SinarHarapan.id- Cerita Drama Romantis dengan pemeran dua orang anak muda mungkin sudah biasa, tetapi peran Kakek-Nenek terlibat asmara setelah puluhan tahun tak jumpa itu yang bikin menarik di cerita film berjudul CLBK (Cinta Lama Babak Kedua).
Dua aktor senior Indonesia, Widyawati dan Slamet Rahardjo menjadi poros persoalan dari premis film ini. Diperankan dengan sangat baik oleh dua aktor legendaris tersebut, keseluruhan cerita menjadi sangat kuat, dialog-dialognya menarik dan mudah diingat.
Widyawati memerankan Nin Sita, sementara Slamet Rahardjo berperan sebagai Akung Abi. Keduanya dikisahkan sebagai mantan kekasih yang dipertemukan kembali setelah lima tahun berpisah. Pertemuan itu justru memunculkan kembali perasaan yang belum benar-benar usai sekaligus memicu konflik di tengah keluarga mereka.
Menurut Widyawati, kisah yang diangkat dalam film tersebut terasa dekat dengan kehidupan banyak orang. Fenomena cinta lama bersemi kembali atau CLBK, kata dia, bukanlah sesuatu yang asing di masyarakat.
“Menarik. Sangat menarik. Karena ini relate ya, pasti ada beberapa orang yang seperti ini. Meskipun tidak persis seperti ini, tapi pasti ada orang yang mengalami CLBK,” ujar Widyawati dalam konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (26/6/26).

Meski mengangkat tema romantis, film ini menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Jika kebanyakan film percintaan berpusat pada pasangan muda, CLBK justru menempatkan kisah asmara dua lansia sebagai poros utama cerita.
Chemistry antara Widyawati dan Slamet Rahardjo menjadi kekuatan film. Pengalaman panjang keduanya di dunia seni peran membuat dialog serta emosi yang dibangun terasa alami dan menyentuh.
Sutradara sekaligus penulis film, Ivander Tedjasukmana, mengaku naskah CLBK telah disimpannya hampir satu dekade sebelum akhirnya diproduksi.
“Film ini sudah lama tersimpan dalam library saya, hampir 10 tahun. Baru dapat kesempatan tahun lalu bisa diproduksi, dan tayang 2026 ini. Luar biasa banget rasanya,” kata Ivander.
Baginya, mengarahkan dua aktor legendaris dalam satu film menjadi pengalaman berharga.
“Men-direct dua orang senior dalam satu frame itu jadi tantangan tersendiri. Tapi namanya senior, dikasih arahan sedikit sudah langsung paham. Saya belajar banyak sama mereka,” jelasnya.
Selain menghadirkan kisah Nin Sita dan Akung Abi di masa kini, film ini juga membawa penonton melihat perjalanan cinta mereka semasa muda melalui karakter Abi muda yang diperankan Yusuf Mahardhika dan Sita muda yang dimainkan Gisellma Firmansyah.
Konflik kemudian berkembang ketika cucu mereka, Raka (Iskak Khivano) dan Ambar (Sintya Marisca), yang tengah bersiap menikah harus menghadapi kenyataan bahwa kakek dan nenek mereka pernah memiliki kisah cinta yang berakhir pahit.
Upaya Raka dan Ambar untuk mendamaikan masa lalu justru membuka luka lama. Namun, sebuah pertemuan tak terduga di Bandung membuat Nin Sita dan Akung Abi kembali menghabiskan waktu bersama. Dari situlah benih-benih cinta lama kembali tumbuh, menghadirkan dinamika baru yang tak hanya mengubah hubungan keduanya, tetapi juga memepengaruhi generasi muda.
Co-Producer sekaligus Founder MIR Productions, Vladimir Rama, menilai premis CLBK menjadi daya tarik utama film tersebut.
“Premis film ini tidak biasa, meskipun pengalaman di dalamnya bisa saja terjadi pada kita semua. Kita butuh film-film seperti ini untuk bisa dinikmati oleh pecinta film Indonesia. Saya puas dengan hasilnya,” ujar Rama.
Ia juga menilai perpaduan drama romantis dengan sentuhan komedi membuat film terasa ringan tanpa menghilangkan sisi emosionalnya.

Selain Widyawati dan Slamet Rahardjo, juga dibintangi Sarah Sechan, Kiki Narendra, Iyang Dharmawan, Febry Khey, Annisa Kaila, Sintya Marisca, Iskak Khivano, Yusuf Mahardhika, dan Gisellma Firmansyah. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 2 Juli 2026.



