SinarHarapan.id-Membangun kekayaan butuh waktu bertahun-tahun. Rumah dibeli dari hasil menabung, bisnis dirintis dari nol, investasi dikumpulkan sedikit demi sedikit. Namun di tengah upaya memperbesar aset, satu pertanyaan sering luput. Apakah anak atau penerus keluarga sudah siap menerima, memahami, dan mengelolanya? Warisan tidak berhenti pada proses memindahkan aset semata.
Temuan Indonesia dalam Studi Sun Life Asia 2026 berjudul “Meneruskan Warisan: Ketika Warisan Lebih dari Sekadar Kekayaan” menegaskan persoalan itu. Dari 506 responden Indonesia, 63 persen khawatir kekayaan keluarga tidak bertahan hingga generasi berikutnya. Di antara yang khawatir, 58 persen menyoroti potensi konflik keluarga dan 53 persen menilai kesiapan penerima warisan. Kekhawatiran itu nyata.
Artinya, legacy tidak hanya ditentukan besarnya aset. Kesiapan orang yang akan menerimanya turut menentukan. Bagi keluarga pemilik usaha, isu ini kian penting karena warisan menyangkut keberlanjutan bisnis. Studi yang sama mencatat 76 persen responden Indonesia pemilik bisnis keluarga telah memiliki rencana suksesi. Namun hanya 14 persen punya rencana warisan komprehensif.
Baca juga :Sun Life Ajak Pelajar Jakarta Hidup Aktif dan Melek Finansial Lewat Festival Basket
Langkah pertama, jelaskan tujuan di balik aset. Percakapan sebaiknya tidak berhenti pada nilai rumah, tabungan, investasi, atau bisnis. Jelaskan fungsi yang ingin dijaga, apakah untuk pendidikan, tempat tinggal, modal usaha, kebutuhan kesehatan, atau peluang jangka panjang. Ketika tujuan dipahami, penerima warisan melihat aset sebagai amanah, bukan sekadar dana.
Kedua, ajarkan cara mengelola sebelum menyerahkan. Kemampuan mengelola kekayaan tidak muncul otomatis saat warisan diterima. Orang tua dapat memulai dari kebiasaan praktis seperti membuat anggaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami risiko investasi, serta mengenali konsekuensi utang dan pengeluaran berlebihan. Penerus punya ruang belajar sebelum keputusan besar di tangan mereka.
Ketiga, libatkan generasi berikutnya secara bertahap. Tidak semua detail keuangan harus dibuka sekaligus. Mulailah dari nilai dan tujuan keluarga, lalu berkembang ke gambaran aset, tanggung jawab, serta pihak yang perlu dihubungi. Percakapan yang berlangsung saat keluarga dalam kondisi baik mengurangi risiko kesalahpahaman. Setiap anggota memahami perannya.
Keempat, lindungi sumber kekayaan yang sedang dibangun. Perencanaan warisan perlu memperhitungkan risiko sebelum proses transfer terjadi. Dana darurat serta perlindungan jiwa dan kesehatan yang sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial keluarga dapat menjadi bagian pengelolaan dampak risiko, seperti biaya medis, kehilangan penghasilan, atau kejadian tak terduga. Manfaat mengikuti ketentuan polis.
Kelima, cari pendampingan profesional bila diperlukan. Studi yang sama mencatat 41 persen responden Indonesia telah mencari nasihat profesional terkait perencanaan warisan dan 37 persen lainnya ingin melakukannya. Keluarga dapat melibatkan penasihat keuangan, ahli hukum, atau konsultan pajak untuk memetakan tujuan, risiko, dokumentasi, dan komunikasi lintas generasi. Keputusan inti tetap milik keluarga.
Kelima langkah itu menunjukkan persiapan ahli waris perlu berjalan seiring pembangunan aset. Bagi Sun Life, perencanaan warisan merupakan bagian dari ketahanan finansial keluarga. Yakni menyelaraskan tujuan, perlindungan, pengelolaan kekayaan, dan kesiapan generasi penerus. Tujuannya agar nilai yang telah dibangun dapat diteruskan secara lebih terarah. Bukan sekadar berpindah tangan.
Pada akhirnya, warisan menyimpan dua beban sekaligus: nilai dan tanggung jawab. Tanpa kesiapan penerus, aset sebesar apa pun berisiko memicu konflik atau tergerus dalam waktu singkat. Karena itu, percakapan tentang tujuan, pengelolaan, dan perlindungan sebaiknya dimulai jauh sebelum aset berpindah. Warisan yang baik adalah yang siap dikelola, bukan hanya diwariskan.





