SinarHarapan.id-Mereka adalah sosok yang datang paling pagi dan pulang paling larut. Membuka pintu, mengepel lantai, menyiapkan tempat wudhu, hingga memastikan masjid tetap aman setelah jamaah bubar. Namun, di baliho atau sorotan kamera, nama mereka hampir tak pernah disebut. Mereka adalah marbot—penjaga rumah ibadah yang menjadi tulang punggung kenyamanan umat, terutama di bulan Ramadan.
Memasuki dekade keduanya, Gerakan Masjid Bersih (GMB) yang diinisiasi WIPOL bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Unilever Indonesia tak hanya kembali hadir membersihkan 54.000 masjid di 12 provinsi. Tahun ini, gerakan itu membawa misi yang lebih dalam: mengajak publik memberikan perhatian dan apresiasi nyata kepada para marbot melalui kampanye #BerikanWaktuUntukKebaikan.
Sejak 2016, GMB telah menjangkau lebih dari 324.000 masjid di berbagai penjuru negeri. Namun, tahun 2026 memiliki warna tersendiri. Sebanyak 50 persen alokasi donasi difokuskan ke wilayah terdampak bencana di Pulau Sumatra, sebagai bentuk dukungan bagi masjid-masjid yang membutuhkan pemulihan lebih besar.
Nurdiana Darus, Director of Communication, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia, menegaskan bahwa kebersihan masjid tak bisa dilepaskan dari dedikasi para marbot. “Selama 10 tahun, kami percaya masjid yang bersih dan nyaman tak lepas dari peran marbot yang bekerja dengan penuh dedikasi setiap hari. Kami mengajak masyarakat untuk memberikan perhatian dan dukungan nyata, dengan cara sederhana namun bermakna,” ujarnya, di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Data dari MUI Kota Semarang (2025) mencatat, dukungan terhadap marbot menjadi bentuk nyata kepedulian umat terhadap penjaga rumah ibadah. Namun, realitas di lapangan masih jauh dari ideal. Sebuah artikel di NU Online (2025) mengungkap bahwa masih ada anggapan menjadi marbot adalah pengabdian yang harus dilandasi keikhlasan semata, sehingga kesejahteraan mereka kerap terabaikan.
Baca juga : Wipol dan DMI Lanjutkan Program “Gerakan Masjid Bersih” Ke Lima Kota
Tahun ini, WIPOL menghadirkan terobosan dengan menyalurkan 2,5 persen dari keuntungan penjualan produk WIPOL untuk mendukung kesejahteraan marbot. Donasi tersebut diwujudkan dalam 54.000 paket kebersihan untuk masjid di 12 provinsi, pemberangkatan 2 pasang marbot untuk ibadah umroh, serta pemberian THR mudik bagi 20 marbot. Program ini melanjutkan dampak positif tahun lalu, di mana 100 marbot diberangkatkan pulang kampung bekerja sama dengan BAZNAS.
Dr. H. Rahmat Hidayat, S.E., M.T, Sekretaris Jenderal DMI, mengapresiasi konsistensi program ini. “Menghargai dan mendukung marbot berarti kita turut menjaga kehormatan dan fungsi masjid itu sendiri. Saya berharap gerakan ini menginspirasi lebih banyak pihak untuk memuliakan penjaga rumah ibadah di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Untuk menjangkau generasi muda, WIPOL juga melakukan pendekatan digital yang tak biasa. Mereka menghadirkan pengalaman virtual membersihkan masjid melalui platform Roblox, sebagai cara baru menanamkan nilai kebersihan dan kepedulian sejak dini. Respons positif dari kalangan muda menunjukkan bahwa kepedulian bisa dikemas secara interaktif tanpa kehilangan esensi.
Figur publik Fadil Jaidi yang turut bergabung tahun ini mengaku tersentuh setelah bertemu langsung dengan para marbot. “Selama ini kita menikmati masjid bersih tanpa benar-benar memikirkan siapa yang menjaganya. Saya baru sadar, kebersihan itu adalah hasil dari waktu, tenaga, dan dedikasi yang konsisten. Semoga makin banyak orang mau meluangkan waktu untuk peduli,” katanya.
Di sisi produk, WIPOL menghadirkan varian Sereh & Jeruk dengan kandungan minyak pinus alami yang efektif membersihkan lantai, membunuh kuman, dan memberikan aroma segar tahan lama—cocok digunakan baik di rumah maupun masjid.
“Kami sangat senang bisa menjalin kemitraan dengan DMI selama satu dekade. InsyaAllah kolaborasi ini terus mendorong kepedulian kolektif terhadap marbot dan masjid. Bukan sekadar program tahunan, tapi gerakan bersama yang tumbuh dari kesadaran dan empati, demi kebaikan dan kemaslahatan umat di seluruh Indonesia,” tutup Nurdiana.

