SinarHarapan.id-Dahulu, penyakit ginjal identik dengan mereka yang telah berusia senja. Namun kini, ancaman itu telah merambah ke generasi paling muda. Data dari Yayasan Ginjal Anak Indonesia mencatat, setidaknya 60 anak di seluruh Indonesia hidup dengan beban gagal ginjal, dan 20 di antaranya berada di Jakarta. Mereka harus menjalani cuci darah rutin dua kali seminggu—sebuah rutinitas berat yang harus dijalani seumur hidup . Angka ini menjadi pengingat bahwa gangguan ginjal pada anak adalah masalah kesehatan yang tak bisa lagi diabaikan.
Organ ginjal, sebesar kepalan tangan, memainkan peran krusial bagi kehidupan. Menyaring racun, mengatur keseimbangan cairan dan mineral, hingga memproduksi hormon pengatur tekanan darah dan sel darah merah . Ketika organ ini terganggu, seluruh sistem tubuh terancam.
Menurut Unit Kerja Koordinasi Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sindrom nefrotik atau yang akrab disebut “ginjal bocor” menjadi salah satu gangguan paling umum pada anak . Kondisi ini ditandai dengan kebocoran protein masif melalui urine, memicu pembengkakan di kelopak mata, tungkai, hingga seluruh tubuh . Jika terlambat dideteksi, komplikasi jangka panjang mengintai, termasuk penyakit ginjal tahap akhir yang mengharuskan cuci darah seumur hidup .
Faktor risiko gangguan ginjal pada anak sangat kompleks. Mulai dari faktor bawaan seperti prematuritas, kelainan kongenital, hingga infeksi saluran kemih berulang yang disebabkan oleh bakteri seperti Escherichia coli .
Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah perubahan gaya hidup. Data menunjukkan tren peningkatan kasus gangguan ginjal yang dipicu oleh penyakit metabolik seperti diabetes dan hipertensi pada usia anak . Konsumsi gula dan garam berlebih, kurang minum air putih, serta kebiasaan mengonsumsi makanan ultra-proses menjadi sorotan utama . Seorang dokter dari RSCM menekankan bahwa membatasi gula sejak dini adalah investasi jangka panjang, mencegah organ ginjal dan hati bekerja terlalu keras di masa depan .
Deteksi Dini dan Prinsip “SAHABAT Ginjal”
Mengenali gejala awal adalah kunci. Orang tua perlu waspada jika anak mengalami demam berulang tanpa sebab jelas, pembengkakan di sekitar mata, urine berbusa atau berdarah, hingga penurunan frekuensi buang air kecil .
Dokter Henny Adriani Puspitasari, Sp.A, Subsp.Nefro, dari RS Pondok Indah, menekankan pentingnya peran keluarga dalam pencegahan. Beliau memperkenalkan prinsip “SAHABAT Ginjal” yang mudah diterapkan sehari-hari: Sediakan cairan cukup, Atur pola makan rendah garam, Hidup aktif, Awasi tekanan dan gula darah, Bijak menggunakan obat, Asap rokok dijauhkan, dan Tes fungsi ginjal secara berkala.
“Orang tua harus memahami kondisi anak dan disiplin menjalani terapi. Dukungan psikologis keluarga sangat menentukan keberhasilan pengobatan,” ujar dokter yang juga menjabat sebagai Sekretaris Unit Kerja Nefrologi IDAI ini.
Dengan kesadaran yang meningkat dan deteksi dini, komplikasi serius masih dapat dicegah. Kesehatan ginjal anak adalah investasi untuk generasi yang lebih kuat.

