SinarHarapan.id – Setelah 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan, Rumah Sakit Jiwa kembali hadir sebagai produksi ke-237 Teater Koma melalui kolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation.
Dipentaskan pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, lakon karya almarhum N. Riantiarno ini tampil dengan interpretasi artistik baru yang memadukan eksplorasi visual, musik, dan pendalaman karakter, sekaligus mempertahankan relevansi kisahnya tentang kemanusiaan, relasi kuasa, dan berbagai persoalan sosial yang tetap dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
“Selama hampir lima dekade, Teater Koma telah membuktikan bahwa teater bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang dan melahirkan generasi baru. Kehadiran kembali Rumah Sakit Jiwa sebagai pementasan ke-237 menjadi bukti bahwa semangat berkesenian, regenerasi, dan eksplorasi kreatif terus hidup sekaligus memperkaya khazanah budaya Indonesia. Bakti Budaya Djarum Foundation bangga dapat menjadi bagian dari perjalanan ini. Kami percaya seni memiliki kekuatan untuk menyentuh, menginspirasi, dan menjembatani generasi dalam mengenal serta merayakan kekayaan budaya bangsa. Melalui dukungan terhadap Teater Koma dan berbagai program seni lainnya, kami ingin terus memperkuat ekosistem seni pertunjukan sekaligus mendorong berkembangnya ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Kami berharap teater Indonesia semakin berkembang, semakin dicintai masyarakat, dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Billy Gamaliel, Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation.
Rumah Sakit Jiwa berkisah tentang Rogusta, seorang dokter baru di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin oleh Profesor Sidarta. Berbekal keyakinan bahwa pendekatan yang penuh empati dan persahabatan mampu membantu proses penyembuhan pasien, Rogusta berupaya membawa perubahan bagi kehidupan para pasien. Namun, upaya tersebut justru memicu benturan dengan sistem yang telah lama mengakar serta pihak-pihak yang merasa kekuasaan dan posisinya mulai terancam. Melalui konflik tersebut, lakon ini mengajak penonton merefleksikan apakah manusia masih mampu memperlakukan sesamanya sebagai manusia di tengah dunia yang perlahan berubah menjadi sebuah “rumah sakit jiwa”, tempat relasi antarmanusia dipenuhi ketakutan, prasangka, dan perebutan kuasa.

Pementasan ini menghadirkan pengalaman artistik yang memperkuat perjalanan cerita melalui perpaduan tata panggung, tata cahaya, tata musik, multimedia, dan rancangan kostum yang saling melengkapi. Tata panggung dirancang dengan permainan level melalui struktur bertingkat dan elemen tangga yang menjadi metafora hubungan antartokoh, sekaligus merepresentasikan jarak, hierarki, dan dinamika kuasa antara para dokter dan
pasien di rumah sakit jiwa.
Didukung penggunaan properti, tata cahaya, dan multimedia yang menyatu dengan alur penceritaan, setiap perpindahan adegan berlangsung dinamis sehingga mampu mempertegas perubahan suasana sekaligus memperkuat dinamika psikologis para tokohnya. Sepanjang pertunjukan, penonton juga akan disuguhkan komposisi musik garapan Fero A. Stefanus yang dirancang mengikuti dinamika emosi setiap adegan. Berpadu dengan tata suara sepanjang pementasan, musik tersebut membangun atmosfer yang semakin memperkuat ketegangan, refleksi, maupun perjalanan emosional setiap karakter.
Meski menggunakan naskah yang sama dengan pementasannya pada 1991, Rumah Sakit Jiwa tahun ini hadir dengan pendekatan artistik baru yang lahir dari pembacaan ulang terhadap perubahan zaman. Perbedaan konteks sosial, perkembangan teknologi, hingga meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mental menjadi bagian dari proses kreatif yang membentuk pementasan kali ini.
“Meskipun pertama dipentaskan 35 tahun lalu, bukan berarti karya ini berhenti melakukan pencarian terhadap berbagai kemungkinan pemanggungan. Sebagai kelompok bernama ‘Koma’, kami tidak ingin ekspresi artistik berhenti. Naskah tetap menjadi pedoman, tetapi konsep pementasan tahun 1991 bukanlah batas. Justru menjadi titik awal agar Rumah Sakit Jiwa 2026 dapat berkembang dengan kreativitas baru. Dunia yang berbeda menghadirkan tantangan sekaligus peluang untuk menafsirkan kembali naskah ini dengan kreativitas baru tanpa terbebani pementasan sebelumnya.,” ujar Ratna Riantiarno, Produser Teater Koma.

Di balik pementasan terbarunya, Rumah Sakit Jiwa juga menyimpan sejarah penting dalam perjalanan Teater Koma. Naskah ini lahir setelah kelompok teater tersebut mengalami sejumlah pencekalan pementasan pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Berangkat dari diskusi bersama para anggota Teater Koma mengenai berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, almarhum N. Riantiarno kemudian merangkumnya menjadi sebuah naskah yang tidak hanya berbicara tentang sebuah institusi rumah sakit jiwa, tetapi juga tentang manusia, kekuasaan, dan harapan untuk menghadirkan perubahan.
Sutradara Rangga Riantiarno menjelaskan bahwa proses kreatif produksi ini tidak berhenti pada pembacaan naskah. Para pemain melakukan observasi langsung ke rumah sakit jiwa, berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater, serta memperdalam berbagai referensi mengenai kesehatan mental agar setiap karakter dibangun berdasarkan empati dan pemahaman yang utuh.
“Komposisi pemain kali ini juga menjadi pengalaman yang menarik. Dari total 115 orang yang terlibat, hanya enam orang yang pernah terlibat dalam Rumah Sakit Jiwa tahun 1991. Selebihnya adalah generasi baru Teater Koma yang memiliki kesempatan mengeksplorasi karakter-karakter dalam lakon ini dengan sudut pandang mereka sendiri. Harapannya, penonton tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga diajak pulang membawa refleksi untuk terus memperlakukan manusia lain sebagai manusia,” ujar Rangga Riantiarno, Sutradara Rumah Sakit Jiwa.
Selain proses pendalaman karakter, identitas visual setiap tokoh juga menjadi perhatian dalam pementasan ini. Samuel Wattimena bersama Rima Ananda merancang kostum yang tidak hanya merepresentasikan profesi masing-masing tokoh, tetapi juga mengekspresikan kondisi kejiwaan, dinamika psikologis, serta perjalanan karakter sepanjang pertunjukan.
Pementasan Rumah Sakit Jiwa berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Pertunjukan digelar setiap pukul 19.30 WIB, dengan tambahan pertunjukan pada Sabtu (1 Agustus) pukul 13.30 WIB dan Minggu (2 Agustus) pukul 13.30 WIB.
Pementasan Rumah Sakit Jiwa terselenggara berkat dukungan Bank BCA, Jakpro, Taman Ismail Marzuki, PAC Martha Tilaar, Canon Indonesia, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Loket.com, DSS Don Sistem Suara, Wihendra Exhibition, dan Thunder Lighting yang bersama-sama berkontribusi dalam menghadirkan kembali salah satu karya penting Teater Koma kepada masyarakat.


