Gaya Hidup

Satu Embrio Terakhir, Harapan 9 Tahun yang Akhirnya Menjadi Nyata

×

Satu Embrio Terakhir, Harapan 9 Tahun yang Akhirnya Menjadi Nyata

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id- Sembilan tahun sudah Allyssa Hawadi dan Candi Soeleman berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Bahkan hingga ke luar negeri. Tak satu pun mampu menjawab mengapa mereka belum juga dikaruniai anak.

Hingga akhirnya mereka bertemu dengan Prof. Dr. dr. Budi Wiweko di RS Pondok Indah IVF Centre. Melalui evaluasi komprehensif, penyebab utama infertilitas akhirnya teridentifikasi. Penanganan tepat pun diberikan. Tapi perjalanan tetap terjal. Hanya satu embrio sehat yang tersisa.

Satu embrio terakhir itu menjadi penentu. Setelah menanti selama sembilan tahun, harapan yang nyaris padam akhirnya menyala kembali. Keajaiban itu datang. Kisah Allyssa dan Candi menjadi simbol bahwa setiap pasangan memiliki tantangan berbeda dan membutuhkan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

RS Pondok Indah IVF Centre genap berusia lima tahun. Dalam setengah dekade, pusat layanan fertilitas ini telah melayani lebih dari 50.000 kunjungan pasien dari berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara. Lebih dari 1.000 pasangan didampingi menjalani program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF).

Baca juga :Bukan Ubah Wajah Jadi Orang Lain, Dokter Bedah Plastik Ungkap Esensi ‘Harmoni Wajah’

Angka itu berbicara banyak tentang kebutuhan masyarakat akan layanan fertilitas yang komprehensif. RS Pondok Indah IVF Centre berkomitmen menjadi bagian dari perjalanan ribuan pasangan dalam merencanakan kehamilan. Layanan yang aman, berkualitas, dan didukung teknologi terkini menjadi fondasi utamanya.

Penguatan kualitas layanan dilakukan melalui investasi berkelanjutan pada teknologi reproduksi berbantu. Peningkatan kompetensi tim medis juga terus digalakkan. Pendekatan personal sesuai kebutuhan masing-masing pasien menjadi kunci. Setiap pasangan mendapatkan peluang terbaik mewujudkan kehamilan, terlepas dari usia maupun kondisi medis yang dihadapi.

Keberhasilan program IVF tidak hanya ditentukan oleh faktor usia. Kualitas embrio, kondisi rahim, kualitas sperma dan sel telur, serta riwayat kesehatan reproduksi pasangan berperan penting. RS Pondok Indah IVF Centre menerapkan pendekatan yang disesuaikan secara spesifik dengan kondisi pasien dan teruji secara klinis.

Di balik setiap angka keberhasilan, ada cerita-cerita seperti milik Allyssa dan Candi. Perjuangan yang tak terlihat, air mata yang tertahan, dan harapan yang terus dipupuk. Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis fertilitas endokrinologi reproduksi, menekankan pentingnya memahami kondisi fertilitas sejak dini sebagai bagian dari perencanaan kehamilan yang lebih baik.

Pengakuan dunia terhadap kompetensi tim medis RS Pondok Indah IVF Centre datang dari Royal Australia and New Zealand College of Obstetrician and Gynecologist (RANZCOG). Prof. Budi Wiweko menjadi orang Indonesia pertama yang menerima gelar kehormatan tertinggi Honorary Fellowship dari organisasi profesi obstetri dan ginekologi terkemuka di dunia itu.

Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasinya dalam bidang obstetri dan ginekologi serta kontribusi signifikan dalam meningkatkan kesehatan perempuan di Indonesia dan Asia Tenggara. Bagi pasien-pasien seperti Allyssa, kehadiran sosok dengan kompetensi global di tengah negeri sendiri menjadi peneguh harapan.

Memasuki tahun keenam perjalanannya, RS Pondok Indah IVF Centre terus bergerak. Bukan sekadar sebagai pusat layanan medis, tetapi sebagai ruang di mana ilmu bertemu dengan harapan, dan di mana keputusan besar diambil dengan penuh keberanian. Setiap pasangan yang datang membawa cerita unik. Dan pusat ini hadir untuk mendampingi, apa pun jalannya.