SinarHarapan.id – Ketegangan geopolitik yang terus meningkat, konflik yang berkepanjangan di berbagai belahan dunia, hingga munculnya ancaman keamanan nontradisional menuntut kawasan Indo-Pasifik memiliki mekanisme kerja sama yang lebih efektif. Di tengah dinamika tersebut, Indonesia menyerukan revitalisasi ASEAN Regional Forum (ARF) agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan prinsip utama Sentralitas ASEAN.
Seruan itu disampaikan Menteri Luar Negeri RI Sugiono dalam Pertemuan ke-33 ASEAN Regional Forum (ARF) di Manila, Filipina, Kamis (23/7/2026). Indonesia menilai ARF tetap menjadi forum strategis yang mempertemukan negara-negara utama di kawasan, namun kini memerlukan pembaruan agar tidak sekadar menjadi ruang dialog, melainkan mampu menghasilkan langkah nyata dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional.
Menurut Sugiono, lingkungan strategis kawasan telah berubah secara signifikan sejak ARF pertama kali dibentuk pada 1994. Persaingan kekuatan besar, konflik bersenjata, ancaman siber, kejahatan lintas negara, hingga dampak perubahan iklim menuntut forum tersebut bekerja lebih adaptif.
“Revitalisasi tidak berarti mengubah tujuan mendasar ARF. Revitalisasi berarti memperkuat perangkat yang dimiliki ARF agar lebih modern dan mampu menjawab tantangan nyata kawasan,” tegas Sugiono.
Dari Forum Dialog Menuju Aksi Nyata
Indonesia menegaskan bahwa ARF harus bergerak menuju forum yang lebih berorientasi pada implementasi. Menurut Sugiono, keberhasilan forum regional tidak lagi diukur dari banyaknya pertemuan yang diselenggarakan, tetapi dari kemampuan menghasilkan kerja sama konkret yang memberikan manfaat nyata bagi negara-negara anggota.
Karena itu, Indonesia menyambut diadopsinya Manila Plan of Action 2026–2036, yang akan menjadi pedoman kerja ARF selama satu dekade ke depan.
Sugiono berharap rencana aksi tersebut tidak berhenti sebagai dokumen diplomatik semata, tetapi menjadi dasar lahirnya berbagai kemitraan yang mampu memperkuat keamanan kawasan.
“Ini membutuhkan ARF yang bersifat implementation-oriented, di mana seluruh program kerja ARF harus menjadi kemitraan yang konkret,” ujarnya.
Diplomasi Preventif Menjadi Prioritas
Dalam pidatonya, Menlu Sugiono juga menekankan pentingnya memperkuat diplomasi preventif sebagai arah pengembangan ARF ke depan.
Menurutnya, forum ini harus mampu membantu mencegah meningkatnya ketegangan sebelum berkembang menjadi konflik terbuka. Pendekatan tersebut dinilai jauh lebih efektif dibandingkan menyelesaikan konflik yang telah terjadi.
Indonesia juga menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip Treaty of Amity and Cooperation (TAC) sebagai fondasi dalam membangun hubungan antarnegara di kawasan.
Bagi Indonesia, stabilitas kawasan hanya dapat terwujud apabila seluruh negara mengedepankan dialog, membangun kepercayaan, serta menyelesaikan setiap perbedaan melalui cara-cara damai.
Sentralitas ASEAN Tetap Menjadi Kunci
Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global, Indonesia kembali mengingatkan bahwa Sentralitas ASEAN harus tetap menjadi fondasi utama arsitektur kawasan Indo-Pasifik.
Sugiono menilai ARF tetap relevan karena menjadi satu-satunya forum yang mempertemukan negara-negara ASEAN bersama berbagai mitra strategis dari kawasan Asia-Pasifik dan negara-negara besar dunia.
Indonesia juga menyambut keputusan ASEAN menerima Inggris sebagai anggota ke-28 ARF. Menurut Sugiono, perluasan keanggotaan harus berjalan seiring dengan upaya meningkatkan efektivitas forum agar tetap mampu menghasilkan keputusan yang berdampak nyata.
Berkontribusi bagi Perdamaian Dunia
Menutup pernyataannya, Sugiono mengajak seluruh anggota ARF menjadikan forum tersebut sebagai instrumen yang lebih matang dalam membangun perdamaian kawasan.
Ia menegaskan bahwa ARF yang lebih adaptif, modern, dan berorientasi pada implementasi akan memperkuat stabilitas Asia-Pasifik sekaligus memberikan kontribusi bagi perdamaian global, termasuk mendukung terwujudnya perdamaian di Palestina.
Pertemuan ARF ke-33 dihadiri oleh 27 negara anggota yang terdiri atas negara-negara ASEAN beserta para mitra utamanya. Selain mengadopsi Manila Plan of Action 2026–2036, pertemuan tersebut menandai komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama keamanan kawasan melalui diplomasi, pembangunan kepercayaan, dan penyelesaian konflik secara damai.











