SinarHarapan.id – Sejumlah petani mangga asal Indonesia mempelajari berbagai praktik budidaya dan pengolahan mangga di Filipina dalam kunjungan studi yang berlangsung pada 27–31 Juli 2026. Kegiatan yang difasilitasi Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) itu diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus daya saing mangga Indonesia di pasar internasional.
Delegasi Indonesia berasal dari kelompok tani mangga di Majalengka, Jawa Barat, sentra produksi varietas gedong gincu. Mereka didampingi perwakilan Kementerian Pertanian dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) selama mengikuti kunjungan ke kebun dan industri pengolahan mangga di Provinsi Guimaras, Filipina. Wilayah tersebut dikenal sebagai penghasil varietas mangga pertama di Filipina yang memperoleh status Indikasi Geografis (IG).
Dalam kunjungan tersebut, para peserta mempelajari berbagai praktik pengendalian hama, teknologi budidaya, hingga sistem pengolahan pascapanen yang dinilai berpotensi diterapkan di Indonesia untuk meningkatkan kualitas produksi serta memperluas peluang ekspor.
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, mengatakan Indonesia dan Filipina memiliki karakteristik iklim dan kondisi sosial-ekonomi yang relatif serupa sehingga pertukaran pengalaman antarkedua negara dapat menghasilkan solusi yang praktis bagi petani.
“Karena memiliki tantangan yang hampir sama, pengalaman yang telah terbukti berhasil di satu negara dapat menjadi solusi yang efektif, hemat biaya, dan mudah diterapkan oleh petani di negara lain,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Direktur Layanan Bantuan Agribisnis dan Pemasaran Departemen Pertanian Filipina, Junibert E. De Sagun. Menurut dia, peningkatan produksi harus dibarengi dengan peningkatan kualitas agar mampu bersaing di pasar.
“Peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan peningkatan daya saing dan perluasan peluang pasar. Petani akan memperoleh manfaat yang lebih besar apabila mampu menghasilkan produk yang aman, berkualitas tinggi, mengurangi kehilangan hasil pascapanen, serta memenuhi standar pasar domestik maupun internasional,” katanya.
Tantangan Industri Mangga
Mangga merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia maupun Filipina. Namun, kedua negara masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari serangan hama dan penyakit tanaman hingga tingginya kehilangan hasil setelah panen.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia memproduksi sekitar 3 juta metrik ton mangga pada 2025. Meski demikian, nilai ekspor komoditas tersebut turun 37 persen menjadi sekitar 1,1 juta dolar AS dibandingkan tahun sebelumnya. Sebaliknya, nilai impor meningkat 27 persen menjadi 2,32 juta dolar AS. Pasar utama ekspor mangga Indonesia meliputi Uni Emirat Arab, Singapura, dan Malaysia.
Di sisi lain, Filipina menghasilkan sekitar 764 ribu metrik ton mangga pada 2024. Mangga menjadi komoditas buah ekspor terbesar ketiga negara itu dan menjadi sumber penghidupan sekitar 2,5 juta petani.
Ketua kelompok tani asal Jawa Barat, Elvan Setyono, mengaku terkesan dengan kemajuan industri pengolahan mangga di Filipina.
“Saya melihat industri pengolahan mangga di Filipina berkembang sangat baik. Dukungan pemerintah memungkinkan berbagai produk olahan diproduksi dalam skala besar. Kami berharap Indonesia juga dapat mengembangkan industri serupa,” ujarnya.
Pertukaran Pengetahuan
Kunjungan lapangan ini merupakan kelanjutan dari program pertukaran pengetahuan yang telah difasilitasi FAO secara daring selama Mei hingga Juni 2026. Dalam kegiatan tersebut, petani, peneliti, dan pemerintah dari kedua negara saling berbagi pengalaman mengenai pengelolaan budidaya mangga.
Salah satu praktik yang dibagikan Indonesia adalah pendekatan area-wide management atau pengelolaan hama berbasis kawasan untuk mengendalikan lalat buah. Metode ini dinilai lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan penanganan yang dilakukan secara terpisah di masing-masing kebun.
Program tersebut merupakan bagian dari inisiatif Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (South-South and Triangular Cooperation/SSTC) yang dikembangkan FAO untuk mendorong pertukaran pengetahuan, teknologi, dan pengalaman antarnegara berkembang.
Hasil pertukaran ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah Filipina dalam menyusun rencana pengendalian hama serta standar praktik pertanian yang baik. Sementara bagi Indonesia, pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pengelolaan pascapanen dan irigasi sehingga sektor mangga nasional semakin kompetitif dan berkelanjutan.






