SinarHarapan.id-Jenny Widjaja menatap sagu bukan sekadar tepung. Di balik Sagolicious, ia melihat warisan pangan Nusantara yang lama terpinggirkan. Catatan perjalanannya menjadi cerita tentang ketahanan pangan, lingkungan, edukasi masyarakat, dan keberanian membangun usaha dari hulu ke hilir tanpa kehilangan akar budaya.
Sejak pandemi Covid-19, Jenny makin serius mengangkat produk asli Indonesia. Ia menilai impor besar dan makanan pokok semestinya berakar pada kekayaan Nusantara. Pilihannya jatuh pada sagu, tanaman yang tumbuh alami dan menjaga lingkungan di hutan tropis tanpa pupuk berlebihan kimia.
Sagu telah menjadi makanan nenek moyang sejak puluhan ribu tahun lalu. Arus perdagangan membawa beras dan menggeser posisinya sekitar tiga ribu tahun silam. Jenny ingin mengembalikan sagu sebagai fondasi ketahanan pangan Indonesia yang terlupakan di negeri sendiri melalui edukasi berkelanjutan.
Menurut Jenny, satu pohon sagu menghasilkan lima ratus kilogram hingga satu ton. Satu pohon dapat menghidupi satu desa selama berbulan-bulan. Satu hektare sagu mampu memberi dua puluh hingga empat puluh ton secara berkelanjutan tanpa merusak hutan dan tanpa pupuk kimia.(16/10)
Sagu tumbuh tanpa pestisida dan pupuk kimia. Akarnya menjaga tanah, mencegah erosi, dan membentuk benteng alami di tepi sungai. Jenny menyebut sagu sebagai emas hitam yang belum bangkit dan harus dilestarikan oleh generasi muda di seluruh Nusantara dengan bijak bersama.
Baca juga :IWBIF 2026: Ketika Pengusaha Perempuan Indonesia Mendunia
Di Indonesia Timur, Jenny sering diundang kementerian dan instansi untuk mengedukasi masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan, lingkungan, dan panen sagu yang matang. Pemerintah diminta memberi perhatian pada daerah penghasil sagu agar tidak dikorbankan demi pembangunan lain yang merusak.
Di ajang Kempinski bersama IWAPI dan jaringan internasional, Jenny memperkenalkan aneka olahan sagu. Tepung sagu diubah menjadi mi, kwetiau, nasi goreng, keripik, pasta, dan dessert. Permintaan ekspor mulai muncul, tetapi kapasitas produksi terus disiapkan secara bertahap untuk pasar global luas.
Jenny membuka Sago Dessert Cafe Resto di Boulevard Artha Gading, Kelapa Gading. Restoran itu menyajikan papeda hingga sagu bakar, dari tradisional sampai modern. Ia menyebutnya sebagai restoran yang menyediakan makanan sagu paling lengkap dan inovatif bagi konsumen di Jakarta sekarang.
Sebagai pembina UMKM, Jenny terus bersosialisasi dan mengajak investor. Ia meminta kepastian aturan serta pasokan bahan baku yang berkelanjutan. Penebangan masif dikhawatirkan mengganggu sagu karena tanaman itu tumbuh lambat dan butuh waktu panjang untuk pulih kembali dengan aman dan adil.
Perjalanan Jenny menunjukkan sagu bukan masa lalu. Sagu adalah masa depan pangan, lingkungan, dan ekonomi Indonesia. Sagolicious menjadi catatan bahwa warisan Nusantara mampu berdaya saing global jika dijaga bersama secara berkelanjutan oleh pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dari hulu hilir.


