SinarHarapan.id – Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Anggi Bitho Lokmanto mulai beraktivitas di kebun hidroponiknya di Ngringo, Jaten, Karanganyar. Di hadapannya bukan hamparan sawah yang luas, melainkan deretan instalasi tempat sayuran tumbuh tanpa tanah.
Air, nutrisi, cahaya dan waktu menjadi bagian dari keseharian yang harus diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh dan dipanen dalam kondisi terbaik. Dari tempat sederhana itulah Anggi membangun AA818_Hydroponic, sebuah usaha yang perjalanannya dimulai dengan modal yang mungkin terlihat kecil untuk ukuran sebuah bisnis, tetapi kemudian membawanya pada pengalaman panjang tentang bagaimana sebuah UMKM menemukan pasar dan bertahan menghadapi perubahan.
Pada 2018, Anggi memulai AA818_Hydroponic dengan modal sekitar Rp500 ribu dan lahan sekitar 500 meter persegi. Ia tidak memulai dengan modal besar, jaringan bisnis yang luas, ataupun sistem usaha yang sudah tertata. Ia memulainya dengan mencoba, belajar dari pengalaman, menghadapi kegagalan, lalu memperbaiki cara budidaya dan kembali menanam.
Tidak semua tanaman berhasil tumbuh seperti yang diharapkan dan tidak setiap panen langsung memberikan hasil yang memuaskan. Namun justru dari proses tersebut Anggi mulai memahami bahwa membangun usaha tidak berhenti ketika sebuah produk berhasil dibuat. Setelah tanaman tumbuh, masih ada persoalan lain yang harus dijawab: bagaimana membuat hasil panen tersebut menemukan pembelinya.

Ketika Panen Belum Berarti Pasar
Bagi pelaku usaha hidroponik, panen seharusnya menjadi kabar baik. Namun sayuran yang telah tumbuh juga membawa pekerjaan berikutnya karena produk segar memiliki keterbatasan waktu penyimpanan. Ketika produksi bertambah sementara pasar belum berkembang dengan kecepatan yang sama, hasil panen dapat berubah menjadi persoalan.
Produk yang berkualitas belum tentu menjadi bisnis yang menguntungkan apabila tidak segera bertemu dengan konsumen. Situasi semacam inilah yang perlahan dihadapi Anggi ketika AA818_Hydroponic mulai berkembang.
Pada satu sisi, ia memiliki produk yang dapat ditawarkan. Namun di sisi lain, jangkauan konsumen masih terbatas dan kemampuan promosi sebagai usaha kecil tentu tidak sama dengan perusahaan yang memiliki sumber daya pemasaran lebih besar. Anggi kemudian mulai mencari cara untuk memperkenalkan produknya melalui berbagai kanal, termasuk media sosial dan marketplace
Ruang digital memberinya kemungkinan untuk bertemu dengan konsumen yang sebelumnya berada jauh dari lingkungan kebun, sekaligus membuka cara baru untuk berkomunikasi dengan pelanggan dan memahami kebutuhan pasar.
Usaha ini tercatat memasarkan 13 jenis sayuran hidroponik dan telah memanfaatkan sejumlah kanal digital, termasuk Shopee. Namun penelitian itu juga menunjukkan bahwa perjalanan AA818_Hydroponic masih menghadapi sejumlah persoalan, seperti branding yang belum kuat, kemasan yang belum optimal, promosi online yang belum maksimal, lokasi usaha yang kurang strategis serta keterbatasan sumber daya manusia.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi bukanlah jalan pintas yang otomatis mengubah usaha kecil menjadi besar. Memiliki toko di marketplace tidak serta-merta membuat pembeli datang, sebagaimana memiliki akun media sosial tidak langsung membuat produk dikenal.
Teknologi memang membuka pintu, tetapi setelah pintu itu terbuka, pelaku usaha tetap harus belajar bagaimana memperkenalkan produknya, membangun kepercayaan, memperbaiki cara berkomunikasi dengan konsumen dan memahami pasar yang hendak dituju.
“Awalnya kami berpikir bagaimana menjual. Ketika pasar mulai datang, kami justru belajar bagaimana memenuhi permintaan tanpa kehilangan kualitas,” ungkap Anggi.
