Gaya Hidup

Baby Boomers Jadi Fotomodel Saat Dupaties 1978 Berdandan Dadakan

×

Baby Boomers Jadi Fotomodel Saat Dupaties 1978 Berdandan Dadakan

Sebarkan artikel ini

Roy 'Sulap' Dupati SMAN IX Bulungan 1978 Bak Model

Alumni kelas 2 IPA 3 SMAN IX 1978 Bulungan, Jaksel usai berdandan ria. (Dok/SH.ID).

SinarHarapan.id – Anak-anak Dupati Bulungan 1978 membuat gebrakan lagi. Alumni kelas 2 IPA 3 SMAN IX Bulungan, Jaksel, ini menjadi fotomodel dadakan. Adalah Roy Genggam Nusantoro yang ‘menyulap’ mereka lebih percaya diri dari sekadar menjadi bagian dari generasi baby boomers, dari kelahiran tahun 1960.

Ada 10 Dupaties, sebutan alumi kelas 2 IPA 3 SMAN IX di tahun 1978 itu, yang memenuhi undangan Roy Genggam Nusantoro untuk ‘berfotoria’ di studionya di bilangan jalan Masjid Al Barkah No.2, Cireundeu, Kec. Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten 15419, Sabtu (18/4) pagi hingga selepas siang.

Roy Genggam Nusantoro, pemilik Genggam Studio, adalah salah satu alumni SMAN IX pada pertengahan 1980 yang kemudian melanjutkan pendidikannya di IKJ jurusan Cinematografi (film).

Dia membuai para sahabatnya dari kemampuannya sebagai fotografer profesional. Dia meminta salah satu Make Up Artist (MUA) andalannya, Jimmy Martha, mendandani Saraswati Mulyono, Nina Bancroft, Aisyiatul Islamiyah, Linda Silitonga dan Dewi Rosanti.

Tak hanya itu, Roy juga memanjakan perut para sahabatnya. Bubur ayam dan sejumlah penganan di atas meja membuat para sahabat tak berhenti memuji, baik Lajuanda, Noeri, Agoestor, Dahrul, dan Fauzi Hamid.

“Istimewa pokoknya,” seru Lajuanda, yang menjadi ketua kelas di 2 IPA 3 tahun 1978 itu. Serupa dengan Roy, Lajuanda dan Dupaties lainnya saat ini berusia 65 tahun. Setiap berada di studio Roy Genggam ini mereka sangat terkesan.

“Saya selalu senang dan berkesan setiap kali diundang ke mari. Saya ikut merasakan suasana kerja keras dari Roy, fokus dan sangat serius dalam bekerja, profesional. Juga, ringan tangan,” kata Saras yang baru menjalani masa pensiun di KONI DKI Jakarta tahun ini.

“Terus terang saya ikut terharu dengan semua hasil karyanya. Roy punya dedikasi luar biasa pada profesinya, meski memfoto kami sifatnya hanya fun, bukan komersial,” tutur Saras.

“Semua asisten turun tangan. Mulai dari yang make-up, home service yang menanyakan apakah kami sudah sarapan dan mau sarapan apa, kue dan makan siang: semua tersaji sesuai waktu yang telah dijanjikan oleh Roy,” papar Saras.

Saras tidak pernah membayangkan jika teman satu kelasnya di 2 IPA 3 SMAN IX Bulungan pada 1978 itu akan menjadi fotografer profesional. “Roy juga memperlihatkan semua koleksi kameranya, bahkan dia memiliki edisi kamera terbatas satu merk tertentu. Satu kata buat Roy: profesional,” tegas Saras.

Ada juga beberapa sahabat yang absen seperti Tubagus Adhi yang dengan berat hati harus menyatakan tak bisa hadir karena melayat salah satu sahabatnya Sekjen PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang yang meninggal dunia Jumat malam karena serangan jantung.

Tubagus Adhi yang sehari-harinya sebagai Wakil Ketua PWI DKI Jakarta dan juga aktif sebagai penguji (assesor ) UKW PWI, anggota kelompok kerja (Pokja) Komisi Pendataan Dewan Pers dan kini juga menjadi Pengacara tentu sedikit muram lantaran harus melewatkan kebersamaan indah dengan para sahabatnya itu.

Menurut Roy, ia memang sengaja mengundang sahabat-sahabatnya di Dupati demi membuat akhir pekan ini lebih menyenangkan. Apalagi, di antara mereka, ada Nina Bancroft yang sudah 23 tahun tinggal di Kanada dan tidak setiap saat bisa datang ke Jakarta.

Karena ada keperluan keluarga besarnya di Jakarta tahun ini dia bisa reunian dengan teman-teman Dupatinya. Nina segera kembali ke Kanada pekan depan, persisnya 23 April nanti.

Menarik mendengar cerita Nina Bancroft, yang nama kelahirannya adalah Ati Winasti. Nina pindah ke Cornwall, Ontario, Kanada, pada 2003. Kehidupan Nina dengan dua anak berusia 14 dan 11 tahun sangat tidak mudah.

Nina bekerja sebagai School Bus Driver dengan ukuran bus 24 seater (tempat duduk). Nina mendapatkan Lisensi B dengan test dulu (test teori 20 jam di kelas dan 20 jam praktek dan dadakan test urine) untuk bisa mengemudikan antar- jemput anak sekolah. Lisensi B selain dapat untuk mengemudikan bus juga bisa untuk ambulan dan bus umum.

Kendala sebagai driver adalah saat cuaca minus 25 °C, badan Nina tidak kuat menahan dinginnya cuaca. Kendala lain adalah saat salju mengeras sehingga kendaraan sulit dikendalikan, tergelincir, licin. Belum lagi badai salju (snow storm) yang datangnya kerap tak terduga.

Saat ini, Nina sudah tidak bekerja lagi. Kendati demikian, dia masih memiliki penghasilan dengan menyewakan properti. Pada kepulanganya kali ini Nina bisa jalan-jalan ke Yogya.

Nina dikaruniai dua anak. Yang pertama, Monica Fajria, saat ini bekerja sebagai HR di sebuah perusahaan di kota Richmond Hill, Ontario. “Karena jarak dari rumah ke tempat kerjanya jauh, sekitar 500 km, dia menyewa apartemen di pusat kota Toronto.

Adiknya Monica, yakni Firman Bancroft, saat ini bekerja di Satelite Company, di kota Etonicoke, Toronto. Nina tengah menanti cucu dari anak keduanya itu. Sabar yaa, Nina!