Gaya Hidup

Ketika Adrenalin MotoGP Bertemu Gaya Hidup: Kisah di Balik Kolaborasi Police dan Enea Bastianini

×

Ketika Adrenalin MotoGP Bertemu Gaya Hidup: Kisah di Balik Kolaborasi Police dan Enea Bastianini

Sebarkan artikel ini
Dari Paddock Mandalika ke Etalase Optik: Mengapa Police Pilih "The Beast" dan Bukan yang Lain.(Doc : Red)
Dari Paddock Mandalika ke Etalase Optik: Mengapa Police Pilih "The Beast" dan Bukan yang Lain.(Doc : Red)

SinarHarapan.id-Nama Enea Bastianini bergema di paddock Mandalika. Pembalap Red Bull KTM Tech3 itu bukan hanya soal kecepatan. Di balik helm, ia menyimpan pesona lain. Gaya hidupnya yang tegas namun sederhana menarik perhatian raksasa eyewear Italia, Police.

Kolaborasi ini bukan sekadar kontrak biasa. De Rigo Group, induk Police, resmi mengumumkan Bastianini sebagai brand ambassador menjelang MotoGP Mandalika 2026. Kemitraan ini berlangsung hingga 2027. Sebuah langkah berani di tengah pasar yang dinamis.

“Enea merepresentasikan dengan sempurna karakter dan target konsumen kami,” ujar Valentina Oliver, Regional Marketing Manager APAC De Rigo.(6/10) Ia melihat dualisme menarik dari pembalap berusia 29 tahun itu. Julukan “The Beast” di lintasan, namun hangat di luar balapan.

De Rigo memang bukan pemain kemarin sore. Berdiri sejak 1978, grup ini kini mendistribusikan produk ke lebih dari 100 negara. Police, lahir 1983, telah menjadi ikon gaya hidup global. Bukan sekadar kacamata, melainkan simbol keberanian dan karakter.

Valentina Oliver, Regional Marketing Manager APAC De Rigo.(Doc : Red)
Valentina Oliver, Regional Marketing Manager APAC De Rigo.(Doc : Red)

Warisan Empat Dekade Police — Dari Lensa Cermin Biru hingga Ikon Gaya Hidup Global

Police bukan sekadar merek kacamata. Ia lahir tahun 1983 dari intuisi De Rigo bersaudara di Limana, Belluno, Italia. Saat itu, mereka memutuskan menciptakan lini kacamata desainer sendiri, membawa ide-ide dunia mode ke pasar sunglasses dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Nama Police sengaja dipilih untuk membangkitkan gaya hidup “on the road” Amerika dan semangat urban kota metropolitan. Identitasnya tegas: untuk mereka yang ingin tampil menonjol, berani, dan tak mau mengikuti aturan. Karakter ini terbangun sejak koleksi eyewear pertama meluncur dan langsung menuai sukses.

Terobosan ikonik datang pada era 1990-an. Police menjadi yang pertama memperkenalkan lensa cermin biru (blue mirrored lenses) yang seketika menjadi tren global. Warna biru kemudian menjadi elemen khas yang diadopsi ke seluruh kategori aksesori Police hingga koleksi terkini.

Baca juga : Sambut MotoGP Mandalika 2026, Aspira Hadirkan Dua Pembalap Gresini Racing

Simbol elang (eagle) menjadi identitas visual paling kuat. Elang merepresentasikan kebebasan dan keberanian, direinterpretasi dari generasi ke generasi tanpa kehilangan esensinya. Selain elang, huruf Gothic “P” dan tengkorak menjadi ciri khas lain yang memperkuat karakter maskulin Police.

Ekspansi Police tak berhenti di eyewear. Tahun 1997, parfum pria dan wanita pertama diluncurkan. Kesuksesan itu membuka jalan bagi kolaborasi lintas sektor: jam tangan (2003), perhiasan (2005), kulit kecil (2011), hingga pakaian. Police menjelma menjadi merek gaya hidup utuh, bukan sekadar produsen kacamata.

Wajah-wajah Hollywood kelas atas pernah menjadi wajah Police. Bruce Willis, George Clooney, dan Antonio Banderas tercatat dalam deretan kampanye iklan bergengsi. Prestise ini menegaskan posisi Police di jajaran atas pasar eyewear premium global.

De Rigo — Raksasa di Balik Layar dengan Jangkauan 100 Negara

De Rigo Group didirikan tahun 1978 oleh Ennio dan Giorgio De Rigo di Veneto, Italia. Kini, grup ini menjelma menjadi pemimpin dunia dalam desain, produksi, dan distribusi frame resep serta sunglasses. Police adalah merek rumah pertama yang mereka ciptakan, dan tetap menjadi mahkota portofolio hingga kini.

