SinarHarapan.id-Perempuan Muslim Indonesia hari ini hidup dalam ritme yang jauh berbeda dibanding dua dekade lalu. Mereka tidak lagi hanya berdiam di rumah. Mereka bekerja, berolahraga, memimpin rapat, tampil di panggung, dan menjalani berbagai peran sekaligus.
Hijab pun ikut bertransformasi mengikuti dinamika tersebut. Ia bukan lagi sekadar kewajiban syar’i yang dipenuhi tanpa banyak pilihan. Kini hijab menjadi bagian dari identitas, ekspresi diri, dan gaya hidup yang terus bergerak. Perubahan ini melahirkan sosok yang para pelaku industri sebut sebagai modern modest woman.
Perubahan besar itu tercermin dari angka. Indonesia memiliki populasi Muslim lebih dari 242 juta jiwa, atau sekitar 87 persen dari total penduduk.
Dari jumlah itu, sekitar 75 persen perempuan Muslim Indonesia kini mengenakan hijab. Angka ini melonjak drastis dari hanya lima persen pada akhir 1990-an. Hijab telah bergerak dari simbol minoritas menjadi mayoritas. Transformasi ini bukan sekadar fenomena sosial. Ia adalah kekuatan budaya dan ekonomi yang nyata.
Pasar global modest fashion diproyeksikan menembus US$433 miliar pada 2028. Indonesia bahkan dipercaya sebagai kiblat modest fashion dunia. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif menyatakan bahwa Singapura, Malaysia, dan Brunei melihat Indonesia sebagai rujukan tren fesyen.
Sejarah panjang hijab di Nusantara memberi konteks pada fenomena ini. Pada masa kolonial, pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan pernah mendorong perempuan memakai jilbab. Istrinya, Nyai Ahmad Dahlan, tampil dalam potret dengan jilbab yang menutupi rambut dan melilit kepala.
Pahlawan nasional Rangkayo Rasuna Said juga memakai jilbab khas Minangkabau bernama mudawarah pada 1930-an. Namun jumlah pemakainya masih sangat sedikit hingga 1980-an. Selama rentang 1930 sampai 1980-an, jilbab belum menjadi pilihan mayoritas perempuan Muslim Indonesia.
Orde Baru sempat memandang hijab sebagai ancaman politik. Melalui Surat Keputusan 052/C/Kep/D.82 tahun 1982, pemerintah melarang jilbab di sekolah negeri sekuler. Kebijakan ini justru memicu perlawanan dan menjadikan hijab simbol resistensi terhadap kontrol negara.
Pada 1991, melalui Surat Keputusan 100/C/Kep/D/1991, larangan itu dicabut karena Soeharto ingin meraih dukungan suara kaum Muslimin jelang pemilu. Sejak itulah penggunaan jilbab meluas. Ia berubah dari simbol perlawanan menjadi pakaian sehari-hari yang wajar dan diterima luas.

Era 2000-an membuka babak baru. Hijab segi empat dengan gaya ikat mulai populer. Media sosial lalu mempercepat penyebaran tren ini secara masif. Hijab turban, layering, dan pashmina dengan warna nyentrik menjadi favorit anak muda. Pada 2022 saja, pembelian hijab di Indonesia mencapai 1,02 miliar unit dengan transaksi senilai US$6,09 miliar atau Rp91,1 triliun. Angka ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pasar hijab terbesar di dunia. Setiap unit yang terjual bukan hanya transaksi dagang, melainkan cerminan pergeseran budaya.
Tren hijab 2025 pun semakin matang. Survei Islamic Fashion Institute menunjukkan 65 persen perempuan Muslim Indonesia lebih memilih hijab berbahan organik atau daur ulang. Gaya hijab instan dengan bahan premium seperti satin dan jersey semakin digemari.
Material breathable menjadi pilihan untuk aktivitas luar ruangan atau olahraga ringan. Warna netral seperti beige, mocha, dan pastel lembut tetap menjadi favorit karena mudah dipadukan. Hijab kini tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala, tetapi bagian penting dari perkembangan fesyen modern. Perempuan menginginkan hijab yang mampu mengikuti ritme hidup mereka yang cepat.
Kajian akademik mengonfirmasi pergeseran makna tersebut. Penelitian terhadap konsumen muda Muslim di Indonesia menemukan bahwa religiositas, kesadaran fesyen, dan pengaruh sosial sama-sama memiliki efek positif dan signifikan terhadap niat memakai hijab.
