SinarHarapan.id-Minggu, 13 September 2026, Kompleks Gelora Bung Karno akan kembali menjadi saksi gelaran olahraga massal berskala internasional. MILO ACTIV Indonesia Race 2026 Jakarta International 10K diprediksi diikuti sekitar 25.000 peserta dari dalam dan luar negeri.
Angka ini melanjutkan tren positif yang telah terbangun sejak rangkaian seri di Yogyakarta, Medan, Bandung, dan Surabaya. Keempat kota itu secara total juga menyedot lebih dari 25.000 pelari. Kini, ibu kota menjadi panggung pamungkas dari perjalanan panjang yang dimulai berbulan-bulan lalu.
Gelora Bung Karno bukanlah pilihan seremonial belaka. Pembangunannya dimulai pada 8 Februari 1960 dan diresmikan pada 24 Agustus 1962 untuk Asian Games IV. Sekitar 110 ribu orang memadati stadion pada pembukaan ajang multicabang itu. Kini, enam dekade kemudian, semangat yang sama kembali bergema di kawasan Senayan.
Bertepatan dengan peringatan Hari Olahraga Nasional, ajang ini memiliki dimensi simbolis yang kuat. Haornas lahir dari Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985 yang menetapkan 9 September sebagai hari olahraga nasional. Penetapan itu mengacu pada PON I di Surakarta pada 9 September 1948. Kini, 78 tahun kemudian, semangat kebangsaan melalui olahraga kembali bergema di ibu kota.
Empat kategori dilombakan: 10K Open, 10K Closed, 5K, dan Family Run 2,5K. Kategori 10K Open secara khusus dibuka untuk pelari internasional, menegaskan ambisi menjadikan Jakarta sebagai destinasi olahraga global. Ini bukan sekadar ajang lari, melainkan upaya memperkuat posisi Jakarta di peta olahraga dunia.
Dukungan pemerintah terasa nyata. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir hadir langsung dalam konferensi pers di Kantor Kemenpora, Rabu (2/9). “Mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat dan aktif melalui olahraga memerlukan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak,” ujarnya. Ia menambahkan, sinergi lintas sektor harus terus diperkuat.
Kolaborasi ini bukan insidental. Pada Juni 2026, Nestlé MILO dan Kemenpora RI menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat kolaborasi strategis. Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor. “Upaya ini tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif dari berbagai pihak,” katanya.
Kerja sama ini mencakup berbagai program yang menjangkau lebih dari 60.000 masyarakat di seluruh Indonesia. Di antaranya, Tes Kebugaran Pelajar Nasional di 100 sekolah di 10 kota melalui MILO School Development Program. Selain itu, aktivasi olahraga di Car Free Day sejumlah kota berlangsung dari Juli hingga Oktober 2026.
Nestlé MILO hadir di Indonesia sejak 1974—tepatnya diimpor untuk pertama kalinya pada tahun itu. Enam tahun kemudian, produksi lokal dimulai di Pabrik Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. Selama lebih dari lima dekade, merek ini telah mengajak 50 juta anak Indonesia di 300 kota dan kabupaten untuk menerapkan gaya hidup sehat dan aktif.
Marketing Manager Beverages & Confectionery Business Unit PT Nestlé Indonesia, Alaa Shaaban, menyatakan antusiasme membawa semangat ini ke ibu kota. “Setelah sukses menyelenggarakan rangkaian MILO ACTIV Indonesia Race di empat kota, kami sangat antusias membawa semangat ini ke Ibu Kota,” ujarnya. Ia berharap ajang ini menginspirasi masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang.
Tak hanya lari, kolaborasi ini juga mencakup Indonesia Sports Summit 2026 yang digelar Kemenpora pada 11–13 September 2026. Race Pack Collection MILO ACTIV Indonesia Race menjadi bagian dari rangkaian ISS 2026. Ini menunjukkan bahwa olahraga massal tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam ekosistem yang lebih luas.
Pegiat olahraga lari Shanada Jzen turut memberikan perspektif. “Bagi saya, lari bukan hanya tentang jarak atau kecepatan, tetapi juga tentang konsistensi, keberanian untuk menantang diri sendiri, dan komunitas yang saling mendukung,” ujarnya. Ia berharap semakin banyak masyarakat terinspirasi untuk mulai berlari dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup.
Fenomena lari di Indonesia memang menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Dampak ekonominya pun tak terbantahkan. Maybank Marathon 2025 mencatat dampak ekonomi Rp225,5 miliar, naik dari Rp164 miliar pada 2024. Jakarta International Marathon 2025 berkontribusi sekitar Rp85 miliar bagi perekonomian ibu kota. Borobudur Marathon menyumbang ekonomi Rp74 miliar.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa olahraga massal bukan sekadar kegiatan fisik. Ia menjadi penggerak ekonomi yang nyata, menciptakan efek berganda bagi sektor pariwisata, perhotelan, dan usaha mikro kecil menengah. MILO ACTIV Indonesia Race 2026 berada di jalur yang sama—menghidupkan tradisi sekaligus membangun masa depan olahraga Indonesia.
Pendaftaran dibuka secara online melalui milo.co.id/MAIR2026. Bagi 25.000 peserta yang akan memadati kawasan GBK pada 13 September nanti, ini bukan sekadar finis di garis akhir. Ini adalah langkah menuju Indonesia yang lebih sehat, aktif, dan tangguh—satu langkah, satu pelari, satu generasi pada satu waktu.




