Ekonomi

Kerja Sama Bisnis Dunia Islam Perlu Terobosan Inovatif dan Inklusif

×

Kerja Sama Bisnis Dunia Islam Perlu Terobosan Inovatif dan Inklusif

Sebarkan artikel ini

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, menekankan perlunya terobosan baru dalam kerja sama bisnis di Dunia Islam.

SinarHarapan.id – Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, menekankan perlunya terobosan baru dalam kerja sama bisnis di Dunia Islam. Berbicara pada Global Muslim Business Forum (GMBF) 2025 di Kuala Lumpur, ia menyatakan bahwa kolaborasi ekonomi antara negara-negara Muslim harus dijalankan secara sungguh-sungguh, strategis, inovatif, dan inklusif.

Forum yang dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai negara ini mempertemukan pebisnis, pembuat kebijakan, dan pemerhati ekonomi Islam. Sejumlah tokoh global hadir, termasuk Ketua Senat Pakistan sekaligus mantan Perdana Menteri Syed Yousaf Raza Gilani; Utusan Khusus Pemerintah Kamboja ke OKI Neak Oknha Datok Othman Hassan; Gubernur Malaka Tun Seri Mulia Haji Mohd Ali bin Mohd Rustam; Ketua Islamic Chamber of Commerce and Development Saleh Kamel; dan Ketua GMBF Dato Seri Mohammad Iqbal Rawther serta Tan Sri Michael Yeoh.

Potensi Besar yang Belum Terwujud

Din Syamsuddin mengawali paparannya dengan sebuah disclaimer bahwa dirinya bukan pelaku bisnis, tetapi seorang yang peduli terhadap pembangunan ekonomi umat. Ia menilai potensi ekonomi Dunia Islam sangat besar, baik dari sisi sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Namun, potensi itu belum termanifestasi optimal.

Prof. Din  menyebut beberapa penyebab utama:

  1. Rendahnya tingkat kerja sama antarnegara Muslim.

  2. Ketiadaan mekanisme pertahanan ekonomi terhadap liberalisasi global.

  3. Minimnya dukungan negara terhadap kemajuan ekonomi rakyat dan pelaku usaha Muslim.

Dorongan untuk Inovasi dan Basis Data Bersama

Prof. Din menekankan pentingnya strategi bisnis yang inovatif. Negara-negara Muslim perlu mengembangkan produk baru yang sesuai kebutuhan pasar dan memperkuat perdagangan antardaerah maupun antarnegara.

Untuk itu, Prof. Din mengusulkan:

  • Pembentukan basis data kolektif mengenai supply dan demand di negara-negara Islam.

  • Pengembangan pola kemitraan yang berasaskan keuntungan bersama.

  • Kerja sama interkoneksi pasar domestik dan regional di dalam teritori negara-negara besar.

Peran OKI yang Lebih Proaktif

Guru Besar Politik Islam Global UIN Jakarta itu menilai Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) harus mengambil peran lebih aktif dalam mendorong integrasi ekonomi. OKI, menurutnya, seyogianya menjadi katalisator bagi perdagangan, investasi, dan pengembangan industri lintas negara anggota.

Kerja Sama yang Inklusif

Sebagai penutup, Din Syamsuddin menegaskan bahwa kolaborasi ekonomi Dunia Islam tidak boleh eksklusif. Kerja sama harus dibangun dengan negara mana pun, sepanjang tidak mengandung unsur dominasi ataupun eksploitasi.

“Kerja sama yang inklusif adalah kunci bagi kemajuan ekonomi umat dan kontribusi Dunia Islam bagi peradaban global,” katanya.