Gaya Hidup

BOSS 2026: Menkes Soroti Pentingnya Deteksi Dini Hadapi 474 Ribu Kasus Kanker Baru

×

BOSS 2026: Menkes Soroti Pentingnya Deteksi Dini Hadapi 474 Ribu Kasus Kanker Baru

Sebarkan artikel ini
"Satu Tahun SWICC Bogor Luncurkan 500 Skrining Kanker Gratis, Dukung One Stop Cancer Care".(Doc : SWICC)
"Satu Tahun SWICC Bogor Luncurkan 500 Skrining Kanker Gratis, Dukung One Stop Cancer Care".(Doc : SWICC)

SinarHarapan.id-Suasana berbeda terasa di Bogor Oncology Summit 2026. Perhelatan ini menjadi penanda perjalanan satu tahun Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC).

Forum ilmiah onkologi nasional ini mengusung tema penguatan akses layanan terpadu. Fokus utamanya adalah wilayah Bogor Raya dan daerah sekitarnya.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, hadir sebagai pembicara utama. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani kanker.

Menurutnya, deteksi dini menjadi kunci utama menekan angka kematian. Angka kematian akibat kanker di Indonesia masih terbilang tinggi.

"Menkes Budi Tekankan Skrining: Kunci Turunkan 283 Ribu Kematian Kanker di RI".(Doc : Red)
“Menkes Budi Tekankan Skrining: Kunci Turunkan 283 Ribu Kematian Kanker di RI”.(Doc : Red)

“Upaya promotif dan preventif harus diperkuat,” ujar Budi dalam sambutannya, Minggu (2/7). Ia mendorong perluasan akses skrining agar kanker terdeteksi lebih awal.

Presiden Director Sentra Medika Hospital Group, Dr. drg. Eddy Suharso, menyampaikan visinya. SWICC hadir sebagai pusat kanker terpadu di wilayah penyangga Jakarta.

“Kami mengusung konsep One Stop Cancer Care,” jelas Eddy penuh optimisme. Pasien dapat memperoleh layanan dari edukasi hingga terapi dalam satu sistem.

Baca juga : Gejala Sering Diabaikan, Kanker Endometrium Mengintai Perempuan Pascamenopause

Data Global Cancer Observatory 2024 menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Penderita kanker di Indonesia mencapai lebih dari 1,13 juta kasus.

Tercatat 474 ribu kasus baru dan 283 ribu kematian akibat kanker. Kondisi ini menuntut peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan.

Sebanyak 30 lebih dokter onkologi nasional turut hadir dalam simposium. Mereka berasal dari berbagai daerah, mulai dari Bali hingga Manado.

Dr. dr. M. Yadi Permana dan Dr. dr. Andhika Rachman menjadi pembicara utama. Dr. dr. Angela Giselvania juga turut memaparkan perkembangan terbaru penanganan kanker.

Para pakar membahas penanganan kanker payudara, paru, dan serviks. Kanker kolorektal hingga leukemia juga menjadi topik hangat dalam forum tersebut.

dr. Venita Eng dari Bali turut berbagi pengalaman klinisnya. Prof. dr. Linda W. A. Rotty dari Minahasa Utara juga ikut berkontribusi.

dr. Trinugroho Heri Fadjari dari Bandung melengkapi deretan pembicara. Kehadiran mereka memperkaya diskusi tentang penanganan kanker di Indonesia.

Ketua Panitia BOSS 2026, dr. Ronaningtyas Maharani, menjelaskan tujuan kegiatan. Forum ini bukan sekadar tempat berbagi ilmu pengetahuan.

Stronger in Awareness: SWICC Gencarkan Edukasi Deteksi Dini 5 Jenis Kanker di Bogor.(Doc : Red)
Stronger in Awareness: SWICC Gencarkan Edukasi Deteksi Dini 5 Jenis Kanker di Bogor.(Doc : Red)

“Kami ingin memperkuat jejaring antar tenaga medis,” ujar Ronaningtyas. Penanganan kanker harus semakin terstandarisasi dan berbasis ilmu terbaru.

SWICC juga menggelar program 500 skrining kanker gratis untuk masyarakat. Pemeriksaan mencakup kanker payudara, serviks, hati, dan kolorektal.

Kanker prostat juga menjadi bagian dari program skrining gratis ini. Langkah ini diambil untuk memperluas akses deteksi dini bagi masyarakat.

Kampanye “Stronger in Awareness, Together in Detection” pun digencarkan. Edukasi dilakukan melalui webinar nasional dan seminar kesehatan secara rutin.

Program ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat tentang pencegahan. Deteksi dini menjadi pesan utama yang terus disampaikan kepada publik.

SWICC merupakan pusat layanan kanker terpadu pertama di Bogor Raya. Wilayah Ciawi, Sukabumi, dan Depok juga turut merasakan manfaatnya.

Layanan diagnostik yang tersedia sangat beragam dan canggih. Mulai dari CT Scan, MRI, mammografi, hingga pemeriksaan berbasis genetik.

Terapi yang diberikan juga lengkap seperti bedah onkologi dan kemoterapi. Radioterapi, imunoterapi, dan terapi target juga tersedia di sini.

Pendekatan multidisiplin diterapkan dalam setiap penanganan pasien. Rencana terapi disesuaikan dengan jenis kanker dan stadium masing-masing.

Kondisi klinis setiap individu menjadi pertimbangan utama tim medis. Dengan begitu, pengobatan yang diberikan lebih personal dan efektif.

Ke depan, SWICC menargetkan penguatan jejaring layanan kanker. Peningkatan kesadaran masyarakat juga menjadi prioritas utama selanjutnya.

Deteksi dini yang lebih luas diharapkan mampu menekan kasus stadium lanjut. Harapan hidup pasien kanker di Bogor pun bisa meningkat signifikan.

Langkah kolaboratif ini menjadi pondasi baru bagi layanan onkologi. SWICC membuktikan bahwa akses layanan kesehatan adalah hak semua masyarakat.