Gaya Hidup

Bukan Ubah Wajah Jadi Orang Lain, Dokter Bedah Plastik Ungkap Esensi ‘Harmoni Wajah’

×

Bukan Ubah Wajah Jadi Orang Lain, Dokter Bedah Plastik Ungkap Esensi ‘Harmoni Wajah’

Sebarkan artikel ini
Kembali Muda 20 Tahun Tanpa Operasi Besar? Teknik SMAS Deep-Plane Kini Hadir di Indonesia.(Doc)
Kembali Muda 20 Tahun Tanpa Operasi Besar? Teknik SMAS Deep-Plane Kini Hadir di Indonesia.(Doc)

SinarHarapan.id-Selama ini, masyarakat awam kerap mengidentikkan bedah estetik dengan upaya mengubah total bentuk wajah menjadi mirip artis atau mengikuti tren kecantikan tertentu. Padahal, menurut para ahli, esensi prosedur ini bukanlah “mengubah”, melainkan mengembalikan proporsi alami, karakter, dan keselarasan wajah itu sendiri.

Dalam dunia medis, prinsip ini dikenal dengan istilah facial harmony atau harmoni wajah. Seorang spesialis bedah plastik rekonstruktif dan estetik, dr. Alexander Perkasa-Hendropriyono, Sp.B.P.R.E., M.Ked.Klin, menjelaskan bahwa wajah yang menarik tidak ditentukan oleh satu bagian yang menonjol, melainkan keseimbangan (balance) antarseluruh fitur, mulai dari garis rambut (hairline), area mata, hidung, hingga kontur rahang.

“Kami melihat wajah sebagai satu kesatuan yang utuh. Bukan sekadar menghilangkan kerutan atau mengangkat kulit kendur. Tujuannya adalah menciptakan harmonisasi sehingga hasilnya tetap natural dan mempertahankan jati diri pasien,” ujar dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah, Jakarta.(30/3)

Teknik Baru: Facelift Tak Lagi Kaku

Untuk mencapai harmoni tersebut, dunia bedah plastik global telah bertransformasi dengan mengadopsi teknik minimal invasif yang tetap memberikan hasil signifikan dan tahan lama. Salah satu inovasi yang menjadi sorotan adalah teknik SMAS (Superficial Musculoaponeurotic System) deep-plane untuk prosedur facelift.

Berbeda dengan metode lama yang hanya menarik kulit dan sering menghasilkan tampilan kaku, teknik SMAS deep-plane bekerja dengan mengangkat serta mereposisi jaringan otot dan lemak di bawah kulit ke posisi asalnya. dr. Alexander mengklaim, prosedur ini mampu membuat wajah tampak 15 hingga 20 tahun lebih muda secara natural.

“Teknik ini kini menjadi standar baru. Kami sering mengkombinasikannya dengan fat grafting dan terapi exosome untuk mempercepat pemulihan jaringan serta meningkatkan elastisitas kulit,” tambahnya.

Baca juga : RSPI Kasih Tips Pola Hidup Sehat Jelang Liburan

Tren Kecantikan Asia: Perkuat Struktur Sendiri

Pergeseran standar kecantikan juga turut memengaruhi prosedur populer seperti rhinoplasty (bedah hidung) dan blepharoplasty (bedah kelopak mata). Jika dulu trennya meniru anatomi Barat yang tirus dan lipatan mata tebal, kini pendekatan berubah.

Prosedur di Asia, termasuk Indonesia, dirancang khusus untuk memperkuat struktur anatomi khas masyarakat setempat. Dokter akan menyesuaikan hasil operasi dengan bentuk tulang wajah pasien, sehingga perubahan yang dilakukan justru mempertegas karakter Asia yang harmonis, bukan menghilangkannya.

Solusi untuk Kerontokan Rambut: FUE Tanpa Bekas

Bagi mereka yang mengalami penipisan rambut atau garis rambut yang mundur, teknik Follicular Unit Extraction (FUE) menjadi angin segar. Metode minimal invasif ini mengambil unit folikel rambut satu per satu secara presisi dari area donor.

Keunggulan utamanya adalah tidak meninggalkan bekas jahitan garis panjang seperti teknik lama. Pasien hanya merasakan minim nyeri dengan masa pemulihan relatif singkat, sekitar 3 hingga 5 hari. Hasil kepadatan rambut pun tampak alami. Teknik yang sama juga dapat diaplikasikan untuk transplantasi alis, janggut, hingga kumis.

Tak Perlu ke Luar Negeri, Riset Dokter Indonesia Diakui Dunia

Kabar baiknya, seluruh teknik global tersebut kini telah tersedia dan dapat dilakukan di tanah air dengan dukungan tim dokter spesialis kompeten serta teknologi medis terkini. Masyarakat tidak perlu lagi bepergian ke pusat kecantikan dunia seperti Korea Selatan atau Australia untuk mendapatkan hasil optimal.

Kompetensi dokter dalam negeri pun terus diakui. dr. Alexander, yang merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada (S1) dan Universitas Airlangga (Spesialis & Magister), tercatat kerap mengikuti pelatihan internasional bergengsi. Di antaranya fellowship di Hanyang University (Korea Selatan, 2024) dan Macquarie University (Australia, 2026).

Bahkan, karya ilmiah terbarunya yang berjudul “Exosome Therapy for Flap and Skin Graft Survival: A Systematic Review and Meta-Analysis of Preclinical Evidence” berhasil dipublikasikan di Journal of Plastic, Reconstructive & Aesthetic Surgery pada tahun 2026.

“Prosedur estetik terbaik adalah ketika tepat dan sesuai dengan kebutuhan anatomi serta tujuan pasien. Kami mengimbau masyarakat untuk selalu berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah plastik rekonstruktif dan estetik sebelum memutuskan tindakan,” pungkas dr. Alexander.