SinarHarapan.id – Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, ruang-ruang pembinaan anak muda menjadi semakin penting. Bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang menumbuhkan karakter, gagasan, dan kepemimpinan masa depan.
Di Masjid Cut Meutia, Jakarta, ruang itu bernama RICMA Camp.
Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) kembali menggelar program kaderisasi tahunan RICMA Camp 2026, yang tahun ini memasuki angkatan ke-40. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 27 Februari hingga 1 Maret 2026, dengan rangkaian acara yang dipusatkan di Masjid Cut Meutia dan Hotel Sofyan Betawi Menteng.
Mengusung tema “Lead Like Rasulullah”, kegiatan ini dirancang untuk membentuk generasi muda Muslim yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat dan berintegritas.
Belajar Memimpin dari Keteladanan
RICMA Camp bukan sekadar forum kajian keislaman. Program ini memadukan penguatan spiritual dengan pelatihan kepemimpinan praktis yang relevan dengan tantangan zaman.
Peserta yang berasal dari berbagai daerah, berusia 15 hingga 30 tahun, mengikuti beragam sesi yang dirancang interaktif. Mereka belajar tentang kepemimpinan diri, manajemen tim, komunikasi efektif, hingga merumuskan visi hidup.
Diskusi kelompok, simulasi kepemimpinan, dan praktik langsung menjadi bagian penting dari proses belajar tersebut. Pendekatan ini membuat peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengalami proses pembentukan karakter secara nyata.
Di sinilah nilai utama RICMA Camp tumbuh: kepemimpinan yang berakar pada keteladanan Rasulullah, tetapi tetap kontekstual dengan kehidupan modern.
Inspirasi dari Para Tokoh
Memasuki hari ketiga, suasana camp semakin semarak ketika sejumlah tokoh hadir untuk berbagi pengalaman dan inspirasi.
Di antara mereka adalah Raniah Alaydroes, Jojo Ali Yusuf, serta Sandiaga Uno.
Dalam sesi Inspiring Talk, Sandiaga Uno menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan RICMA Camp yang dinilai sebagai wadah positif bagi pembinaan generasi muda.
Menurutnya, pembinaan kepemimpinan di kalangan anak muda menjadi semakin relevan ketika dilakukan di lingkungan masjid, terlebih pada bulan Ramadan yang sarat nilai spiritual.
“Generasi muda harus memegang empat prinsip: kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Jika ini dijalankan secara konsisten, insyaallah kesuksesan dunia dan akhirat dapat diraih,” ujarnya di hadapan para peserta.
Ia juga menekankan pentingnya persiapan yang matang, efisiensi dalam bekerja, tanggung jawab terhadap amanah, serta ketulusan dalam berkarya.
Nilai-nilai tersebut, menurutnya, merupakan fondasi kepemimpinan modern yang tetap berakar pada ajaran Islam.
Masjid sebagai Pusat Pembinaan
Ketua Pelaksana RICMA Camp 2026, Muhammad Revanza Refikasah, menyampaikan apresiasi kepada para pembicara serta semua pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan ini.
Ia berharap pengalaman selama tiga hari tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
“Kami berharap ilmu dan motivasi yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka diharapkan aktif berkontribusi di masjid dan membawa dampak positif di tengah masyarakat,” katanya.
Harapan tersebut sejalan dengan visi RICMA sebagai organisasi kepemudaan berbasis masjid.
Bagi RICMA, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah ritual. Lebih dari itu, masjid harus menjadi pusat pembinaan generasi muda—ruang tempat nilai, gagasan, dan kepemimpinan masa depan tumbuh.
Menyemai Pemimpin Masa Depan
Empat dekade penyelenggaraan RICMA Camp menunjukkan bahwa kaderisasi tidak pernah berhenti. Setiap tahun, generasi baru hadir membawa semangat yang sama: belajar, bertumbuh, dan memberi manfaat.
Di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berubah, kebutuhan akan pemimpin muda berkarakter menjadi semakin mendesak.
Melalui kegiatan seperti RICMA Camp, harapan itu terus disemai.
Dari ruang-ruang masjid, lahir generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga siap memimpinnya—dengan akhlak, integritas, dan semangat melayani umat serta bangsa.










