Internasional

Kartunis Indonesia Tembus Nominasi Internasional di Tunisia

×

Kartunis Indonesia Tembus Nominasi Internasional di Tunisia

Sebarkan artikel ini

Sejumlah kartunis Tanah Air berhasil masuk nominasi dalam kompetisi kartun pers internasional “Désertif’actions 2026” yang akan digelar di Tunisia pada 25–28 Maret 2026.

Agus Harsanta dalam karyanya "Peacekeepers".

SinarHarapan.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan seniman Indonesia di panggung global. Sejumlah kartunis Tanah Air berhasil masuk nominasi dalam kompetisi kartun pers internasional “Désertif’actions 2026” yang akan digelar di Tunisia pada 25–28 Maret 2026.

Ajang ini merupakan bagian dari Konferensi Tingkat Tinggi Désertif’actions yang mengangkat tema besar “Ketahanan Teritorial dalam Menghadapi Krisis”. Melalui medium kartun pers, kompetisi ini menjadi ruang refleksi kritis atas isu-isu global, khususnya yang berkaitan dengan pastoralisme dan kehidupan di wilayah kering.

Suara Indonesia di Panggung Global

Tiga kartunis Indonesia berhasil menarik perhatian juri internasional dengan karya-karya yang kuat secara visual dan pesan.

Priyo Wicaksono menghadirkan karya berjudul “SOS”, yang menggambarkan kawanan domba membentuk tulisan SOS di tengah lanskap tandus. Ilustrasi ini menjadi simbol kuat krisis lingkungan dan jeritan ekosistem yang terancam.

Priyo Wicaksono menghadirkan karya berjudul “SOS”.

Sementara itu, Thomdean Tommy melalui karya “Pastoral Tour” menawarkan pendekatan satire. Ia menggambarkan dunia pastoralisme sebagai objek wisata, memperlihatkan ironi antara realitas kehidupan peternak dengan cara pandang modern yang cenderung eksploitatif.

Agus Harsanta tampil dengan karya “Peacekeepers”, yang menyajikan metafora tajam tentang konflik dan kekuasaan. Dalam ilustrasinya, tank yang dipenuhi domba mencerminkan paradoks antara kekuatan militer dan simbol kedamaian.

Tema Besar: Pastoralisme dan Ketahanan

Kompetisi tahun ini mengangkat tema “pastoralisme, mobilitas di jantung keseimbangan”. Tema tersebut dinilai relevan karena mencerminkan hubungan kompleks antara manusia, alam, dan keberlanjutan hidup di wilayah kering.

“Pastoral Tour” karya Thomdean Tommy.

Para peserta diajak mengeksplorasi berbagai isu, mulai dari mobilitas sebagai strategi adaptasi, perubahan iklim, konflik lahan, hingga identitas budaya masyarakat pastoral. Pendekatan yang digunakan pun beragam, dari humor hingga kritik sosial yang tajam.

Partisipasi Global dan Seleksi Ketat

Tahun ini, kompetisi mencatat partisipasi tinggi dengan 272 seniman dari 53 negara yang mengirimkan 486 karya. Dari jumlah tersebut, hanya 30 karya terbaik yang dipilih untuk dipamerkan selama KTT berlangsung.

Proses seleksi dilakukan secara intensif. Dewan juri yang terdiri dari kartunis, akademisi, jurnalis, dan pakar pastoralisme menghabiskan lebih dari empat jam untuk menilai seluruh karya yang masuk. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, memastikan penilaian yang komprehensif dan berimbang.

Dari kiri ke kanan: Isabelle Teysseidre, Manuel Lapers, Jean-Michel Renault, Pierre Balhouet, Alain Plombat, Adeline Derkimba, Patrice Burger

Lebih dari Sekadar Kompetisi

Kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang penghargaan, tetapi juga medium advokasi global. Kartun pers dipilih karena kemampuannya menyampaikan pesan kompleks secara sederhana, tajam, dan lintas budaya.

Pemenang pertama akan memperoleh hadiah sebesar €1.500, sementara pemenang kedua €750. Selain itu, pemenang utama berkesempatan diundang ke Djerba, Tunisia, untuk menghadiri langsung rangkaian acara Désertif’actions 2026.

Keberhasilan kartunis Indonesia menembus nominasi ini menjadi bukti bahwa karya visual dari Tanah Air mampu berbicara di tingkat dunia. Lebih dari itu, karya-karya tersebut menunjukkan bahwa isu lokal dapat diangkat menjadi narasi global yang relevan dan menggugah kesadaran bersama.

Internasional

SinarHarapan.id –  Upaya Indonesia memperkuat kemandirian teknologi memasuki babak baru. Presiden Prabowo Subianto, menyaksikan penandatanganan kerangka kerja antara Danantara…