SinarHarapan.id-Sebuah kudeta tidak hanya mengubah arah sebuah negara. Ia juga meninggalkan jejak pada kehidupan orang-orang yang mengalaminya, ketakutan, perlawanan, kehilangan, sekaligus upaya untuk mempertahankan harapan.
Jejak itu akan kembali dihadirkan melalui pameran fotografi The Coup Years, yang dibuka pada 26 September di galeri Dia.Lo.Gue, Jalan Kemang, Jakarta. Pameran ini mengajak pengunjung melihat kembali perjalanan Myanmar sejak kudeta militer pada Februari 2021, sekaligus mengenang resistensi masyarakat terhadap junta militer.
Foto-foto dalam pameran menjadi cara untuk merekam kembali sebuah periode penting dalam sejarah Myanmar. Bukan sekadar gambar, tetapi kesaksian visual mengenai apa yang terjadi dan bagaimana masyarakat merespons perubahan politik yang berlangsung di negara tersebut.
Pameran ini diselenggarakan oleh SEA-Junction bersama Asia Justice and Rights (AJAR), Humanis Foundation, dan Migrant Care, bekerja sama dengan Dia.Lo.Gue.

Pembukaan pameran akan menghadirkan Mercy Barends, anggota DPR RI sekaligus anggota ASEAN Parliamentarians for Human Rights (APHR), serta Debbie Stothard, Direktur ALTSEAN-Burma, yang juga akan menjadi pembicara.
Diskusi akan dipandu oleh Lia, Direktur SEA-Junction. Kehadiran para pembicara dari berbagai latar belakang tersebut diharapkan membuka ruang percakapan mengenai pengalaman Myanmar dan relevansinya bagi masyarakat di kawasan Asia Tenggara.
Dari Foto ke Ruang Percakapan
The Coup Years tidak berhenti pada fotografi. Selama periode pameran, 26 September hingga 11 Oktober, penyelenggara juga menyiapkan rangkaian pemutaran empat film dan diskusi.
Melalui film, foto, dan percakapan, publik diajak untuk melihat Myanmar dari lebih dekat, memahami apa yang terjadi setelah kudeta dan bagaimana masyarakat menghadapi situasi tersebut.
Di tengah kedekatan geografis dan keterhubungan negara-negara Asia Tenggara, pengalaman Myanmar juga menghadirkan pertanyaan yang lebih luas bagi kawasan. Apa yang dapat dipelajari dari perjalanan Myanmar? Bagaimana masyarakat mempertahankan ingatan atas sebuah peristiwa besar? Dan sejauh mana pengalaman sebuah negara dapat menjadi bahan refleksi bagi negara-negara tetangganya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat The Coup Years tidak hanya menjadi sebuah pameran fotografi, tetapi juga ruang untuk mengingat dan berdiskusi.
Mengapa Myanmar Perlu Diingat?
Ketika sebuah peristiwa politik berlangsung, perhatian publik sering kali datang dan pergi bersama arus pemberitaan. Namun, fotografi memiliki kemampuan untuk membuat sebuah momen berhenti sejenak, untuk dilihat kembali, direnungkan, dan diingat.
Melalui karya-karya dalam The Coup Years, perjalanan Myanmar sejak kudeta 2021 kembali dibawa ke ruang publik Jakarta.
Bagi Indonesia dan ASEAN, pengalaman Myanmar juga dapat menjadi bahan pembelajaran. Pameran ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk tidak hanya mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga mendengarkan, melihat, dan mendiskusikannya dari berbagai perspektif.
Pada akhirnya, The Coup Years adalah tentang ingatan.
Tentang bagaimana sebuah masyarakat menghadapi masa yang penuh pergolakan. Tentang bagaimana pengalaman mereka direkam melalui lensa kamera. Dan tentang bagaimana foto dapat menjadi pengingat bahwa di balik sebuah peristiwa politik selalu ada manusia yang menjalaninya.
Pameran The Coup Years
📍 Dia.Lo.Gue, Jl. Kemang, Jakarta
📅 26 September–11 Oktober
⏰ Pembukaan: 26 September, pukul 13.00 WIB
Pameran ini terbuka sebagai ruang untuk melihat kembali, memahami, dan berdiskusi tentang Myanmar, sekaligus menjadi kesempatan untuk bertemu dan berbagi perspektif mengenai masa lalu, kawasan, dan masa depan Asia Tenggara.