Jejak distribusi De Rigo sangat luas. Police hadir di lebih dari 100 negara dengan jaringan distribusi yang menjangkau berbagai kategori produk. Eropa tetap menjadi pasar utama, dengan Italia, Prancis, Jerman, Spanyol, Inggris, dan Portugal sebagai penggerak penjualan terbesar.

Valentina Olivier mengungkapkan, Asia menjadi wilayah ekspansi paling agresif. Jepang menempati posisi terdepan, diikuti India, Korea, Indonesia, dan China. Timur Tengah juga menunjukkan performa kuat, terutama Uni Emirat Arab. Amerika Serikat mencatat pertumbuhan distribusi dan penjualan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Kinerja finansial De Rigo Vision pada 2025 mencerminkan ketahanan di tengah ketidakpastian global. Pendapatan konsolidasi tercatat €520,1 juta, turun 3,4 persen dari €538,3 juta pada 2024. Namun di Eropa, pendapatan justru tumbuh 1,7 persen menjadi €414,8 juta, didorong Inggris, Italia, Spanyol, dan Turki.

Kanal retail menunjukkan performa positif. Penjualan retail mencapai €266,6 juta, naik 2,5 persen year-on-year. Di sisi lain, kanal wholesale turun 8,7 persen menjadi €268,1 juta akibat volatilitas nilai tukar dan dinamika pasar global.

Laba bersih tercatat €29,4 juta, turun dari €36,9 juta pada 2024. Meski demikian, posisi keuangan bersih tetap positif €57,0 juta, naik dari €32,9 juta pada tahun sebelumnya. Disiplin pengelolaan modal kerja dan generasi kas yang kuat menjadi fondasi ketahanan grup.

Pasar Eyewear Global, ASEAN, dan Indonesia — Peluang Emas di Tengah Premiumisasi

Pasar eyewear global terus bertumbuh, didorong pergeseran dari fungsi koreksi penglihatan menuju ekspresi gaya hidup. Segmen sunglasses menunjukkan performa istimewa dengan pertumbuhan 5,1 persen pada 2026. Premiumisasi menjadi mesin utama, dengan konsumen bergeser dari fungsi dasar menuju pernyataan identitas diri.

Asia Tenggara adalah salah satu pasar paling dinamis. Redseer mencatat nilai pasar eyewear ASEAN mencapai USD7,4 miliar pada 2025 dan diproyeksikan melonjak menjadi USD10,6 miliar pada 2030. Pertumbuhan 7 persen per tahun ini menjadikan kawasan ini magnet bagi pemain global.

Indonesia memainkan peran sentral dalam lanskap ASEAN. Euromonitor memproyeksikan pertumbuhan nilai ritel eyewear nasional mencapai 6 persen pada 2026, melampaui ekspansi volume yang moderat. Sinyal premiumisasi kuat, didukung kenaikan pendapatan disposabel dan pertumbuhan populasi.

Kesenjangan besar masih membentang di ASEAN. Hampir 65 persen populasi membutuhkan koreksi penglihatan, namun hanya 40 persen yang memakai kacamata resep. Kesenjangan ini menjadi peluang emas bagi pemain seperti Police untuk memperluas penetrasi pasar di segmen yang belum tergarap optimal.

Transformasi perilaku konsumen menjadi katalis. Digitalisasi mengubah cara konsumen menemukan produk, membentuk preferensi merek, dan mempercepat frekuensi pembelian, khususnya di kategori eyewear gaya hidup. Organized retail tumbuh 2-3 kali lebih cepat dari kanal unorganized, menandakan formalisasi pasar yang terus berlangsung.

Dari Paddock Mandalika ke Etalase Optik: Mengapa Police Pilih "The Beast" dan Bukan yang Lain.(Doc : Red)
Dari Paddock Mandalika ke Etalase Optik: Mengapa Police Pilih “The Beast” dan Bukan yang Lain.(Doc : Red)

Koleksi Police Bastianini: SPLU77, SPLU78, dan SPLU79

Koleksi Police Unlocked menjadi inti kolaborasi ini. Simbol elang ditransformasi menjadi arsitektur kacamata. Detail logam di engsel menyerupai kepakan sayap terbuka. Tiga model menjadi pilihan Bastianini: SPLU77, SPLU78, dan SPLU79.

SPLU77 tampil tegas dengan bentuk rectangular dan material acetate. Cocok bagi mereka yang menginginkan tampilan maskulin tanpa kompromi.

