SinarHarapan.id-Perempuan Muslim Indonesia hari ini hidup dalam ritme yang jauh berbeda dibanding dua dekade lalu. Mereka tidak lagi hanya berdiam di rumah. Mereka bekerja, berolahraga, memimpin rapat, tampil di panggung, dan menjalani berbagai peran sekaligus.
Hijab pun ikut bertransformasi mengikuti dinamika tersebut. Ia bukan lagi sekadar kewajiban syar’i yang dipenuhi tanpa banyak pilihan. Kini hijab menjadi bagian dari identitas, ekspresi diri, dan gaya hidup yang terus bergerak. Perubahan ini melahirkan sosok yang para pelaku industri sebut sebagai modern modest woman.
Perubahan besar itu tercermin dari angka. Indonesia memiliki populasi Muslim lebih dari 242 juta jiwa, atau sekitar 87 persen dari total penduduk.
Dari jumlah itu, sekitar 75 persen perempuan Muslim Indonesia kini mengenakan hijab. Angka ini melonjak drastis dari hanya lima persen pada akhir 1990-an. Hijab telah bergerak dari simbol minoritas menjadi mayoritas. Transformasi ini bukan sekadar fenomena sosial. Ia adalah kekuatan budaya dan ekonomi yang nyata.
Pada awal Agustus 2026, UNIQLO Indonesia untuk pertama kalinya memperkenalkan kategori Hijab dalam lini produk LifeWear mereka. Koleksi ini resmi dijual mulai 10 Agustus 2026 di seluruh toko, aplikasi, dan situs resmi UNIQLO Indonesia.
Evolusi Modest Fashion dari Masa ke Masa
Perjalanan hijab di Indonesia menempuh sejarah panjang yang penuh liku. Jilbab pertama kali dipakai oleh muslimah bangsawan dari Makassar, Sulawesi Selatan, pada abad ke-17. Pada masa itu, Makassar merupakan pusat kerajaan Islam Gowa-Tallo yang berhubungan erat dengan kerajaan Islam lainnya di Nusantara dan Timur Tengah.
Memasuki era 1980-an, muslimah yang mengenakan hijab masih bisa dihitung jari. Mereka memakai penutup kepala dari kepala hingga ke dada dengan gaya yang sangat sederhana. Hijab saat itu dipandang kuno dan kolot, jauh dari citra modern yang kita kenal sekarang.
Memasuki awal tahun 90-an, perkembangan gaya hijab di Indonesia mengalami peningkatan. Anggapan kuno atau negatif perlahan-lahan berangsur menghilang. Hijab mulai diterima oleh masyarakat dan mulai menjadi bagian tren fashion Indonesia.
Tahun 2000-an menjadi awal perkembangan hijab modern. Gaya hijab ikat dan hijab instan mulai banyak dikenal dan digunakan oleh para artis tanah air, yang kemudian ditiru oleh masyarakat luas.
Pada tahun 2010, 30 orang Muslimah di Jakarta membentuk sebuah komunitas khusus Muslimah yang diberi nama Hijabers Community. Komunitas ini berusaha memperkenalkan kepada masyarakat cara mengenakan hijab secara trendy.
Setelah Reformasi, kebebasan sipil membuka ruang bagi kebangkitan jilbab. Kini, sekitar 75 persen perempuan Muslim Indonesia mengenakan hijab, melonjak drastis dari hanya 5 persen pada akhir 1990-an. Transformasi ini menjadikan hijab menjadikannya bagian yang tak terpisahkan.
Baca juga :UNIQLO Buka Gerai ke-78 di Plaza Indonesia, Gandeng ESMOD untuk Gaungkan Mode Berkelanjutan
Pasar Modest Fashion yang Bergerak Cepat
Nilai pasar modest fashion Indonesia ditaksir mencapai Rp 300 triliun per tahun. Indonesia memiliki potensi signifikan menjadi pusat produksi modest fast fashion untuk pasar domestik maupun global. Angka ini mencerminkan kekuatan konsumsi perempuan berhijab di negeri ini.
Data pemerintah menunjukkan konsumsi fesyen Muslim Indonesia bernilai sekitar US$20 miliar dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata 18,2 persen. Indonesia belum menjadi eksportir utama modest fashion global, pasar yang masih didominasi Turki, China, dan India.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor modest fesyen pada periode Januari-Oktober 2025 mencapai US$7,1 miliar atau naik 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini menunjukkan industri modest fashion Indonesia terus bergerak maju.
Secara global, konsumsi fesyen Muslim menyentuh US$347 miliar pada 2024 dan diproyeksikan naik menjadi US$444 miliar pada 2029. Laporan State of the Global Islamic Economy Report 2024-2025 menempatkan Indonesia di peringkat pertama dunia dalam sektor modest fashion dengan skor 106,5.
Kementerian Perindustrian mencatat industri kecil pakaian jadi mencapai 594.000 unit usaha dengan serapan tenaga kerja menembus 1,2 juta orang. Ini ekosistem raksasa yang menopang ekonomi nasional dan menghidupi jutaan keluarga.
Di tengah lanskap inilah UNIQLO Indonesia mengambil langkah strategis. Setelah bertahun-tahun menghadirkan produk modest-friendly seperti ciput dan manset, jenama asal Jepang itu resmi meluncurkan kategori UNIQLO Hijab.
Koleksi perdana ini terdiri atas tiga karakter material berbeda: Hijab AIRism Proteksi Sinar UV, Hijab Satin, dan Hijab Georgette. Masing-masing dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik perempuan berhijab yang kian dinamis. Peluncurannya menandai babak baru perjalanan UNIQLO dalam membangun ekosistem LifeWear yang inklusif bagi perempuan Muslim Indonesia.