Kalimat itu menggambarkan perubahan penting dalam perjalanan AA818_Hydroponic. Persoalan yang awalnya berpusat pada bagaimana mendapatkan pembeli perlahan bergeser menjadi bagaimana memenuhi kebutuhan pelanggan ketika pasar mulai terbentuk.
Bagi usaha yang bergerak pada produk segar, pertumbuhan permintaan bukan sekadar kabar baik, tetapi juga membawa konsekuensi terhadap produksi, kualitas dan ketersediaan pasokan.
Membangun Jaringan
Pasar yang semakin terbuka mempertemukan AA818_Hydroponic dengan persoalan baru. Ketika permintaan datang dari konsumen rumah tangga hingga kebutuhan hotel dan restoran, kemampuan satu kebun memiliki batas.
Pelanggan membutuhkan produk dengan kualitas yang terjaga dan pasokan yang konsisten, sementara produksi tidak bisa terus bergantung pada kemampuan Anggi menanam sendiri.
Anggi kemudian membangun hubungan dengan petani lain. Melalui jaringan tersebut, kemampuan AA818_Hydroponic dalam memenuhi kebutuhan pasar tidak hanya bergantung pada hasil kebunnya sendiri.
Petani mitra memperoleh akses kepada pasar, sementara AA818_Hydroponic memiliki kapasitas yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Hubungan itu secara perlahan mengubah cara Anggi memandang pertumbuhan usahanya.
Jika sebelumnya pertumbuhan berarti menambah hasil produksi dari kebun sendiri, kini pertumbuhan juga berarti memperluas jaringan. Ketika permintaan meningkat, petani lain dapat ikut mengambil bagian dalam memenuhi kebutuhan pasar.

Ketika pasar membutuhkan pasokan yang lebih konsisten, hubungan dengan petani menjadi semakin penting. Pada akhirnya, usaha Anggi tidak hanya berbicara tentang berapa banyak sayuran yang dapat ditanam, tetapi juga tentang bagaimana produk dari lebih banyak petani dapat bertemu dengan konsumen yang membutuhkan.
Perubahan tersebut membuat digitalisasi memiliki makna yang lebih luas. Teknologi memang membantu membuka akses kepada pasar, tetapi informasi dari pasar kemudian kembali memengaruhi apa yang terjadi di kebun.
Kebutuhan konsumen dapat menjadi pertimbangan dalam produksi, sementara jaringan petani membantu memperkuat kapasitas ketika permintaan meningkat. Dengan cara itu, teknologi tidak berdiri sendiri sebagai alat transaksi, melainkan menjadi bagian dari hubungan yang menghubungkan produksi, pasar dan konsumen.
Perjalanan Anggi tersebut berlangsung di tengah persoalan yang juga sedang dihadapi jutaan pelaku UMKM di Indonesia. Ketika ia berusaha mencari pasar, memperkuat usaha dan membangun jaringan petani, pemerintah sedang menghadapi tantangan yang lebih besar: bagaimana membuat usaha-usaha kecil tidak berhenti pada tahap bertahan, tetapi memiliki kemampuan untuk berkembang.
Bertemu Agenda Kementerian UMKM
Berdasarkan data Kementerian UMKM, terdapat sekitar 57 juta pengusaha mikro di Indonesia. Namun, baru sekitar 15 juta yang telah memiliki NIB. Artinya, masih terdapat sekitar 40 juta pengusaha UMKM yang perlu difasilitasi proses formalitasnya sekaligus dibina agar mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.
Komposisi tersebut memberikan gambaran bahwa sebagian besar pelaku usaha Indonesia berada pada skala yang relatif kecil, sehingga persoalan akses pasar, kapasitas produksi, kemampuan pengelolaan dan pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka untuk berkembang.
Dalam konteks itulah pembicaraan mengenai UMKM naik kelas menjadi lebih dari sekadar persoalan meningkatkan omzet. Arah kebijakan Kementerian UMKM 2025–2029 mendorong penguatan akses pasar, kemitraan, business matching dan rantai pasok sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM.

Bagi Anggi, gagasan tersebut bukan sesuatu yang jauh dari keseharian. Ia justru menemukan bentuknya ketika kebutuhan pasar mendorong AA818 Hydroponic membangun hubungan dengan petani lain agar kemampuan memenuhi permintaan tidak hanya bergantung pada satu kebun.
