Ekonomi

Produksi padi Jabar tembus 10,23 juta ton, Bulog serap hampir 695 ribu ton hingga Oktober 2026

×

Produksi padi Jabar tembus 10,23 juta ton, Bulog serap hampir 695 ribu ton hingga Oktober 2026

Sebarkan artikel ini

Produksi padi Jawa Barat mencapai 10,23 juta ton GKG pada 2025. Hingga Oktober 2026, BULOG menyerap 694.947 ton setara beras, melampaui target tahunan.

DPR Dorong Bulog Percepat Penyerapan Gabah Sesuai HPP Rp6.500 per Kilogram

SinarHarapan.id – Di sentra padi Indramayu, keberhasilan musim panen ditentukan bukan hanya oleh banyaknya gabah yang dipetik, tetapi juga oleh tersedianya air, kepastian pembelian, serta kelancaran pengiriman ke penggilingan dan gudang beras. Maryono, petani Desa Karangmulya, Kecamatan Kandanghaur, dalam kegiatan panen yang didokumentasikan Kementerian Pertanian pada September 2025, menceritakan perubahan pola tanam di lahannya. “35 tahun kami baru panen nih dua kali,” ujarnya. Pengalaman tersebut menjadi gambaran pentingnya dukungan irigasi untuk menjaga frekuensi tanam di salah satu lumbung padi Jawa Barat.

Angka tetap Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi padi Jawa Barat sepanjang 2025 mencapai 10.226.654 ton gabah kering giling (GKG), naik 18,54 persen dibandingkan 8,63 juta ton pada 2024. Luas panen mencapai sekitar 1,76 juta hektare, bertambah 279,94 ribu hektare dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah dikonversi menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi mencapai 5.905.710 ton. Data 2025 tersebut merupakan capaian tahunan yang telah final, bukan perkiraan hasil panen 2026.

Kontribusi sentra produksi terlihat jelas dalam angka kabupaten. BPS mencatat Indramayu menghasilkan 1.583.262 ton GKG, Karawang 1.194.712 ton, Subang 1.094.781 ton, dan Cianjur 800.735 ton sepanjang 2025. Total empat kabupaten mencapai 4.673.490 ton GKG atau sekitar 45,7 persen produksi provinsi. Volume sebesar itu membutuhkan dukungan pengeringan dan penggilingan, akses angkutan, serta jaringan gudang agar hasil panen tidak menumpuk pada saat puncak produksi.

Kenaikan produksi 2025 terutama sejalan dengan bertambahnya luas panen, bukan berarti hasil per hektare meningkat di seluruh sentra. Rata-rata produktivitas provinsi tercatat sekitar 58,26 kuintal GKG per hektare pada 2025, sedikit di bawah sekitar 58,47 kuintal pada 2024. Karena itu, perbaikan air irigasi, ketepatan jadwal tanam, benih bermutu, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dan mekanisasi tetap menjadi kebutuhan untuk mempertahankan hasil pada musim berikutnya.

Perkembangan 2026 menunjukkan tantangan yang perlu diantisipasi. Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Jawa Barat melaporkan sekitar 15.613,60 hektare pertanaman padi terdampak kekeringan selama April hingga 15 September 2026; dari luasan itu, 2.127,60 hektare mengalami puso. Indramayu tercatat terdampak paling luas, sekitar 5.263,40 hektare, disusul Subang dan sejumlah kabupaten lain. Pemerintah daerah merespons melalui pompanisasi, rehabilitasi saluran irigasi, pengaturan giliran air, serta penyesuaian jadwal tanam.

Kepala DTPH Jawa Barat Dadan Hidayat mengatakan, “Upaya penyelamatan pertanaman yang sudah ada dilakukan dengan berbagai aksi, seperti pemanfaatan sumur, pompa, dan pengaturan pembagian air secara bergiliran,” sebagaimana diberitakan Bisnis Indonesia pada 19 Oktober 2026. DTPH merujuk hasil Kerangka Sampel Area (KSA) untuk menyebut proyeksi produksi padi Jawa Barat pada Januari–Oktober 2026 sekitar 8,57 juta ton GKG, dibandingkan 8,83 juta ton pada periode sama 2025. Angka Januari–Oktober 2026 itu masih berupa proyeksi, sehingga tidak dapat disamakan dengan realisasi final setahun penuh.

Di hilir, Perum BULOG Kantor Wilayah Jawa Barat terus menyerap hasil panen petani untuk mendukung Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Berdasarkan pembaruan posisi 22 Oktober 2026 yang diberitakan pada 24 Oktober, akumulasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri telah mencapai 694.947 ton setara beras. Jumlah itu melampaui target tahunan 694.432 ton, atau sekitar 100,07 persen. Sesuai Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026, Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah kering panen di tingkat petani dipertahankan Rp6.500 per kilogram. Angka pengadaan BULOG merupakan bagian dari produksi yang diserap pemerintah, bukan keseluruhan produksi padi provinsi.

Pemimpin Wilayah Perum BULOG Jawa Barat Nurman Susilo menegaskan penyerapan tetap berlanjut meski target pengadaan tercapai. “Meski target telah tercapai, kami akan terus menyerap gabah petani hingga akhir Desember dan melanjutkan komitmen ini pada tahun-tahun berikutnya, khususnya untuk mendukung petani di Jawa Barat,” ujarnya, seperti dilaporkan ANTARA pada 24 Oktober 2026.

Pada posisi 22 Oktober 2026, stok beras yang dikuasai BULOG Jawa Barat tercatat sekitar 623,9 ribu ton, yang terdiri atas sekitar 623,8 ribu ton beras penugasan pemerintah dan 107 ton beras komersial. Stok berada di delapan kantor cabang, antara lain Indramayu sekitar 192,7 ribu ton, Cirebon 176,7 ribu ton, Karawang 99,7 ribu ton, Subang 59,1 ribu ton, dan Cianjur 24,8 ribu ton. Stok tersebut adalah persediaan pada satu tanggal, bukan angka pengadaan kumulatif; perubahan stok juga dipengaruhi penyaluran dan pergerakan beras antargudang.

Transformasi pertanian juga memperoleh dukungan melalui pemanfaatan teknologi. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam siaran pers resmi 6 Oktober 2026 menyatakan, “IoT dan kecerdasan artifisial adalah teknologi baru yang harus kita manfaatkan agar memberikan dampak langsung terhadap produktivitas masyarakat.” Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong penerapan teknologi berdasarkan kebutuhan riil petani, mulai dari pengukuran kondisi lahan hingga efisiensi penggunaan pupuk. Contoh implementasi yang dipublikasikan kementerian berasal dari daerah lain, sehingga tidak digunakan sebagai klaim penyebab peningkatan produksi padi Jawa Barat pada 2025.

Memasuki sisa 2026, keberlanjutan peran Jawa Barat sebagai penopang pangan nasional memerlukan dua pekerjaan sekaligus: menjaga produktivitas di tengah tekanan iklim dan memastikan gabah yang sudah dipanen masuk ke jaringan pengolahan serta cadangan pangan dengan harga yang layak. Kenaikan produksi 2025 menjadi modal, sementara informasi cuaca, pengairan, pengadaan, dan posisi stok terbaru menjadi dasar pengambilan langkah pada musim berikutnya.