Gaya Hidup

PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS, Ini Tiga Pilar yang Wajib Dikenali

×

PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS, Ini Tiga Pilar yang Wajib Dikenali

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Siklus haid tak teratur sering dianggap biasa. Padahal, kondisi itu bisa menjadi pintu masuk gangguan kompleks bernama Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome, atau PMOS, pengganti istilah Polycystic Ovary Syndrome yang kini resmi berlaku sejak Mei 2026 di dunia medis global.

Perubahan nama diumumkan para ahli melalui jurnal medis The Lancet. Mereka menilai istilah lama menyesatkan karena terlalu menekankan “kista”, padahal banyak pengidap tidak memiliki kista, melainkan folikel telur berlebih akibat ovulasi terganggu. Kondisi ini pun kini dipahami secara lebih luas.

World Health Organization menyatakan 10-15 persen perempuan usia reproduktif dunia mengalami kondisi ini. Angka itu menjadikannya salah satu gangguan hormonal paling umum, namun hingga separuh kasus diperkirakan belum terdiagnosis karena gejala sering diabaikan. Di Indonesia, kesadaran serupa pun masih menantang.

PMOS bukan sekadar gangguan reproduksi. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, Dr. dr. Gita Pratama, menjelaskan kondisi ini melibatkan sistem hormonal poliendokrin dan metabolik, sehingga risiko jangka panjangnya jauh lebih luas sekali.

Resistensi insulin disebut akar masalah sebagian besar kasus, terlepas dari berat badan. Insulin berlebih merangsang ovarium memproduksi androgen, mengacaukan ovulasi dan siklus haid. Gaya hidup modern memperburuk kondisi: kurang gerak, stres kronis, kurang tidur, pola makan tinggi kalori, serta olahan.

Diagnosis tidak cukup satu tes. Dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, tes darah, dan USG. Kriteria Rotterdam memakai tiga pilar: gangguan haid, kelebihan androgen, dan gambaran ovarium. Sedikitnya dua pilar harus terpenuhi untuk menegakkan PMOS. Pemeriksaan lanjutan membantu memastikan risiko metabolik.

Gejala kerap tampak sepele: haid jarang, jerawat membandel di rahang, rambut kasar tumbuh di wajah atau perut, kerontokan kepala, bercak kulit gelap di leher, kelelahan kronis, dan perubahan suasana hati. Banyak perempuan baru menyadari setelah komplikasi muncul. Kesadaran dini menentukan.

Dampak jangka panjang meliputi diabetes tipe 2, hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, sleep apnea, kecemasan, depresi, dan gangguan body image. Karena itu, PMOS perlu dikelola menyeluruh, bukan hanya saat pasien ingin hamil. Deteksi dini menjadi kunci. Masyarakat harus lebih peduli.

Penanganan utama adalah gaya hidup sehat. Menurunkan lima hingga sepuluh persen berat badan dalam tiga hingga enam bulan membantu mengatur siklus haid dan menekan resistensi insulin. Pola makan seimbang, olahraga rutin, tidur cukup, dan pengelolaan stres dianjurkan. Perubahan berdampak besar.

Terapi medis disesuaikan tujuan pasien. Pil KB kombinasi mengatur siklus dan meredakan androgen bagi yang belum merencanakan kehamilan. Terapi kesuburan merangsang ovulasi bagi yang ingin hamil. Obat khusus membantu resistensi insulin. PMOS dapat dikelola, bukan diakhiri. Kualitas hidup tetap terjaga.