Pemerintah juga semakin memperhatikan ruang perdagangan elektronik yang menjadi tempat bertemunya banyak pelaku UMKM dengan konsumen.
Pada Juni 2026, Kementerian UMKM menerbitkan Peraturan Menteri UMKM Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelindungan dan Peningkatan Daya Saing Usaha Mikro dan Usaha Kecil dalam Perdagangan melalui Sistem Elektronik.
Regulasi tersebut menunjukkan bahwa perdagangan melalui sistem elektronik semakin menjadi bagian penting dari ruang usaha UMKM, sekaligus membutuhkan perlindungan dan penguatan daya saing bagi pelaku usaha yang berada di dalamnya.

Menteri Maman menegaskan SAPA UMKM tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi, tetapi juga menjadi pintu masuk berbagai layanan pengembangan usaha yang saling terhubung.
Mengusung tagline “Satu Akses, Seribu Peluang”, SAPA UMKM menghadirkan berbagai fitur yang mendukung perjalanan usaha pengusaha UMKM. Mulai dari Pembukuan Digital, Pasar UMKM, layanan Legalitas, Sertifikasi, hingga akses Permodalan dan Pembiayaan yang dapat dimanfaatkan melalui satu aplikasi.
Dengan demikian, digitalisasi tidak lagi sekadar dipandang sebagai pilihan untuk membuka kanal penjualan tambahan. Bagi UMKM, ruang digital semakin menjadi bagian dari ekosistem usaha yang berhubungan dengan akses pasar, kemampuan bersaing, perlindungan dan pengembangan kapasitas.
Apa yang sedang dibangun pemerintah pada tingkat kebijakan tersebut pada akhirnya harus menemukan bentuk di lapangan, dan bagi pelaku usaha seperti Anggi, bentuknya sangat sederhana: bagaimana produk dapat menemukan pasar dan bagaimana usaha dapat terus berkembang setelah pasar itu ditemukan.
Shopee Membuka Jalan bagi UMKM
Masuk ke marketplace membawa peluang baru, tetapi sekaligus memperkenalkan persoalan baru. Pelaku usaha tidak cukup hanya memiliki produk dan toko digital.
Mereka harus memahami bagaimana konsumen menemukan produk, bagaimana membangun kepercayaan, bagaimana mengelola promosi dan bagaimana membuat pembeli memiliki alasan untuk kembali bertransaksi.
Kebutuhan tersebut kemudian mendorong Shopee mengembangkan Kampus UMKM Shopee sejak 2021 sebagai ruang edukasi dan pendampingan bagi pelaku UMKM untuk memperkuat kemampuan mereka di tengah perkembangan ekonomi digital.

Melalui program ini, Shopee menghadirkan beragam materi pelatihan digital yang terangkum dalam hampir 400 modul, dan telah menjangkau jutaan pengusaha UMKM di berbagai wilayah Indonesia.
Memasuki awal 2026, Shopee menghadirkan Akademi Pengajar Kampus UMKM Shopee sebagai pengembangan dari program Kampus UMKM Shopee.
Program ini dirancang untuk memperkuat wawasan dan pengetahuan digital para instruktur Kementerian/Lembaga dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga mereka memiliki kapasitas yang lebih kuat dalam memahami dan menyebarkan keterampilan digital kepada pelaku UMKM.
Dukungan bagi pelaku usaha kemudian diperluas melalui Program Akselerasi Usaha Lokal, yang mencakup tiga aspek penting dalam pengembangan bisnis.
Pada sisi akselerasi usaha, Shopee menghadirkan Voucher Akselerasi Usaha Lokal, pelatihan gratis melalui Kampus UMKM Shopee Kelas Online, serta Program Ekspor Shopee FLEXI untuk membuka peluang ekspansi ke pasar global.
“Kami menghadirkan dukungan yang semakin relevan dengan kebutuhan penjual di setiap tahap perkembangan bisnisnya, mulai dari meningkatkan penjualan dan keterampilan digital” jelas Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang.
Pendampingan menjadi semakin penting karena persaingan di ruang digital bukan sekadar tentang siapa yang memiliki produk. Produk harus terlebih dahulu ditemukan oleh konsumen, kemudian dikenali dan dipercaya sebelum akhirnya dipilih.
