Internasional

Dubes UEA Ungkap Peluang Besar Kerja Sama RI–UEA

×

Dubes UEA Ungkap Peluang Besar Kerja Sama RI–UEA

Sebarkan artikel ini

Memasuki 50 tahun hubungan diplomatik pada 2026, Indonesia dan Uni Emirat Arab memperluas kerja sama perdagangan, investasi, energi terbarukan, pelestarian lingkungan, dan teknologi digital.

Duta Besar UEA untuk Indonesia dan Timor-Leste, H.E. Abdulla Salem AlDhaheri, dalam kuliah umum President University Ambassador Lecture (PUAL) di President University, Kamis, 8 Oktober 2026. (Foto: UAE Embassy)

Sinar Harapan.id – Uni Emirat Arab (UEA) dan Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas kemitraan strategis di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, energi terbarukan, pelestarian lingkungan, hingga teknologi dan ekonomi digital. Penguatan kerja sama tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan hubungan diplomatik kedua negara yang memasuki usia 50 tahun pada 2026.

Hal tersebut disampaikan Duta Besar UEA untuk Indonesia dan Timor-Leste, H.E. Abdulla Salem AlDhaheri, dalam kuliah umum President University Ambassador Lecture (PUAL) di President University, Kamis, 8 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa hubungan bilateral kedua negara terus berkembang menjadi semakin luas, beragam, dan saling menguntungkan.

Menurut AlDhaheri, hubungan UEA–Indonesia tidak hanya bertumpu pada kerja sama antarpemerintah, tetapi juga mencakup hubungan antarpemimpin, kemitraan dunia usaha, peningkatan perdagangan, serta kerja sama pembangunan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Ia menilai generasi muda Indonesia memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan tersebut, khususnya melalui pendidikan, kewirausahaan, teknologi, investasi, dan konektivitas antarmasyarakat.

Dalam bidang ekonomi, salah satu tonggak penting hubungan kedua negara adalah berlakunya Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) sejak 1 September 2023. Perjanjian yang ditandatangani pada 1 Juli 2022 tersebut bertujuan mengurangi hambatan perdagangan, memperluas akses pasar, dan meningkatkan arus perdagangan bilateral.

Dampak positifnya terlihat pada peningkatan perdagangan barang nonmigas kedua negara yang tumbuh dari US$1,92 miliar pada 2020 menjadi US$5,84 miliar pada 2025, atau meningkat sekitar 204,2 persen. Angka tersebut mencerminkan semakin besarnya peluang bagi pelaku usaha Indonesia dan UEA untuk memperluas pasar dan membangun kemitraan baru.

Kerja sama kedua negara juga berkembang di sektor energi. Salah satu proyek unggulan adalah pembangkit listrik tenaga surya terapung Cirata di Jawa Barat, yang dikembangkan melalui kerja sama Masdar dan PLN Nusantara Power. Pembangkit berkapasitas 145 megawatt AC tersebut diresmikan pada November 2023 dan menjadi salah satu contoh konkret kolaborasi kedua negara dalam mendukung transisi energi.

Kemitraan energi juga mencakup pengembangan panas bumi, eksplorasi gas alam, serta peluang pengembangan energi terbarukan di Ibu Kota Nusantara. Masdar dan PLN Nusantara Power turut menjajaki perluasan kapasitas Cirata hingga 500 megawatt dan pengembangan proyek tenaga surya terapung di Bendungan Jatigede, Jawa Barat.

Di bidang lingkungan, UEA dan Indonesia bersama-sama meluncurkan Mangrove Alliance for Climate pada COP27 tahun 2022. Aliansi tersebut telah berkembang menjadi 47 negara, dengan kedua negara terus memimpin upaya kerja sama pelestarian dan rehabilitasi mangrove.

Kemitraan lingkungan lainnya diwujudkan melalui pembangunan Mohamed bin Zayed–Joko Widodo International Mangrove Research Centre di Bali, yang didukung komitmen pendanaan UEA sebesar US$10 juta, serta inisiatif Clean Rivers dengan komitmen US$20 juta untuk membantu mengatasi pencemaran plastik dan mencegah sampah masuk ke sungai serta ekosistem laut di Indonesia.

AlDhaheri juga menyoroti pentingnya kerja sama di bidang air dan sanitasi. Setelah Indonesia menjadi tuan rumah World Water Forum ke-10 di Bali pada 2024, UEA bersama Senegal dijadwalkan menjadi tuan rumah Konferensi Air Perserikatan Bangsa-Bangsa 2026 di Abu Dhabi pada 8–10 Desember. Menurutnya, tantangan air membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga penelitian, dan sektor teknologi untuk menghasilkan solusi yang berkelanjutan.

Di luar kerja sama sektoral, hubungan kedua negara juga diperkuat oleh kedekatan antarpemimpin. Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto melanjutkan hubungan erat yang sebelumnya dibangun bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Menutup kuliahnya, AlDhaheri menegaskan komitmen UEA untuk terus mendukung inisiatif yang memperluas kolaborasi dan membuka peluang baru bagi kedua negara.

“UEA tidak hanya berinvestasi pada proyek, tetapi juga pada kemitraan; tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada manusia; dan tidak hanya pada masa kini, tetapi juga pada masa depan bersama kedua bangsa,” demikian pesan yang disampaikan dalam kuliah umum tersebut.