Anak Muda Tak Mau Ribut di Ruang Tertutup Saja: Gerakan Benerin 1000 Sekolah Langsung Dijalankan
SinarHarapan.id-Lebih dari 350 pelajar, mahasiswa, guru, komunitas kreatif, dan perwakilan kementerian memadati Ganara Art FX Sudirman, Jakarta, pada Sabtu (2/5). Mereka tidak datang sekadar menghadiri diskusi biasa. Di tengah gelaran Hari Raya Pendidikan 2026, mereka meluncurkan sebuah gerakan konkret: Benerin 1000 Sekolah.
Aksi kolektif ini digagas oleh Sekolah Tanah Air bersama GEKRAFS, Bepro, cemas.co dan Distrik Berisik. Targetnya jelas—memperkuat fasilitas belajar, meningkatkan literasi, mengembangkan kapasitas pendidik, sekaligus membangun budaya belajar yang lebih sehat di seribu sekolah, dari kota hingga pelosok desa.
“Kita terlalu sering berhenti di ruang diskusi,” ujar Rian Fahardhi, pendiri Sekolah Tanah Air, di panggung utama. “Pendidikan butuh keberanian untuk turun langsung ke sekolah-sekolah dan membangun perubahan dari akar.”
Pernyataan Rian langsung disambut tepuk tangan panjang. Sebab, dalam sesi “Peta Pendidikan Indonesia” yang digelar sebelumnya, peserta dengan lantang memaparkan keresahan yang sama: ketimpangan akses, kesenjangan fasilitas, serta relevansi sistem pendidikan di era teknologi yang berubah cepat.
Forum tidak berhenti di kritik. Pada sesi “Kerja Sama untuk Generasi Selanjutnya”, hadir sejumlah pembicara lintas sektor, seperti CEO Orbit Edutech M. Andy Zaky, CEO Smartick Indonesia Galih Sulistyaningra, kreator dan guru sejarah Nada Aprianita, serta perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mereka sepakat bahwa kolaborasi konkret antar pemangku kepentingan adalah kunci.
Ketua Umum Bepro, Luthfi Dipa, menegaskan bahwa antusiasme generasi muda bukan sekadar euforia. Bepro sendiri telah hadir di 20 provinsi dan siap menggerakkan jaringan relawan melalui program BeCare untuk mengawal langsung gerakan ini di akar rumput.
“Hari ini kita membuktikan bahwa keresahan publik terhadap pendidikan bisa menjadi energi perubahan,” kata Luthfi. “Anak muda bukan sekadar penonton, tapi penggerak perubahan.”
Acara yang bertema “Gerakan Pendidikan Kembali ke Akar” itu juga dimeriahkan penampilan budaya dari Traditional Dancer Club SMPN 253 Jakarta. Sebuah pesan simbolis: perbaikan sekolah harus tumbuh dari nilai dan identitas bangsa sendiri.
Dengan peluncuran Gerakan Benerin 1000 Sekolah, forum ini menegaskan bahwa pendidikan tidak lagi semata urusan kebijakan di meja birokrasi.
Ia adalah gerakan sosial dan budaya yang membutuhkan partisipasi kolektif seluruh lapisan masyarakat—dari Jakarta hingga daerah terpencil—demi satu tujuan: menyambut Indonesia Emas 2045 dengan sekolah yang layak dan bermartabat.
