melestarikan dan mengembangkan warisan budaya jamu. Semangat pelaku jamu tradisional harus menginspirasi inovasi dan daya saing UMKM,” jelasnya.
Puluhan aktivitas memadati dua hari festival. Ribuan peserta memenuhi Jamu Fit Fest yang menggelar 5K Fun Run, yoga, dan zumba. Di sudut lain, Perjamuan Nusantara menyajikan ratusan produk UMKM jamu, kuliner tradisional, hingga kafe jamu modern. Pengunjung juga disuguhi Parade Jamu Gendong, Kompetisi Jamu Mixologist, hingga konser musik “Sorak Serai”.
Larutan Penyegar Cap Badak turut menginisiasi revitalisasi Aksara Nusantara. Langkah ini bertujuan menjaga resep-resep kuno yang selama ratusan tahun ditulis dalam aksara daerah, agar pengetahuan leluhur tidak punah.
Direktur Utama acaraki dalam wawancara terpisah menyampaikan bahwa festival ini dirancang ramah keluarga. Anak-anak bermain Estafet Permainan Nusantara, sementara orang tua menikmati edukasi kesehatan. “Kami ingin jamu menjadi teman berolahraga, teman bekerja, dan perekat kebersamaan keluarga,” tuturnya.
Dengan berakhirnya festival, para penyelenggara berharap gerakan ini tidak berhenti di GBK. Transformasi jamu dari bentuk gendong menjadi minuman siap saji, kapsul, hingga produk perawatan tubuh menunjukkan bahwa warisan budaya bisa menjadi penggerak ekonomi nasional. Ketika budaya, kreativitas, dan industri bergerak bersama, jamu tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga siap membawa nama Indonesia ke panggung global.



