Penulis: Renaldi Zein, Msi
SinarHarapan.ID – Beberapa tahun yang lalu, sebuah perusahaan negara yang bergerak di bidang penerbangan digegerkan ulasan pemengaruh yang tersebar di media sosial. Sang pemengaruh dipolisikan, namun manajemen dinilai buruk menangani krisis karena dianggap anti-kritik. Pada akhirnya, kasus diselesaikan secara kekeluargaan, namun perusahaan dianggap lamban merespons sehingga menyebabkan narasi dikuasai pandangan negatif.
Kasus tersebut tidak akan terjadi jika krisis komunikasi ditangani dengan cepat dan tepat. Di sinilah pentingnya peran komunikasi korporasi.
Komunikasi korporasi (corporate communication) merupakan fungsi managemen strategis yang mengelola seluruh pesan internal dan eksternal perusahaan kepda pemangku kepentingan (karyawan, investor, media, publik).
Peran komunikasi dalam perusahaan tidak lagi sekadar menyampaikan informasi. Melainkan telah berevolusi menjadi jantung strategi bisnis, serta menentukan bagaimana perusahaan dipersepsikan, dipercaya dan pada akhirnya dipilih.
Di tengah lansekap bisnis yang semakin kompleks, strategi komunikasi merupakan hal yang penting dalam mengelola dan menyampaikan pesan untuk menjaga reputasi perusahaan kepada publik dan stakeholder lainnya. Selain itu juga mengantisipasi krisis dan menyelaraskan visi perusahaan dengan baik.
Perubahan tersebut terasa nyata di Indonesia. Terutama pada perusahaan-perusahaan besar, maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menghadapi tekanan publik, regulasi dan dinamika yang terus berubah.
Di internal, komunikasi korporasi memastikan karyawan memahami arah kebijakan, perubahan strategi, dan visi perusahaaan. Komunikasi yang baik akan meningkatkan keterikatan atau engagement dan produktivitas.
Adapun ke luar, komunikasi korporasi menjadi wajah perusahaan, menjelaskan kebijakan, menyampaikan kinerja dan membangun kepercayaan publik.
Penentu Keberhasilan Restrukturisasi
Dalam situasi restrukturisasi, komunikasi menjadi faktor penentu keberhasilan, menghindari resistensi dan stabilitas organisasi.
Mengutip pakar komunikasi asal Amerika Serikat, James E. Grunig, “Public relations is most valuable when it is part of strategic management.” Komunikasi akan paling bernilai ketika menjadi bagian dari manajemen strategis. Artinya, komunikasi tidak lagi berada di pinggir organisasi, melainkan hadir di pusat pengambilan keputusan, sebagai mitra pimpinan.
Komunikasi korporasi yang berada di bawah pimpinan atau CEO, berarti menempatkan komunikasi sebagai strategi komunikasi, hal yang sudah populer di kalangan perusahaan-perusahaan skala besar, termasuk BUMN. Di mana setiap keputusan lahir, dan setiap arah ditentukan.
Ketika komunikasi berada dekat dengan pusat pengambilan keputusan, ia tidak lagi bekerja setelah sesuatu terjadi, namun hadir sejak awal, membaca kemungkinan, merancang narasi dan memastikan bahwa setiap langkah organisasi dapat dipahami dengan utuh oleh semua pihak.
Di BUMN, Komunikasi Jadi Garda Terdepan
Di lingkungan BUMN, komunikasi korporasi memiliki peran yang lebih strategis, bahkan politis.
Perusahaan pelat merah tidak hanya beroperasi secara binis, tetapi juga membawa mandat publik. Setiap kebijakan dan keputusan menjadi sorotan berbagai kalangan, baik masyarakat maupun pemangku kepentingan.
Sejumlah BUMN di Indonesia telah lebih dahulu menyadari pentingnya menempatkan komunikasi dekat dengan pucuk pimpinan.
Di PT Pertamina (Persero), fungsi komunikasi korporat berada dalam lingkup strategis yang beririsan langsung dengan Direksi. Bahkan pada praktiknya, sering berada di bawah koordinasi langsung dengan pimpinan tertinggi guna menjaga konsistensi narasi energi nasional yang sensitf dan berdampak luas.
Demikian pula PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Komunikasi korporat memainkan peran sentral dalam transformasi digital perusahaan, dengan keterlibatan intens pada level Direksi untuk memastikan pesan transformasi tersampaikan utuh ke publik dan internal.
Di sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk juga menempatkan komunikasi sebagai fungsi strategis yang terhubung erat dengan pengambilan keputusan tingkat atas. Hal ini penting mengingat sensitivitas sektor keuangan terhadap kepercayaan publik.
Adapun PT PLN (Persero) menjadikan komunikasi sebagai garda depan dalam menjelaskan kebijakan kelistrikan, transisi energi, hingga isu layanan pelanggan, yang semuanya berdampak langsung pada masyarakat luas.
Pada akhirnya, komunikasi korporasi bukan sekadar soal struktur organisasi. Namun kesadaran bahwa komunikasi adalah kekuasaan. Kekuasaan untuk membentuk persepsi, mengarahkan opini, dan menjaga legitimasi.
Perusahaan yang memahami akan menempatkan komunikasi di jantung strategi. Mengutip pakar manajemen Amerika kelahiran Austria, Peter F. Drucker, “No executive has ever suffered because his subordinates were strong and effective.”
Maknanya jelas yakni kekuatan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh kualitas orang-orang di sekelilingnya, termasuk tim profesional seperti komunikasi korporasi.
Ketika komunikasi berjalan seiring dengan kepemimpinan, organisasi tidak hanya bergerak maju tetapi juga melangkah dengan keyakinan, dipahami, dan dipercaya. ***
- Penulis adalah pakar komunikasi dan profesional media, alumnus magister komunikasi Universitas Indonesia, anggota Dewan Pengawas RRI 2005-2010




