SinarHarapan.id – Aroma daging sapi yang diolah menjadi abon mengisi ruang produksi Abon Ksatria di Solo. Di tengah aktivitas produksi, Tri Rahayu Amperawati memastikan setiap proses berjalan dengan baik. Usaha yang dirintis bersama keluarganya sejak 1999 ini tumbuh melalui perjalanan panjang. Setelah mulai terlibat langsung dalam produksi pada 2001, Tri terus belajar mengembangkan usahanya. Kini, Abon Ksatria tidak hanya dikenal di Solo, tetapi juga menjangkau pasar di berbagai daerah.
Di balik aktivitas produksi tersebut, ada upaya Tri membangun budaya kerja yang lebih tertata. Melalui pembinaan Yayasan Astra melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), ia mengikuti pelatihan basic mentality, pendampingan budaya kerja 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), hingga personal branding. Penerapan 5R mendorong Tri dan tim menjaga kebersihan, merapikan peralatan, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman dan efisien. Konsistensi tersebut mengantarkan Abon Ksatria meraih Juara 1 Lomba 5R YDBA pada 2022.
Seiring pembenahan proses produksi, Tri juga memperluas pemasaran melalui platform digital sejak 2020. Media sosial, termasuk Instagram, menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan produknya kepada konsumen di luar Solo. Kini, sekitar 60 persen pelanggan Abon Ksatria berasal dari kanal digital, dengan jangkauan pasar hingga Jabodetabek, Bali, Sumatra, dan Kalimantan. Dari usaha rumahan, Abon Ksatria kini mencatatkan omzet sekitar Rp50 juta per bulan. Bagi Tri, pertumbuhan ini merupakan hasil dari ketekunan menjalankan usaha dan kemauan untuk terus belajar serta berbenah. Foto dan Teks: Ruht Semiono.
















