Gaya Hidup

Dokter Spesialis Mata Ungkap Bahaya di Balik Kelopak Mata yang Sering Diabaikan

×

Dokter Spesialis Mata Ungkap Bahaya di Balik Kelopak Mata yang Sering Diabaikan

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Kelopak mata kerap dipandang sebagai elemen estetika wajah semata. Padahal, lipatan kulit tipis yang berfungsi melindungi bola mata ini menyimpan risiko gangguan serius yang dapat mengancam penglihatan jika tidak ditangani dengan tepat.

Dokter Spesialis Mata RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Tri Wahyu, Sp. M, mengungkapkan bahwa gangguan kelopak mata tidak selalu berkaitan dengan penampilan. Berbagai kondisi seperti kelainan bawaan, infeksi, hingga tumor ganas dapat terjadi dan memicu komplikasi berat.(3/6)

“Kelopak mata yang sehat adalah kelopak mata yang berfungsi dengan baik. Deteksi dini dan penanganan tepat memberikan hasil optimal, baik dari segi fungsi maupun estetika,” demikian penjelasan dr. Tri Wahyu.

Salah satu kondisi yang sering ditemukan pada anak-anak dan orang dewasa keturunan Asia Timur adalah epiblefaron. Kelainan bawaan ini terjadi akibat kelebihan lipatan kulit dan otot pada kelopak mata bagian bawah yang mendorong bulu mata ke arah dalam. Gesekan bulu mata terhadap kornea dapat menyebabkan iritasi, erosi, bahkan infeksi kornea.

Selain itu, dr. Tri Wahyu juga menyoroti ptosis atau kelopak mata turun. Kondisi ini membuat mata terlihat sayu dan mengantuk, namun bahayanya lebih dari sekadar penampilan. Ptosis dapat menghalangi sebagian atau seluruh bola mata sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari seperti membaca dan berkendara. Gangguan ini bisa terjadi pada satu maupun kedua mata dengan tingkat keparahan yang berbeda.

Yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah Thyroid Eye Disease (TED). Penyakit autoimun yang berkaitan erat dengan hipertiroidisme ini menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada otot serta jaringan lemak di sekitar bola mata. Data menunjukkan TED terjadi pada 19 per 100.000 orang setiap tahunnya. Sekitar 90 persen pasien TED memiliki kondisi hipertiroid, sementara 50 persen pasien hipertiroid mengalami TED. Perempuan memiliki risiko lima kali lebih besar dibandingkan laki-laki. Gejalanya meliputi mata tampak menonjol, kelopak mata bengkak, hingga mata juling.

Terkait benjolan di kelopak mata, dr. Tri Wahyu menegaskan bahwa tidak semuanya merupakan tanda kanker. Sebagian besar disebabkan oleh infeksi atau penyumbatan kelenjar minyak, seperti bintitan (hordeolum) dan kalazion. Namun, kewaspadaan harus ditingkatkan jika benjolan tidak kunjung hilang, terus membesar, atau sering kambuh, karena bisa mengarah pada tumor ganas seperti karsinoma sebasea.

Mengingat keberagaman penyebab tersebut, mulai dari faktor bawaan lahir, proses penuaan, trauma, hingga penyakit autoimun, setiap keluhan pada kelopak mata memerlukan evaluasi medis yang tepat. Tidak semua gangguan memerlukan tindakan pembedahan. Beberapa kondisi dapat membaik dengan obat-obatan, kompres hangat, atau observasi. Pembedahan baru dipertimbangkan jika gangguan menyebabkan keluhan menetap, mengganggu penglihatan, atau dicurigai sebagai tumor.