Nasional

22 Hari Menyusuri 4 Provinsi, Dokumenter Wallacea Angkat Ancaman dan Harapan Laut Timur Indonesia

×

22 Hari Menyusuri 4 Provinsi, Dokumenter Wallacea Angkat Ancaman dan Harapan Laut Timur Indonesia

Sebarkan artikel ini
Film Dokumenter "The Wallacea Trail" Dirilis, Soroti Praktik Destruktif Penangkapan Ikan di Kawasan Timur Indonesia.(Doc)
Film Dokumenter "The Wallacea Trail" Dirilis, Soroti Praktik Destruktif Penangkapan Ikan di Kawasan Timur Indonesia.(Doc)

SinarHarapan.id-Sebuah film dokumenter berjudul The Wallacea Trail resmi diluncurkan hari ini di Auditorium I CGV FX Sudirman, Jakarta. Film yang digarap oleh Burung Indonesia bersama mitra serta didukung Dana Kemitraan Ekosistem Kritis (CEPF) melalui program Wallacea II ini mengisahkan perjuangan nyata masyarakat pesisir di kawasan Wallacea melawan praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan, seperti penggunaan bom, racun, serta perburuan penyu yang dilindungi.

Produksi film berdurasi sekitar satu jam itu melibatkan lima personel utama dan sejumlah kru lapangan. Mereka menembak selama 22 hari di empat provinsi di Indonesia Timur. Produser sekaligus sutradara The Wallacea Trail, Sam Agustus Himmawan, mengungkapkan bahwa lokasi syuting sangat menantang. “Tim harus menyeberang ke pulau-pulau kecil menggunakan perahu nelayan, menyelam di kawasan konservasi, dan mendaki bukit curam menuju desa adat,” ujarnya usai pemutaran perdana, Rabu (6/5).

Kawasan Wallacea dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang luar biasa, mulai dari terumbu karang, hutan bakau, hingga padang lamun. Namun, ancaman terhadap ekosistem tersebut terus meningkat, terutama dari sektor perikanan skala kecil yang menjadi mata pencaharian utama penduduk. Praktik penangkapan ikan dengan bahan peledak dan racun tidak hanya membunuh biota laut, tetapi juga membahayakan jiwa manusia. Selain itu, aktivitas memancing masih terjadi di zona inti kawasan konservasi laut, baik yang berstatus perlindungan formal maupun kawasan kelola masyarakat.

Spesialis Kelautan Burung Indonesia sekaligus Ketua Tim Program Wallacea II, Wahyu Teguh Prawira, menjelaskan bahwa program ini merupakan kelanjutan dari hibah untuk organisasi masyarakat sipil di tujuh koridor kelautan, meliputi Togean-Banggai, Kepulauan Pangkajene, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Alor-Solor, dan Laut Sawu. “Kami berupaya memperkuat masyarakat menjaga pesisir dan laut sebagai lumbung pangan mereka. Kami mengajak masyarakat mengingat kembali pengetahuan lokal dan sistem kelola adat,” tuturnya.

Hingga saat ini, program Wallacea II telah berkontribusi menurunkan ancaman terhadap spesies laut yang dilindungi dan terancam punah, serta meningkatkan tata kelola di 14 Key Biodiversity Area. Program juga menciptakan sumber pendapatan baru bagi perempuan pesisir dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitar secara lestari. Tantangan ke depan adalah memastikan inisiatif konservasi berbasis masyarakat diadopsi secara luas, terhubung dengan kebijakan pemerintah, serta berkelanjutan melampaui masa pendanaan. Burung Indonesia mengajak semua pemangku kepentingan berkolaborasi menjaga laut sebagai sumber kehidupan dan masa depan bersama.