Gaya Hidup

Hampir Seperempat Orang Dewasa Alami Obesitas, APL Luncurkan Kampanye “Berani Bicara Berat”

×

Hampir Seperempat Orang Dewasa Alami Obesitas, APL Luncurkan Kampanye “Berani Bicara Berat”

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Sebanyak 23,4 persen orang dewasa di Indonesia hidup dengan obesitas, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023. Angka itu berarti hampir satu dari empat orang dewasa, dengan prevalensi pada perempuan mencapai 31,2 persen, dua kali lipat dibanding laki-laki. Kondisi ini menjadi tantangan kesehatan yang serius.

PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), perusahaan Zuellig Pharma, meluncurkan kampanye “Berani Bicara Berat” di Jakarta, Jumat (14/8). Kampanye ini mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap obesitas, dari sekadar soal penampilan menjadi penyakit kronis yang kompleks dan membutuhkan penanganan medis yang tepat.

Selama ini, obesitas kerap dipandang sebagai persoalan tanggung jawab pribadi dan gaya hidup kurang sehat. Pandangan ini dapat memperkuat stigma sosial yang membuat individu enggan mencari pertolongan medis dan dukungan klinis. Stigma ini juga berdampak pada kesejahteraan psikologis dan perilaku kesehatan.

“Obesitas bukan sekadar persoalan berat badan atau gaya hidup. Obesitas merupakan penyakit kronis yang kompleks,” tegas Ketua HISOBI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono. Ia menekankan pentingnya edukasi dan perubahan perilaku agar mereka yang hidup dengan obesitas mendapat penanganan tepat.

Kampanye ini hadir untuk meluruskan persepsi keliru, dengan menempatkan obesitas sebagai penyakit yang memerlukan penanganan berkelanjutan. “Tidak seorang pun seharusnya menghadapi tantangan obesitas seorang diri,” ujar Ay Lie Widjaja, COO Commercialization APL. Edukasi berbasis sains menjadi kunci utama.

Diskusi panel “Berani Bicara Berat, Awali dengan Langkah yang Tepat” menghadirkan para pakar. Mereka membahas bahwa penanganan obesitas membutuhkan pendekatan jangka panjang, bukan sekadar mengejar angka di timbangan. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko komplikasi.

Ketua PERKENI, Prof. Dr. dr. Em Yunir, mengingatkan lemak di rongga perut lebih berbahaya karena mengandung banyak hormon. Penumpukan lemak perut meningkatkan risiko diabetes, gangguan kolesterol, hipertensi, hingga penyakit jantung. Lingkar pinggang jadi indikator penting: lebih dari 90 cm untuk pria dan 80 cm untuk wanita.

Kompleksitas obesitas menunjukkan pendekatan “satu ukuran untuk semua” tidak tepat. Ketua PDGKI, dr. Erwin Christianto, mengatakan penanganan tidak cukup hanya mengurangi nasi, karena pola dan kebiasaan makan setiap orang berbeda. Penanganan perlu dipersonalisasi sesuai kebutuhan masing-masing.

Erwin mengingatkan jangan menunggu sakit baru menangani obesitas. Ia menganjurkan masyarakat mengamati, mengukur, dan bertindak: cermati perubahan tubuh, ukur berat dan lingkar perut, lalu lakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan. Deteksi dini dapat mencegah komplikasi serius.

Sebagai bagian kampanye, APL meluncurkan microsite edukasiĀ www.obesityisadisease-id.com. Sumber berbasis sains ini membantu masyarakat memahami obesitas, meluruskan miskonsepsi, dan menyadari pentingnya penanganan yang tepat. Edukasi ini diharapkan mendorong lebih banyak orang berani mengambil langkah pertama.