Studi lain menunjukkan bahwa gaya berpakaian, keunikan fesyen, dan konformitas berpengaruh positif terhadap konsumsi fesyen hijab. Artinya, perempuan muda memakai hijab bukan hanya karena kewajiban agama. Mereka juga termotivasi oleh estetika, identitas, dan penerimaan sosial. Hijab telah menjadi medium ekspresi yang kompleks dan berlapis.

Di tengah lanskap inilah UNIQLO Indonesia mengambil langkah strategis. Setelah bertahun-tahun menghadirkan produk modest-friendly seperti ciput dan manset, jenama asal Jepang itu resmi meluncurkan kategori UNIQLO Hijab pada 10 Agustus 2026. Koleksi perdana ini terdiri atas tiga karakter material berbeda: Hijab AIRism Proteksi Sinar UV, Hijab Satin, dan Hijab Georgette. Masing-masing dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik perempuan berhijab yang kian dinamis. Peluncurannya menandai babak baru perjalanan UNIQLO dalam membangun ekosistem LifeWear yang inklusif bagi perempuan Muslim Indonesia.
Lisqia Lalantika, Marketing Manager UNIQLO Indonesia, menegaskan bahwa kebutuhan setiap perempuan terhadap hijab tidak pernah sama. “Kami menyadari bahwa kebutuhan setiap perempuan terhadap hijab tidak pernah sama, tergantung pada aktivitas, gaya hidup, dan preferensi masing-masing,” ujarnya dalam acara peluncuran di Jakarta.
Masukan pelanggan dari Indonesia dan Malaysia menjadi pijakan pengembangan koleksi ini. Pendekatan berbasis kebutuhan nyata inilah yang membuat UNIQLO Hijab berbeda dari sekadar produk komersial biasa. Ia lahir dari pemahaman mendalam terhadap cara perempuan bergerak, bekerja, dan mengekspresikan diri.
Ketiga koleksi hadir dengan karakter yang saling melengkapi. Hijab AIRism Proteksi Sinar UV mengusung bahan berteknologi AIRism yang ringan, breathable, stretchy, dan quick-drying. Tersedia dalam bentuk segitiga instan dengan delapan pilihan warna. Hijab Satin tampil sebagai pashmina dengan kilau lembut dan siluet anggun, hadir dalam enam warna.
Sementara Hijab Georgette menawarkan material ringan dengan drape natural yang mudah dibentuk, tersedia dalam 12 pilihan warna. Total 26 varian warna mencerminkan keleluasaan bagi setiap perempuan untuk memilih sesuai preferensi. Seluruh produk dibanderol Rp199.000 dan dapat dicuci dengan mesin cuci.
UNIQLO juga menggandeng tiga perempuan inspiratif untuk memperlihatkan bagaimana setiap karakter material menemani kebutuhan yang berbeda. Ayudia Bing Slamet, yang menjalani peran sebagai ibu, entrepreneur, dan content creator, memilih Hijab Georgette. “Dalam satu hari aku bisa menjalani banyak peran. Buatku, hijab yang nyaman bukan lagi sekadar pelengkap penampilan, tapi sesuatu yang benar-benar mendukung aktivitas,” tuturnya. Sivia, penyanyi dan penulis lagu, menemukan kecocokan dengan Hijab Satin. Ia bahkan tak perlu lagi menggunakan fashion tape atau jarum pentul saat tampil di panggung.
Tantri Namirah, yang mengaku penggemar hijab instan, menjajal Hijab AIRism untuk main tenis, menjemput anak, hingga kelas hot mat pilates. “Aku keringetan banget, tapi hijabku tetap aman,” katanya. Ketiga cerita ini menunjukkan bahwa tidak ada satu cara tunggal dalam memaknai hijab. Setiap perempuan memiliki definisi kenyamanan dan ekspresi diri yang berbeda.
Kehadiran UNIQLO Hijab menegaskan posisi jenama ini dalam ekosistem modest fashion Indonesia. Ia hadir dengan pendekatan khas LifeWear yang mengutamakan kualitas, fungsi, kenyamanan, dan relevansi dengan kehidupan sehari-hari. “LifeWear bukan hanya tentang pakaian, tetapi tentang membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih baik,” tutup Lisqia.


