Internasional

Tak Pernah Pasok Senjata, UEA Kerahkan Bantuan Kemanusiaan Terbesar Kedua untuk Sudan

×

Tak Pernah Pasok Senjata, UEA Kerahkan Bantuan Kemanusiaan Terbesar Kedua untuk Sudan

Sebarkan artikel ini

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri menegaskan komitmen UEA mendukung upaya mengatasi krisis di Sudan serta memastikan stabilitas dan pembangunan berkelanjutan bagi rakyat negara itu.

Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri. (Foto: SH/Hima Maitreya)

SinarHarapan.id – Di ruang majelis atau ruang tamu kediamannya yang tenang di Jakarta Selatan, Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Di hadapannya, para jurnalis menunggu dengan catatan terbuka.

“Sekarang saya akan berbicara soal Sudan,” katanya, setelah menjelaskan berbagai hubungan erat Indonesia dengan Sudan, sikap dan dukungan UEA terhadap Palestina. Isu Sudan diangkat lantaran sejumlah wartawan telah menyampaikan bahwa mereka ingin menanyakan kebenaran dari rumor yang beredar tentang keterlibatan UEA di Sudan.

Baca Juga: UEA dan UAI Rayakan Bahasa Arab sebagai Jembatan Dunia

Dubes Al Dhaheri pun memulai penuturannya dengan tenang. Tidak berbicara dengan nada defensif, tetapi lebih seperti seseorang yang ingin menuturkan kisah yang lama disimpannya—kisah tentang upaya yang tidak pernah diumumkan, tentang bantuan yang dijalankan diam-diam, dan tentang tuduhan yang menurutnya keliru.

Rencana Rumah Sakit yang Gugur di Pintu Sudan

Ia mengawali cerita dari masa ketika Retno Marsudi masih menjabat Menteri Luar Negeri. Saat itu, UEA dan Indonesia tengah merancang sebuah rumah sakit kemanusiaan di Sudan. UEA, sebutnya, telah menyiapkan komitmen, tenaga medis, hingga model operasional. Enam hingga tujuh rumah sakit UEA disebut siap ditempatkan sebagai basis kerja sama.

Namun, perjalanan panjang itu berhenti mendadak. “Pemerintah Sudan menolak proposal itu,” ujarnya. Suaranya datar, seperti mencoba menahan kekecewaan.

Tidak pernah ada konferensi pers. Tidak ada publikasi. Rencana itu menguap begitu saja.

“Ini contoh bagaimana kami bekerja. Banyak yang tidak kami ceritakan,” katanya. “Tetapi itu tidak berarti kami tidak hadir.”

Angka yang Tak Berbohong

Lalu ia menyebut angka. Angka-angka yang mungkin telah dibahas berkali-kali di ruang-ruang rapat internasional, tetapi jarang muncul dalam diskusi publik.

Sejak konflik Sudan pecah pada April 2023, UEA menyalurkan sekitar 784 juta dolar AS bantuan kemanusiaan. Angka itu menjadikan UEA penyumbang bantuan terbesar kedua setelah Amerika Serikat.

Jika dihitung sejak 2015, total bantuan UEA mencapai 4,24 miliar dolar AS untuk berbagai program kemanusiaan, mulai dari evakuasi warga hingga suplai medis.

“Kami membantu karena rakyat Sudan membutuhkannya,” katanya. “Bukan untuk kepentingan politik.”

Di Antara Dua Pihak yang Sama-Sama Kehilangan Legitimasi

Al Dhaheri kemudian menyinggung inti dari tragedi Sudan: perang antara dua pusat kekuatan, pemerintahan Sudan Air Force (SAF) dan Rapid Support Forces (RFS). Baginya, kedua kubu telah kehilangan legitimasi moral untuk memimpin masa depan negara itu.

“Keduanya tidak memenuhi tanggung jawab terhadap rakyat Sudan,” ujarnya tegas. “Tidak seharusnya mereka menjadi bagian dari kepemimpinan ke depan.”

UEA kini bekerja bersama Amerika Serikat, Mesir, dan Arab Saudi melalui mekanisme The Quad untuk mendorong gencatan senjata tiga bulan serta membuka jalan menuju transisi sembilan bulan menuju pemerintahan sipil.

Ia menyebut langkah itu sebagai “pilihan yang paling masuk akal” untuk keluar dari lingkar kekerasan.

Menjawab Tuduhan, Menyampaikan Kisah yang Tak Didengar

Di tengah upaya yang panjang itu, UEA justru menghadapi tuduhan memasok senjata kepada salah satu kubu. Al Dhaheri memandang tuduhan itu sebagai bentuk pengalihan isu oleh pemerintah Sudan.

“Cerita itu palsu,” katanya tanpa ragu. Ia menyebut keputusan Pengadilan Internasional di Den Haag pada April 2025 yang menolak klaim Sudan sebagai bukti kuat bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar.

Ia mengaku sering mendengar narasi satu sisi beredar luas. “Karena itu, saya ingin menceritakan kisah kami,” tuturnya.

“Siapa yang Menderita? Orang Sudan.”

Ada satu kalimat yang diucapkannya perlahan, hampir seperti renungan. “Siapa yang hidup dalam penolakan? Siapa yang menderita? Orang Sudan.”

Di balik data, diplomasi, dan geopolitik, Al Dhaheri ingin menegaskan satu hal: perang membuat banyak orang menderita, dan korban jiwa. Bagi UEA, Sudan bukan sekadar isu politik internasional. Ini adalah cerita panjang tentang upaya yang tidak selalu terlihat, tentang diplomasi yang kadang berakhir tanpa tepuk tangan, dan tentang keyakinan bahwa stabilitas hanya bisa dimulai ketika perang dihentikan.