SinarHarapan.id- Film horor Indonesia The Doll Ghawiah siap menghadirkan teror baru melalui sosok boneka menyeramkan yang dibuat dengan teknologi animatronik.
Tak sekadar mengandalkan penampakan dan kejutan, film produksi Hitmaker Studios ini menawarkan boneka dengan detail visual dan ekspresi yang dirancang lebih kompleks untuk menciptakan pengalaman horor yang berbeda.
Sebagai prekuel dari semesta The Doll, film ini mengajak penonton menelusuri asal-usul teror yang selama ini menjadi bagian penting dari waralaba horor tersebut. Ceritanya membawa penonton ke masa lalu, ketika sebuah boneka bernama Ghawiah menjadi awal dari rangkaian kejadian mistis yang mengancam sebuah keluarga.
Disutradarai oleh Guntur Soeharjanto, film ini menyajikan visual yang lebih megah dan cerita lebih kelam. Berlatar waktu era tahun 1988, The Doll Ghawiah berfokus pada dinamika sebuah keluarga.
Sang produser, Rocky Soraya, mengungkapkan adanya penyegaran konsep pada karakter boneka dalam film ini.
“Kita gak mau bikin konsepnya kayak Chucky yang di mana it’s a B-movie, kita masih mau bikinnya yang A-movie. Jadi kita bikin dia gak jalan-jalan. Tapi kita bikin dia bisa ngomong, karena kalau enggak, it’s also boring,” kata Rocky Soraya saat jumpa pers di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/26).
Tak hanya itu, visual boneka juga dibuat lebih berkelas demi menunjang estetika sinematik di layar lebar.
“Karena ini sudah 10 tahun kemudian, kita mau refresh dengan sesuatu yang lebih cute, lebih makes sense, dan pastinya lebih mahal. Kalau cuma ada sebuah boneka yang cuma duduk saja, sebagai film kurang sinematik,” pungkas Rocky.
Sinopsis Film The Doll Ghawiah
Arya dan Evi bersama dua putrinya Gita dan Nala pindah rumah dari Jakarta ke bandung di tahun 1988. Keluarga tersebut berniat untuk memulai kehidupan yang baru setelah usaha dan ekonomi mereka runtuh. Mereka bersama-sama membangun restoran di kawasan dekat Babakan Siliwangi, berharap menjadi awal yang lebih baik bagi keluarga mereka. Namun sejak tiba di sana, suasana aneh mulai terasa.
Nala bertemu seorang anak perempuan misterius di hutan Babakan Siliwangi. Anak itu memberinya sebuah boneka bernama Ghawiah.
Kejadian-kejadian janggal mulai menghantui keluarga mereka satu-persatu, boneka Ghawiah terus berpindah tempat tanpa ada yang menyentuhnya. Gangguan tidak masuk akal semakin intens, teror boneka Ghawiah tak lagi bisa dihindari.
Dari Laras, seorang pelayan restoran yang juga warga setempat, mereka mendengar legenda tentang arwah seorang anak.
Arwah tersebut bernama Uci yang meninggal tragis akibat tabrak lari di Jalan Siliwangi dua tahun lalu. Arwah itu pernah menghantui warga bersama boneka kesayangannya, Ghawiah.
Harapan mereka untuk meraih kedamaian di Kota Kembang seketika sirna menjadi mimpi buruk tak berujung. Petaka bermula saat Nala mengalami sebuah insiden misterius di kawasan hutan kota Babakan Siliwangi. Di lokasi tersebut, Nala tanpa sengaja bertemu dengan sosok anak kecil yang mendekap erat sebuah boneka bernama Ghawiah.

Rupanya, boneka Ghawiah bukanlah mainan biasa. Boneka tersebut merupakan wadah bagi jiwa-jiwa yang terluka dan memiliki ikatan erat dengan legenda tragis arwah anak kecil bernama Uci.
Sejak kehadiran boneka tersebut di rumah mereka, serangkaian teror supranatural yang brutal dan mengancam nyawa mulai menyiksa keluarga Arya. Demi memutus rantai kutukan maut yang ganas, sosok Laras (Sara Wijayanto) akhirnya turun tangan guna menguak misteri kelam di balik dendam arwah boneka Ghawiah.
Kekuatan cerita The Doll Ghawiah pun ditopang oleh kolaborasi akting para bintang papan atas lintas generasi, di antaranya: Titi Kamal, Darius Sinathrya, Sara Wijayanto, Aisyah Aqilah, Laura Miane, Fara Shakila, Rendi Khrisna
Film The Doll Ghawiah akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026.



