26 February 2024

Direktur Tata Kelola Destinasi Kemenparekraf Indra Ni Tua memberi sambutan saat mengunjungi Desa Wisata Negeri Rutong di Kota Ambon, Provinsi Maluku. (Ist)

SinarHarapan.id –  Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 menjadi program unggulan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). ADWI menjadi penggerak kebangkitan pertumbuhan ekonomi dan pengembangan pariwisata Indonesia yang sedang digalakkan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Barekraf).

ADWI dilaksanaan untuk ketiga kalinya dengan mengangkat tema ‘Kebangkitan Ekonomi dari Desa untuk Indonesia Bangkit’. Program ini diharapkan mampu mewujudkan visi “Indonesia sebagai Negara Tujuan Pariwisata Berkelas Dunia, Berdaya Saing Global, Berkelanjutan dan Mampu Mendorong Pembangunan Daerah dan Kesejahteraan Rakyat”.

“Kobaran semangat ini masih terus kami lanjutkan. Untuk menggaungkan Indonesia lebih mendunia melalui pariwisata dan ekonomi kreatif,” kata Menparekraf Sandiaga Uno dalam keterangan pers, Senin (18/12/2023).

“Membuka ruang untuk berkarya, memastikan 4,4 juta lapangan kerja tercipta, dan kami masih terus percaya bangkitnya ekonomi dimulai dari desa,” kata Mas Menteri, sapaan akrab Sandiaga Uno.

Inilah momentum kebangkitan pariwisata, di Anugerah Desa Wisata Indonesia 2023. Setelah sukses ADWI 2021 dengan 1.831 peserta, meningkat tajam pada tahun 2022 dengan 3419 desa wisata.

Kini di 2023, Anugerah Desa Wisata Indonesia dengan semangat kolaborasi dan bersinergi meningkat tajam hingga peserta menyentuh angka 4.573 desa wisata yang ada di seluruh Indonesia dari target yang dicanangkan 4.000 desa wisata.

Antusiasme ribuan desa wisata tersebut diharapkan mempermudah pengembangan desa wisata di Indonesia kedepannya. Dalam pengembangan desa wisata, Kemenparekraf melibatkan mitra strategis dalam mengembangkan desa wisata khususnya desa wisata yang masuk 75 desa wisata terbaik Desa Wisata Indonesia Bangkit.

Satu dari 75 desa wisata terbaik adalah Desa Wisata Negeri Rutong, Kota Ambon, Provinsi Maluku. Desa Wisata Negeri Rutong terletak di Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, Provinsi Maluku dengan waktu tempuh dari Bandara Pattimura Ambon selama 1 jam 10 menit. Rutong terletak Di Jazirah Leitimur Selatan.

Negeri Rutong secara geografis berbatasan di sebelah utara dengan petuanan Negeri Batu Merah dan Halong Di sebelah selatan Desa Wisata Negeri Rutong berbatasan dengan laut Banda, sebelah barat dengan Petuanan Negeri Leahari dan Negeri Ema, sedangkan di sebelah Timur dengan Negeri Hutumuri.

Sepanjang perialanan menuju Negeri Rutong, wisatawan dapat menikmati kesejukan udara segar dan bebas polusi yang berasal dari pepohonan rindang yang tumbuh di pinggiran jalan. Mata wisatawan akan dimanjakan serta dibuai dengan panorama alam yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Pantai Rutong berpasir putih diselingi batu kerikil dan bibir pantai terjun ke laut Banda. Lepas pantainya merupakan terumbu karang yang dihuni berbagai jenis biota laut yang indah. Ke darat tidak jauh dari pantai terdapat bukit dan pegunungan dengan hutan lebat pohon-pohon sagu dan pohon buah-buahan.

Di beberapa tempat terdapat kebun-kebun bahan makanan dan holtikultura. Rutong juga dikembangkan menjadi salah satu desa wisata untuk ekowisata hutan sagu. Hutan Sagu, Negeri Rutong memiliki ekowisata berupa hutan sagu yang ditanam oleh nenek moyang yang terus dilestarikan hingga sekarang dan merupakan negeri dengan hutan sagu terbesar di kota ambon.

Selain itu, para pengunjung dapat menikmati keindahan pantai serta hutan mangrove dilokasi yang sama. Pantai Rutong, memiliki pasir putih yang diselingi batu kerikil dan bibir pantai terjun ke laut Banda. Lepas pantainya merupakan terumbu karang yang dihuni berbagai jenis biota laut yang indah.

Wisata Hutan Mangrove juga menjadi andalan karena memberikan manfaat fisik dan biologis, serta manfaat ekonomi. Mengingat potensi sumber daya mangrove untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan produktivitas lingkungan sekitar, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis nilai ekonomi ekosistem hutan mangrove di wilayah pesisir kota Ambon khususnya yang berada di Negeri Rutong.

Penghasil Sagu Terbesar

Kota Ambon Negeri Rutong merupakan penghasil sagu terbesar di Kota Ambon, salah satu hal menarik yang ditawarkan selain dapat melihat pohon sagu secara langsung pengunjung.

Selai itu, pengunjung juga dapat melihat bagaimana proses pembuatan sagu secara tradisional dan dapat ikut serta dalam salah satu proses pembuatan sagu hingga proses mengelola sagu menjadi makanan.

Desa wisata Negeri Rutong memiliki atraksi dan tarian tradisional yang menggambarkan budaya dan filosofi negeri rutong yaitu bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Tarian dan atraksi ini dimainkan oleh anak-anak negeri rutong.

Adapun jenis tariannya antara lain sebagai berikut: Tari Tali, Tali menjadi elemen penting dalam tarian ini. Tujuan dari Tari Tali adalah untuk mengepang tali sambil berdansa mengikuti irama. Katerji, Tarian ini biasanya dilakukan secara berpasangan antara penari pria dan Wanita. Tari Ketrji merupakan hasil akulturasi dari Portugis dan Maluku.

Tarian ini biasa ditampilkan pada acara-acara perayaan hari besar, penyambutan tamu maupun adat dan pentas seni di sekolah-sekolah. Penyambutan Tamu Secara Adat, Negeri Rutong merupakan negeri yang masih mempertahankan adat istiadat yang dimiliki seperti penyambutan tamu secara adat dengan Tari Cakalele Bulu Ayam.

Penyambutan dilanjutkan dengan Kain Gandong oleh Mama-Mama Mata ina yang mengantarkan tamu ke rumah adat diiringi nyayian lagu adat. Kemudian para tetua adat akan menyambut tamu dengan bahasa adat kemudian membuat ritual adat sebagai tanda perkenalan, dan tamu akan dijamu dengan minuman tradisional sebagai penanda bahwa pengunjung merupakan bagian dari Negeri Rutong.

Negeri Rutong memiliki tiga homestay, yaitu Homestay Wairoang, Homestay Waiuku dan Homestay Lilinita, dengan fasilitas yang memadai seperti kamar tidur, dapur, ruang tamu dan toilet. Di sekitar homestay tersedia cctv untuk memantau kondisi keamanan terdapat wifi gratis.

Pengunjung juga akan dilayani oleh pengelola homestay yang merupakan warga lokal. Lokasi homestay berada di tengah-tengah desa wisata untuk mempermudah pengunjung berinteraksi dengan warga lokal.