Network

Jangan Asal Minum Obat Herbal! Kenali Lebih Dulu Obat Herbal Terstandar (OHT)

×

Jangan Asal Minum Obat Herbal! Kenali Lebih Dulu Obat Herbal Terstandar (OHT)

Sebarkan artikel ini

Banyak orang memilih obat herbal karena dianggap lebih alami dan minim efek samping. Tapi, “alami” bukan berarti otomatis aman untuk semua orang dan semua kondisi. Di pasaran, produk herbal punya kategori yang berbeda, mulai dari jamu biasa hingga Obat Herbal Terstandar (OHT) yang sudah melalui proses uji tertentu. 

Karena itu, sebelum asal minum, penting untuk memahami apa itu OHT, bagaimana proses standarnya, dan kenapa hal ini berpengaruh pada keamanan serta efektivitasnya.

Apa Itu Obat Herbal Terstandar (OHT)?

Obat Herbal Terstandar (OHT) adalah produk herbal yang bahan bakunya telah melalui proses standardisasi dan diuji secara praklinik untuk memastikan keamanan serta konsistensinya. 

Berbeda dengan jamu tradisional yang umumnya berdasarkan pengalaman turun-temurun, OHT sudah melewati pengujian di laboratorium, termasuk uji toksisitas pada hewan, untuk melihat potensi efek samping dan dosis yang lebih terukur.

Intinya, OHT sudah memiliki dasar ilmiah awal yang mendukung klaim manfaatnya. Meski belum sampai tahap uji klinis pada manusia seperti obat modern, OHT berada satu tingkat di atas jamu dalam hal kontrol mutu, proses produksi, dan pembuktian keamanan.

Ciri-Ciri Obat Herbal Terstandar (OHT) yang Perlu Diketahui

Agar tidak keliru memilih, berikut beberapa ciri utama Obat Herbal Terstandar (OHT) yang bisa dikenali langsung dari kemasan maupun informasinya.

1. Memiliki Logo dan Kategori Resmi OHT

Produk OHT biasanya mencantumkan logo khusus yang menunjukkan bahwa produk tersebut termasuk kategori Obat Herbal Terstandar. Logo ini berbeda dari jamu biasa maupun fitofarmaka.

Keberadaan logo ini menjadi penanda awal bahwa produk sudah melalui tahapan pengujian pra-klinis dan proses standardisasi bahan baku.

2. Tercantum Nomor Izin Edar dari BPOM

OHT yang legal harus memiliki nomor izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Nomor ini biasanya tertera jelas pada kemasan.

Nomor izin edar menandakan bahwa produk telah dievaluasi dari sisi keamanan, mutu, dan klaim yang dicantumkan. Jika tidak ada nomor izin edar, sebaiknya hindari.

3. Komposisi dan Dosis Ditulis Secara Jelas

Berbeda dari produk herbal yang hanya menuliskan “ekstrak alami”, OHT mencantumkan ifnromasi-informasi di bawah ini. Informasi ini penting agar konsumen tahu apa yang dikonsumsi dan berapa jumlah yang aman.

  • Nama bahan herbal secara spesifik
  • Bentuk ekstrak yang digunakan
  • Takaran atau dosis yang dianjurkan

4. Diproduksi oleh Industri Resmi

OHT diproduksi oleh perusahaan yang memenuhi standar Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Biasanya nama dan alamat produsen tercantum jelas pada kemasan.

Transparansi ini menunjukkan bahwa produk tidak dibuat secara sembarangan, melainkan dalam fasilitas yang diawasi dan terkontrol.

5. Klaim Manfaat Tidak Berlebihan

Ciri lain OHT adalah klaimnya cenderung rasional dan tidak bombastis. Produk tidak menjanjikan “menyembuhkan semua penyakit” atau hasil instan dalam hitungan jam.

Karena sudah melalui evaluasi, klaim manfaat harus sesuai dengan data pendukung yang ada. Jika terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, besar kemungkinan produk tersebut bukan OHT yang resmi.

Jangan Mudah Percaya Iklan Herbal

Di era digital, promosi obat herbal semakin masif, terutama lewat media sosial dan video marketing. Tidak sedikit produk yang dikemas dengan visual meyakinkan, testimoni dramatis, hingga klaim hasil instan hanya dalam beberapa hari.

Padahal, tampilan video yang profesional tidak selalu mencerminkan kualitas produknya.

1. Testimoni Viral Belum Tentu Bukti Ilmiah

Banyak iklan menampilkan “pasien” yang mengaku sembuh total setelah mengonsumsi produk tertentu. Namun, testimoni bukanlah bukti ilmiah. OHT yang resmi tetap mengandalkan data uji pra-klinis dan proses standardisasi, bukan sekadar cerita pengalaman pribadi.

Sebagai konsumen, penting untuk membedakan antara strategi pemasaran dan dasar ilmiah.

2. Waspadai Klaim Terlalu Hebat

Jika sebuah produk mengklaim bisa semua penyakit dan aman untuk semua orang dengan efek sembuh yang sangat singkat, maka patut dicurigai. OHT yang resmi justru cenderung memiliki klaim yang realistis dan terukur, sesuai dengan hasil pengujian yang ada.

3. Cek Legalitas, Bukan Hanya Kontennya

Menjadi konsumen cerdas berarti harus teliti terhadap legalitas dan standar keamanannya. Iklan yang dibuat dengan teknik video marketing yang rapi dan emosional bisa terasa sangat meyakinkan. Namun sebelum membeli, luangkan waktu untuk:

  • Mengecek nomor izin edar
  • Memastikan kategori produknya benar-benar OHT
  • Mencari informasi resmi dari sumber terpercaya.

Bijak Memilih, Bijak Mengonsumsi

Setiap produk yang masuk ke dalam tubuh tetap memiliki potensi manfaat sekaligus risiko, sehingga keputusan untuk menggunakannya perlu didasari pemahaman yang cukup.

Jika memiliki kondisi medis tertentu, sedang hamil atau menyusui, maupun rutin mengonsumsi obat dokter, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan sebelum mencoba produk herbal apa pun. Interaksi antarzat tetap bisa terjadi, meskipun bahan dasarnya berasal dari alam.