Nasional

El Nino Godzilla Mengancam, Mentan Amran Siapkan Tiga Jurus Andalan”

×

El Nino Godzilla Mengancam, Mentan Amran Siapkan Tiga Jurus Andalan”

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Mentan Andi Amran Sulaiman mengibaskan kekhawatiran atas proyeksi BPS yang menyebut produksi beras nasional turun tipis 0,08 persen pada Januari-Oktober 2026. Ia menyebut angka itu terlalu kecil untuk diperdebatkan.

“0,08 persen coba dikali 34,7 juta ton produksi beras nasional. Itu hanya 30 ribu ton, kecil sekali,” ujar Amran dalam siaran pers Jumat (4/9/2026). Angka itu bagaikan setetes air di lautan luas.

BPS memproyeksikan produksi beras Januari-Oktober 2026 mencapai 31,41 juta ton. Jumlah itu menyusut tipis dibanding periode sama tahun lalu yang tercatat sekitar 31,44 juta ton. Penurunan nyaris tak terasa.

Bahkan produksi padi dalam bentuk gabah kering giling juga diproyeksikan turun 0,08 persen menjadi 54,52 juta ton. Namun Amran menegaskan pemerintah tidak akan gegabah menyikapi angka tersebut. Ada fakta lain yang lebih penting.

Indonesia justru tengah berada dalam situasi surplus pangan yang sangat menggembirakan. Tahun lalu surplus mencapai 4 juta ton dan tahun ini kembali terulang. Amran tersenyum membandingkannya dengan penurunan tipis tersebut.

“Tahun lalu surplus 4 juta ton, tahun ini juga kan. 30 ribu ton hilang, sementara kita 4 juta ton dua kali surplus bagaimana?” tanya Amran retoris. Optimismenya tak terbendung meski ancaman iklim masih menghantui.

Mentan Amran mengakui kondisi iklim saat ini memang memberi tekanan luar biasa pada sektor pertanian. El Nino Godzilla disebutnya sebagai tantangan nyata yang harus dihadapi dengan kerja keras dan taktis tanpa menyerah.

“Makanya kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah,” tegas Amran dengan nada penuh semangat. Kementan telah menyiapkan langkah mitigasi jauh sebelumnya untuk mengantisipasi dampak buruk perubahan cuaca ekstrem.

Tiga strategi utama disiapkan pemerintah menghadapi El Nino. Pertama pompanisasi dan irigasi massal, kedua peningkatan produktivitas melalui teknologi budidaya, dan ketiga penggunaan benih unggul tahan kekeringan.

“Kita tingkatkan produksi dua kali lipat, dari 5 ton jadi 10 ton, 6 ton menjadi 11 ton,” jelas Amran. Benih tahan kekeringan pun didistribusikan luas ke seluruh sentra produksi padi di tanah air.

BPS menegaskan angka produksi Oktober 2026 yang mereka sampaikan masih berupa proyeksi. Bukan angka final yang bersifat mutlak. Realisasi panen di lapangan masih bisa berubah sesuai kondisi pertanaman.

Pemerintah pun terus bergerak cepat di tengah petani. Intervensi dini dilakukan untuk memastikan produktivitas tetap terjaga. Kebutuhan pangan nasional tak boleh terganggu oleh guncangan iklim sesaat.

“Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” pungkas Amran dengan penuh ketegasan. Pemerintah hadir sebagai benteng terakhir ketahanan pangan di tengah badai El Nino.(InfoPublik-IS)