Sementara SPLU78 menawarkan sentuhan urban modern. Struktur titanium ringan memberikan kenyamanan ekstra.

SPLU79 menjadi puncak ekspresi. Bentuk geometrisnya memancarkan karakter fashion kuat. Dirancang bagi mereka yang berani tampil beda. Ketiga model ini dibanderol mulai Rp4 jutaan. Diproduksi terbatas, menambah eksklusivitasnya.

Keunggulan produk ini bukan hanya pada desain. Kacamata Police Unlocked dirancang dengan international dan Asian fitting. Disesuaikan khusus agar nyaman digunakan di iklim tropis seperti Indonesia. Detail ini menunjukkan keseriusan Police memahami pasar lokal.

Target Police jelas: memperkuat posisi di ranah sport-lifestyle. Kolaborasi dengan Bastianini menjadi jembatan antara adrenalin lintasan dan ekspresi gaya hidup. Kecepatan bertemu gaya, performa diterjemahkan menjadi ekspresi diri.

Bastianini dan GP Mandalika

Bastianini datang ke Mandalika dengan modal berharga. Posisi keempat di Motegi menjadi hasil terbaiknya musim ini. Ia mengoleksi 116 poin dan bercokol di peringkat 11 klasemen sementara. Momentum positif ini sayang untuk disia-siakan.

Namun Mandalika bukan lintasan ramah baginya. Sejak sirkuit ini masuk kalender pada 2022, Bastianini belum pernah podium. Hasil terbaiknya hanya posisi delapan pada 2023. Dua balapan terakhir justru berakhir dengan gagal finis.

Sejarah mencatat pemenang di Mandalika silih berganti. Miguel Oliveira pada 2022, Pecco Bagnaia pada 2023, Jorge Martin pada 2024, dan Fermin Aldeguer pada 2025. Bastianini bertekad memutus tren negatif dan menorehkan namanya di daftar elite.

Sepanjang 2026, Bastianini akan tampil bersama Police dalam berbagai aktivitas. Mulai dari paddock MotoGP di berbagai negara hingga acara lifestyle di luar lintasan. Strategi omnichannel menjadi kunci menjangkau konsumen muda.

Giorgio Pratadaja, Direktur PT INTIKATAMA.(Doc : Red)
Giorgio Pratadaja, Direktur PT INTIKATAMA.(Doc : Red)

Giorgio Pratadaja, Direktur PT INTIKATAMA, mengatakan tidak menutup kemungkinan, Police akan menggandeng figur lokal Indonesia di masa mendatang. Jejak kolaborasi dengan Chicco Jerikho beberapa tahun lalu menjadi preseden. Pasar Indonesia terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.

Bagi De Rigo, langkah ini adalah investasi jangka panjang. Dengan pendapatan grup mencapai 520,1 juta euro pada 2025, ekspansi ke Asia menjadi prioritas. Police menyumbang porsi signifikan dari bisnis tersebut.

Bastianini bukan sekadar wajah. Ia adalah narasi hidup yang selaras dengan DNA Police. Keberanian, presisi, dan kebebasan mengekspresikan diri. Nilai-nilai yang tertanam dalam setiap frame kacamata yang ia pilih.

Mandalika akan menjadi panggung pertama kolaborasi ini bersinar. Di tengah terik Lombok, Bastianini akan berlomba. Di luar lintasan, kacamata Police Unlocked menjadi simbol perjalanan barunya. Sebuah babak anyar telah dimulai.

Bukan Sekadar Endorse: Rahasia di Balik Kacamata Limited Edition Enea Bastianini yang Laris Manis.(Doc : Red)
Bukan Sekadar Endorse: Rahasia di Balik Kacamata Limited Edition Enea Bastianini yang Laris Manis.(Doc : Red)

Pasar menanti dengan antusias. Penggemar MotoGP di Indonesia menjadi target utama. Dengan basis penggemar yang masif, kolaborasi ini berpotensi mengubah lanskap pasar eyewear nasional. Police siap mengudara lebih tinggi.

Ini bukan akhir dari cerita. Ini adalah awal dari era baru. Era di mana lintasan balap dan etalase optik menjadi satu kesatuan. Enea Bastianini dan Police membuktikan bahwa kecepatan bisa berjalan seiring dengan gaya.

Kacamata kini bukan lagi sekadar alat bantu penglihatan. Ia telah bertransformasi menjadi kategori gaya hidup yang memadukan kesehatan dan mode. Inilah celah yang coba dimanfaatkan Police melalui kolaborasi dengan sosok seperti Bastianini: menjadikan kacamata sebagai pernyataan karakter, bukan sekadar kebutuhan fungsional.