SinarHarapan.id – Di lereng Gunung Agung, Bali, pagi tidak hanya diawali cahaya matahari. Denting lonceng dari Pura Kancing Gumi mengalun pelan, menyatu dengan doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan alam semesta. Di ketinggian itu, masyarakat tidak sekadar berdoa—mereka bergerak, merawat, dan memulihkan.
Di kawasan Hutan Mahawana Basuki Besakih, kesadaran tumbuh: menjaga alam adalah jalan menjaga kehidupan. Dari ruang sakral inilah sebuah perubahan dimulai, ketika upaya pelestarian tidak lagi menjadi wacana, melainkan tindakan nyata yang menyentuh akar kehidupan warga.
Melalui program Hutan Lestari, Pertamina hadir dengan pendekatan yang tidak hanya ekologis, tetapi juga kultural. Filosofi Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam—menjadi napas dari setiap langkah. Reforestasi yang dilakukan pasca-erupsi Gunung Agung 2017 kini menjelma menjadi sumber kehidupan baru, menghidupkan kembali lanskap sekaligus harapan.
Bagi I Nyoman Artana, menjaga Besakih bukan sekadar tugas, melainkan panggilan. Ia menyebut kawasan ini sebagai hulunya Bali—tempat di mana keseimbangan dimulai.
“Mengelola lingkungan harus dimulai dari hulu. Jika lokasi ini tidak dipelihara dengan baik, Bali akan rentan terhadap bencana dan perubahan iklim,” ujarnya.
Dari tangan-tangan masyarakat yang kini teredukasi, hutan kembali bernyawa. Lebah-lebah kelanceng menghasilkan madu berkualitas tinggi, sementara wisata alam tumbuh menjadi sumber penghidupan. Dalam sebulan, perputaran ekonomi mencapai ratusan juta rupiah, membuka ruang kerja dan martabat bagi warga.
Cerita serupa bergema jauh di Lampung. Di Ulubelu, Wastoyo pernah hidup dari menebang hutan. Kini, ia berdiri di sisi yang berbeda—sebagai penjaga. Transformasi itu tidak terjadi seketika, melainkan melalui proses belajar dan pendampingan dalam Sekolah Hutan Lestari.
“Dulu, menebang pohon adalah cara instan kami untuk menyambung hidup karena ketidaktahuan. Kami terjebak dalam siklus perusakan demi sesuap nasi,” kenang Wastoyo.
Bersama kelompok Margo Rukun, ia dan warga lain menanam puluhan ribu pohon produktif. Mereka juga mengolah limbah kopi menjadi pupuk organik, membangun siklus ekonomi yang berkelanjutan. Dari hutan yang dulu terancam, kini lahir usaha bernilai miliaran rupiah setiap tahun. Lebih dari itu, lahir kesadaran baru: bahwa hutan bukan untuk dieksploitasi, melainkan dirawat sebagai sumber kehidupan jangka panjang.
Di pesisir selatan Jawa, kisah lain tumbuh dari keteguhan seorang Wahyono di Kampung Laut, Cilacap. Pernah dianggap “gila” karena menanam mangrove di lahan rusak, ia justru membuktikan bahwa keyakinan bisa mengubah keadaan.
“Dulu semuanya gersang, namun, saya yakin mangrove adalah ‘pabrik’ alami kita, kini, keraguan warga sirna,” ujarnya.
Dari kawasan yang tandus, kini berdiri ekosistem mangrove yang hidup dan produktif. Setiap tahun, ratusan ribu bibit mangrove dihasilkan dari pembibitan mandiri. Kawasan tersebut bertransformasi menjadi pusat eduwisata yang menarik perhatian hingga peneliti mancanegara.
Dengan haru, Wahyono menutup kisahnya:
“Dulu mereka bilang saya gila, sekarang kita ‘gila’ bersama-sama untuk menjaga hutan demi masa depan anak cucu.”
Ketiga kisah ini memperlihatkan satu benang merah: perubahan selalu dimulai dari kesadaran, lalu diperkuat oleh kolaborasi. Pertamina, melalui program Hutan Lestari, berupaya merajut keduanya—menghubungkan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi.
Hingga kini, lebih dari delapan juta pohon telah ditanam, mencakup tanaman produktif dan mangrove. Program ini tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat melalui edukasi, pendampingan, dan inovasi ekonomi berbasis alam.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa menjaga hutan hari ini adalah investasi bagi masa depan bangsa.
“Pertamina membuktikan bahwa menjaga energi bumi bisa sejalan dengan menghidupkan kemandirian masyarakat, hutan tidak lagi hanya dijaga agar tidak rusak, tapi dirawat agar terus memberi kehidupan,” ujarnya.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kisah-kisah dari Bali, Lampung, dan Cilacap memberi pesan sederhana namun kuat: ketika manusia kembali bersahabat dengan alam, kehidupan menemukan jalannya.
Hutan tidak lagi sekadar ruang hijau yang dijaga dari kerusakan. Ia menjadi ruang hidup yang dirawat, ditumbuhkan, dan diwariskan—sebagai harapan bagi generasi yang akan datang.










