Sinar Harapan.id – Kehilangan kaki akibat kecelakaan mengubah kehidupan Agus, 41 tahun. Setelah kecelakaan kereta api pada sekitar 2008, ia sempat menghabiskan dua tahun di rumah untuk memulihkan kondisi mentalnya. Namun, perlahan ia menemukan jalan untuk kembali bergerak, membangun kepercayaan diri, dan menjalani kehidupan yang lebih aktif.
Olahraga menjadi salah satu pintu yang membawanya kembali ke ruang publik. Agus kemudian mengenal olahraga bagi penyandang disabilitas hingga menjadi atlet tenis kursi roda. Di sisi lain, penggunaan kaki prostetik turut membantunya menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk menggunakan kendaraan umum.
“Yang pasti sangat senang, sangat menyenangkan, apalagi buat aktivitas sehari-hari saya. Sangat membantu juga,” ujar Agus.
Baginya, prostesis bukan sekadar alat pengganti anggota tubuh yang hilang. Alat tersebut membuka kembali kesempatan untuk bergerak dan menjalani aktivitas secara lebih mandiri.
Meski demikian, perjalanan menggunakan prostesis tidak selalu mudah. Agus membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk beradaptasi pada awal pemakaian, menyesuaikan diri dengan kondisi tungkai sisa setelah amputasi dan membiasakan diri menggunakan alat tersebut.
Pengalaman Agus menunjukkan bahwa keberhasilan penggunaan prostesis tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi. Ketepatan asesmen, proses pembuatan soket, serta keterampilan tenaga profesional juga berperan penting dalam memastikan alat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan penggunanya.
Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Guest Lecture bertajuk “Direct Socket Transtibial Prosthesis: From Assessment to Definitive Socket” yang diselenggarakan Poltekkes Kemenkes Jakarta I bersama ASATIF dan Össur. Kegiatan ini memperkenalkan teknologi pembuatan soket kaki prostetik sekaligus memperkuat pemahaman mahasiswa Ortotik Prostetik mengenai proses asesmen hingga penerapannya kepada pasien.
Direct Socket, Memangkas Waktu Pembuatan Soket
Ahli Prostetik dan Ortotis Össur Asia Tenggara, Zulfaqar Omar, menjelaskan bahwa Direct Socket merupakan inovasi yang memungkinkan proses pembuatan soket kaki prostetik dilakukan lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Jika pembuatan soket dengan metode tradisional dapat memakan waktu setidaknya dua minggu, teknologi Direct Socket memungkinkan proses tersebut diselesaikan dalam waktu sekitar satu jam.
“Perbedaan sebenarnya antara Direct Socket dan Traditional Socket adalah, untuk soket tradisional, kapan pun mereka membuat soket, itu akan memakan waktu setidaknya dua minggu. Tetapi dengan Direct Socket, kami dapat membuatnya dalam waktu satu jam. Seperti yang Anda lihat tadi, kami membuat dua soket dalam dua jam,” ujar Zulfaqar.
Teknologi tersebut dikembangkan melalui proses riset dan pengembangan selama bertahun-tahun serta telah digunakan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, Singapura, dan Malaysia.
Össur, perusahaan asal Islandia yang mengembangkan produk prostetik, berupaya memperluas akses terhadap teknologi ini melalui kerja sama dengan mitra lokal. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu pasien di Indonesia memperoleh layanan prostetik berkualitas tanpa harus pergi ke luar negeri.
“Kami mencoba memastikan bahwa penyedia layanan di Indonesia memiliki kemampuan untuk memberikan layanan yang sama seperti negara-negara lain. Sehingga pasien tidak perlu keluar dari Indonesia hanya untuk mendapatkan prostesis,” ungkap Zulfaqar.
Namun, kehadiran teknologi baru juga menuntut kesiapan tenaga profesional untuk mengadaptasi metode kerja dan memahami penerapannya. Bagi tenaga klinis yang telah lama menggunakan metode konvensional, perubahan membutuhkan proses pembelajaran dan penyesuaian.
Karena itu, inovasi teknologi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh pasien.
Asesmen Menentukan Kesesuaian Prostesis
Wakil Direktur I Poltekkes Kemenkes Jakarta I, Tri Riana Lestari, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan prostesis tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi. Akses terhadap layanan serta tenaga profesional yang mampu menentukan alat sesuai kondisi pengguna juga menjadi faktor penting.
Setiap pasien memiliki kondisi fisik, tingkat aktivitas, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, asesmen menjadi tahap awal yang menentukan proses pembuatan, pemasangan, hingga keberhasilan penggunaan prostesis.