Tiga Karakter, Satu Filosofi
UNIQLO Hijab hadir dalam tiga varian dengan karakter material berbeda. Hijab AIRism Proteksi Sinar UV berbentuk segitiga instan tersedia delapan warna. Hijab Satin pashmina enam warna, dan Hijab Georgette pashmina dua belas warna.
Pendekatan ini mencerminkan filosofi LifeWear yang diperkenalkan UNIQLO pada 2013. LifeWear bukan tentang mengikuti tren, melainkan menciptakan pakaian sederhana dan berkualitas tinggi yang membuat kehidupan sehari-hari pemakainya menjadi lebih baik.
AIRism: Jawaban untuk Perempuan Aktif

Varian pertama yang diperkenalkan UNIQLO adalah Hijab AIRism Proteksi Sinar UV. Bentuknya segitiga instan dan dijual dalam delapan pilihan warna yang dirancang untuk menemani mobilitas tinggi perempuan modern Indonesia.
Material AIRism yang digunakan memiliki karakter ringan, breathable, stretchy, dan cepat kering. Teknologi ini dikembangkan melalui proses penenunan serat ultra-halus yang mengurangi ketidakseimbangan permukaan kain, menciptakan kenyamanan yang nyaris tak terasa saat menyentuh kulit.
Teknologi ini dilengkapi perlindungan UV UPF50+ yang membantu perempuan yang beraktivitas di luar ruangan. Hijab ini juga anti-odor dan memberikan sensasi cool to the touch, sebuah fitur yang terasa sangat relevan di iklim tropis Indonesia yang panas dan lembap.
Salah satu figur yang diperkenalkan UNIQLO waktu itu menguji varian ini untuk bermain tenis. Ia mengaku hijab tetap adem meski tubuhnya berkeringat. Setelah itu, ia memakainya lagi untuk kelas hot mat pilates, membuktikan bahwa hijab ini mampu beradaptasi dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
Satin: Kilau untuk Momen Spesial

Varian kedua adalah Hijab Satin berbentuk pashmina, tersedia dalam enam pilihan warna. Material satin ringan dengan kilau lembut menghadirkan tampilan elegan yang tetap nyaman untuk pemakaian sehari-hari.
Seorang penyanyi dan penulis lagu saat itu, jatuh hati pada varian ini. Ia menyebut kain satin terlihat cantik saat terkena lampu panggung, menciptakan efek visual yang memukau tanpa mengorbankan kenyamanan. Hijab ini juga tidak mudah bergeser meski dipakai manggung dengan banyak pergerakan.
Georgette : Fleksibilitas untuk Segala Suasana

Varian ketiga adalah Hijab Georgette berbentuk pashmina persegi panjang. Ini varian dengan pilihan warna terbanyak, mencapai dua belas warna, memberikan ruang ekspresi yang luas bagi pemakainya.
Karakter bahannya ringan, flowy, dengan drape natural yang mudah dibentuk. Sifatnya yang tidak licin membuat proses styling menjadi lebih praktis, sebuah keunggulan yang sangat dihargai oleh perempuan dengan mobilitas tinggi.
Anak aktor ternama waktu itu, memilih varian ini karena versatile. Sebagai ibu, pengusaha, dan kreator konten, ia menjalani banyak peran dalam satu hari. Hijab Georgette terasa nyaman terutama di bagian leher, baik untuk acara formal maupun santai.
Ketiga cerita ini menunjukkan bahwa tidak ada satu cara tunggal dalam memaknai hijab. Setiap perempuan memiliki definisi kenyamanan dan ekspresi diri yang berbeda.
Kehadiran UNIQLO Hijab menegaskan posisi jenama ini dalam ekosistem modest fashion Indonesia. Ia bukan sekadar pemain baru yang mencoba peruntungan. Ia hadir dengan pendekatan khas LifeWear yang mengutamakan kualitas, fungsi, kenyamanan, dan relevansi dengan kehidupan sehari-hari.
Baca juga :Intip Koleksi “Intelligent Simplicity” UNIQLO 2026, Nikita-Indra Bagi Tips Mix & Match
Filosofi LifeWear di Baliknya
UNIQLO Hijab bukan sekadar produk baru. Ia adalah perpanjangan dari filosofi LifeWear yang diperkenalkan UNIQLO pada 2013, sebuah konsep yang menekankan pakaian sederhana, berkualitas tinggi, dan relevan dengan keseharian pemakainya.
Beberapa waktu lalu, Marketing Manager UNIQLO Indonesia Lisqia Lalantika menegaskan bahwa kebutuhan perempuan terhadap hijab tidak pernah seragam. Koleksi ini dikembangkan berdasarkan masukan langsung pelanggan di Indonesia dan Malaysia.
Koleksi UNIQLO Hijab dibanderol Rp 199.000 per item. Ketiganya tersedia dalam ukuran One Size dan bisa dicuci dengan mesin cuci, sebuah pertimbangan praktis yang mencerminkan pemahaman mendalam tentang ritme kehidupan perempuan Indonesia.
Tren akan selalu berganti. Namun pakaian yang baik adalah yang tetap relevan, nyaman, dan terasa seperti bagian dari diri pemakainya. Di situlah UNIQLO Hijab menemukan maknanya, bukan sekadar sebagai produk, melainkan sebagai teman perjalanan perempuan Indonesia.
Langkah UNIQLO ini memperkuat positioning sebagai LifeWear yang terus berkembang menjawab kebutuhan nyata konsumen, termasuk dalam ekosistem modest fashion yang kian menjadi perhatian industri mode global.



