Gaya Hidup

Gejala Sering Diabaikan, Kanker Endometrium Mengintai Perempuan Pascamenopause

×

Gejala Sering Diabaikan, Kanker Endometrium Mengintai Perempuan Pascamenopause

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Di tengah hiruk-pikuk kesibukan sehari-hari, banyak perempuan mengabaikan perdarahan yang tidak biasa sebagai gangguan menstruasi biasa atau bagian alami dari proses penuaan. Padahal, perdarahan setelah menopause merupakan gejala utama kanker endometrium—jenis kanker yang tumbuh di lapisan dalam rahim dan kini mulai meningkat di Indonesia.

Kanker endometrium menempati peringkat ketiga kanker ginekologi di Indonesia setelah kanker serviks dan ovarium. Dalam beberapa tahun terakhir, insidennya meningkat dua kali lipat. Secara global, terdapat 420.000 kasus baru setiap tahunnya dengan angka kematian mencapai 29 persen.

Sayangnya, kesadaran masyarakat masih rendah. Perdarahan tidak teratur di usia menjelang menopause sering dianggap “wajar” karena sedang “penghabisan darah”. Akibatnya, penanganan baru dilakukan ketika kondisi memburuk dan kanker telah memasuki stadium lanjut.

“Padahal, kanker endometrium memiliki peluang kesembuhan yang cukup baik jika terdeteksi sejak dini pada stadium awal,” ujar dr. Renny Anggia Julianti, Sp.O.G, Subsp.Onk., Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi RS Pondok Indah – Bintaro Jaya.

Faktor Risiko dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
Penyebab pasti kanker endometrium belum diketahui, namun kondisi ini sangat berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon. Hormon estrogen yang terlalu tinggi tanpa diimbangi progesteron dapat memicu penebalan dinding rahim yang berujung pada kanker.

Dr. Renny menjelaskan bahwa seorang perempuan akan lebih berisiko jika memiliki faktor risiko seperti obesitas, gaya hidup sedentari, infertilitas, sindrom metabolik (diabetes, hipertensi), serta faktor genetik seperti Lynch syndrome atau mutasi gen BRCA.

“Selain perdarahan setelah menopause, perubahan pola menstruasi seperti perdarahan sangat hebat atau flek di luar jadwal haid juga perlu diwaspadai,” jelasnya. Gejala tambahan lainnya meliputi keputihan encer atau bercampur darah, nyeri panggul, dan sakit saat berhubungan intim.

Diagnosis dan Pilihan Penanganan
Diagnosis pasti ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi dari sampel jaringan yang diambil melalui biopsi. Dokter dapat menggunakan beberapa metode, mulai dari mikrokuret pipelle yang relatif sederhana, kuretase untuk pengambilan sampel lebih menyeluruh, hingga histeroskopi dengan kamera khusus.

Penanganan ditentukan berdasarkan stadium dan kondisi pasien. Operasi pengangkatan rahim menjadi pengobatan utama, terutama pada stadium awal. Radioterapi, kemoterapi, dan terapi hormonal juga tersedia sesuai indikasi.

“Jangan abaikan perdarahan vagina yang tidak normal, terutama setelah menopause. Semakin dini terdeteksi, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan dan kualitas hidup pasien tetap terjaga,” pungkas dr. Renny.

Meski belum ada pemeriksaan screening rutin, risiko dapat dikurangi dengan menjaga berat badan ideal, olahraga teratur, mengelola penyakit penyerta, dan berkonsultasi dengan dokter mengenai pilihan kontrasepsi yang sesuai.

Kanker endometrium mengintai tanpa pandang usia. Kesadaran dan deteksi dini adalah kunci menyelamatkan nyawa.