“Penilaian yang akurat pada tahap awal akan sangat memengaruhi keberhasilan proses selanjutnya,” ujar Tri, menyampaikan inti pesannya dalam pidato berbahasa Inggris.
Menurut Tri, mahasiswa Ortotik Prostetik perlu dibekali kompetensi menyeluruh, mulai dari melakukan asesmen dan menentukan kebutuhan klinis hingga membuat serta memasang alat prostetik kepada pasien.
“Mahasiswa Ortotik Prostetik sebenarnya diharapkan memiliki kompetensi untuk memproduksi alat, tidak hanya memasang. Untuk proses pembuatannya ada kompetensi tersendiri, dan pemasangannya pun ada kompetensinya lagi,” katanya.
Melalui kuliah umum dan praktik bersama Össur, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengenal teknologi Direct Socket secara langsung. Kegiatan ini juga melibatkan tim prostetik dan alumni Poltekkes Kemenkes Jakarta I yang kini bekerja di PT Ortopro.
Kehadiran praktisi diharapkan dapat menjembatani pengetahuan akademis dengan kebutuhan pelayanan di lapangan. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teknologi, tetapi juga memahami pentingnya mempertimbangkan kondisi pasien dalam setiap tahap pelayanan prostetik.
Penguatan kompetensi tersebut menjadi semakin penting ketika perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan ketersediaan layanan yang memadai. Prostesis yang canggih tidak akan memberikan manfaat optimal apabila tidak dibuat dan dipasang sesuai kebutuhan pengguna.
Kolaborasi untuk Memperluas Manfaat Teknologi
Ahmad Risaldi dari ASATIF mengatakan, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal secara langsung teknologi Direct Socket, termasuk proses asesmen hingga pembuatan soket prostesis.
“Nanti akan dilakukan pembuatan satu hal yang mungkin akan jarang ditemui, yaitu Direct Socket,” ujar Ahmad dalam sambutannya.
Ia berharap kolaborasi antara ASATIF, Össur, dan Poltekkes Kemenkes Jakarta I tidak berhenti pada satu kegiatan. Transfer pengetahuan, teknologi, dan keterampilan perlu dilanjutkan melalui berbagai tema yang relevan dengan perkembangan profesi Ortotik Prostetik.
“Dan ini kita harapkan bukan hanya sekali. Mudah-mudahan nanti bisa ada rangkaian untuk tema-tema atau topik-topik yang insyaallah akan bermanfaat buat kita semua, terutama untuk pasien-pasien adik-adik nantinya,” katanya.
Kolaborasi antara institusi pendidikan, penyedia teknologi, dan praktisi menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kualitas layanan prostetik. Melalui pembelajaran langsung, mahasiswa diharapkan memiliki bekal yang lebih baik untuk menghadapi kebutuhan pasien dengan kondisi yang beragam.
Pada akhirnya, tujuan pengembangan teknologi prostetik bukan semata-mata mempercepat proses produksi atau menghadirkan perangkat yang semakin modern. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa teknologi tersebut dapat diakses dan memberikan manfaat nyata bagi penggunanya.
Bukan Sekadar Alat, tetapi Kesempatan untuk Kembali Bergerak
Bagi Agus, manfaat prostesis terasa dalam kegiatan sehari-hari. Ia dapat menggunakan kendaraan umum dan melakukan berbagai aktivitas dengan lebih nyaman. Meski harus melewati masa adaptasi, penggunaan alat tersebut membantunya kembali menjalani kehidupan dengan lebih aktif.
Ketika ditanya apakah prostesis memberinya semacam kehidupan baru, Agus membenarkannya.
Pengalaman Agus memperlihatkan bahwa di balik sebuah prostesis terdapat cerita tentang proses menerima perubahan, beradaptasi, dan menemukan kembali kesempatan untuk menjalani kehidupan. Ada keinginan untuk kembali beraktivitas, berinteraksi dengan lingkungan, serta membangun kemandirian setelah kehilangan anggota tubuh.
Karena itu, kemajuan teknologi prostetik perlu didukung asesmen yang tepat, kompetensi tenaga profesional, dan akses layanan yang memadai. Teknologi Direct Socket menawarkan proses pembuatan soket yang lebih singkat, tetapi keberhasilan penggunaannya tetap bergantung pada ketepatan penanganan setiap pasien.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan teknologi bukan hanya seberapa cepat sebuah alat dapat dibuat, melainkan sejauh mana alat tersebut membantu seseorang kembali bergerak, beraktivitas, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Bagi Agus, itulah makna kehidupan baru yang diberikan prostesis