Dari Transaksi Menjadi Kemampuan untuk Tumbuh
Perubahan AA818 Hydroponic tidak terjadi dalam satu lompatan besar. Ia tumbuh melalui keputusan-keputusan kecil yang dijalani Anggi dari waktu ke waktu. Dari kebun yang relatif kecil, pasar mulai meluas.
Dari semula memikirkan bagaimana menghasilkan sayuran sendiri, ia mulai membangun hubungan dengan petani lain. Dari sekadar menunggu pelanggan, ia belajar mencari pasar dan membaca kebutuhan konsumen.
Ketika pasar mulai terbuka, teknologi memberikan jalan untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Namun semakin banyak permintaan yang datang, Anggi kembali dihadapkan pada persoalan mendasar tentang kapasitas. Di situlah jaringan petani menjadi penting.
AA818_Hydroponic tidak lagi hanya mengandalkan produksi dari kebunnya sendiri, tetapi membangun hubungan yang memungkinkan produk petani lain masuk ke pasar yang lebih luas.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan UMKM tidak selalu harus diukur dari luas lahan, jumlah aset atau besarnya fasilitas. Dalam kasus Anggi, pertumbuhan juga terlihat dari semakin luasnya hubungan yang dapat dibangun dan semakin besar kemampuan usaha dalam mempertemukan produksi dengan kebutuhan pasar.
Bagi petani mitra, hubungan tersebut membuka akses kepada pasar. Bagi AA818_Hydroponic , jaringan memberikan kapasitas untuk memenuhi permintaan. Sementara bagi konsumen, hubungan tersebut membantu menjaga ketersediaan produk.
Yang Tumbuh Bukan Hanya Tanaman
Tidak ada kepastian bahwa setiap tanaman akan berhasil tumbuh, tidak ada jaminan setiap panen akan habis terjual dan tidak ada kepastian bahwa usaha kecil tersebut akan berkembang menjadi seperti sekarang. Yang dimiliki Anggi ketika itu hanyalah kesempatan untuk mencoba dan kemauan untuk terus belajar.
Ketika permintaan berkembang, ia harus mencari cara agar kapasitas produksi dapat mengikutinya. Dan ketika satu kebun memiliki keterbatasan, ia menemukan bahwa jaringan petani dapat menjadi bagian dari jalan untuk tumbuh.
Di situlah kisah Anggi menjadi lebih besar daripada sekadar cerita tentang hidroponik atau seorang pelaku UMKM yang menggunakan marketplace. Ia memperlihatkan bagaimana perubahan sebuah usaha kecil sebenarnya berlangsung secara bertahap, melalui keberanian mencoba, kesediaan belajar, kemampuan membaca pasar dan kemauan membangun hubungan dengan orang lain.

Bagi pemerintah, perjalanan semacam itu merupakan bagian dari agenda besar membuat UMKM memiliki daya saing, akses pasar dan kemampuan untuk naik kelas. Bagi platform digital, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa akses teknologi perlu berjalan bersama edukasi dan pendampingan.
Namun bagi Anggi, semua itu pada akhirnya kembali kepada pekerjaan yang sederhana dan nyata: memastikan tanaman tumbuh, menjaga kualitas, memenuhi permintaan dan membuat pelanggan tetap percaya.
Di kebun AA818_Hydroponic , pekerjaan itu terus berulang. Air mengalir melalui instalasi, nutrisi diberikan, tanaman berkembang dan pada waktunya dipanen.
Dari luar, proses tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi di baliknya terdapat perjalanan seorang pelaku usaha yang belajar bahwa produk yang baik membutuhkan pasar, pasar yang lebih luas membutuhkan kapasitas, dan kapasitas yang kuat dapat dibangun ketika sebuah usaha tidak tumbuh sendirian.
Anggi memulai dengan modal sekitar Rp500 ribu. Modal itu mungkin kecil, tetapi dari sana ia menemukan sesuatu yang nilainya jauh lebih besar pengetahuan yang diperoleh dari kegagalan, keberanian yang tumbuh dari pengalaman, jaringan yang terbentuk dari kerja sama dan pasar yang terbuka. Yang tumbuh di AA818_Hydroponic bukan hanya tanaman. Bersama setiap panen, tumbuh pula kemampuan Anggi membaca pasar, membangun usaha dan menghubungkan lebih banyak orang dengan peluang ekonomi.
Foto dan Infografis dan Teks: SHID/Ruht Semiono







