Sinar Harapan ID – Perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom, menandatangani tiga nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan sejumlah lembaga pemerintah dan ilmiah di China. Penandatanganan dilakukan oleh CEO Rosatom Alexey Likhachev dalam kunjungan resmi Presiden Rusia ke China pada 21 Mei 2026.
Tiga MoU tersebut menegaskan arah baru hubungan strategis Rusia dan China, tidak hanya dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, tetapi juga pengembangan teknologi masa depan seperti fusi nuklir, kedokteran nuklir, hingga teknologi kuantum.
MoU pertama diteken bersama China Atomic Energy Authority. Kesepakatan ini berfokus pada pengembangan sumber daya manusia untuk pemanfaatan energi nuklir damai.
Dokumen tersebut mencakup penguatan kerja sama pendidikan dan pelatihan tenaga kerja industri nuklir, pertukaran pengalaman serta praktik terbaik, hingga pengembangan komunitas profesional muda dan perempuan di sektor nuklir kedua negara.
Langkah ini dinilai penting karena industri nuklir modern membutuhkan tenaga ahli dengan standar keselamatan tinggi serta kemampuan teknologi yang terus berkembang.
Penandatanganan dilakukan oleh Alexey Likhachev bersama Kepala China Atomic Energy Authority, Shan Zhongde.
MoU kedua ditandatangani bersama Kementerian Sains dan Teknologi China. Fokus utama kerja sama ini adalah pengembangan teknologi fusi nuklir terkendali.
Rusia dan China saat ini termasuk negara terdepan dalam riset fusi nuklir. Kedua negara menjalankan program nasional berskala besar dan menjadi bagian dari proyek internasional ITER, proyek reaktor fusi terbesar dunia.
Melalui kesepakatan ini, kedua negara akan memperkuat kolaborasi ilmiah dan teknis untuk mempercepat pengembangan energi masa depan yang dinilai lebih bersih dan hampir tanpa emisi karbon.
Dokumen tersebut ditandatangani oleh Alexey Likhachev dan Menteri Sains dan Teknologi China Yin Hejun.
MoU ketiga diteken bersama Chinese Academy of Sciences. Isi kerja sama lebih luas, mencakup pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir.
Selain fusi nuklir, kerja sama juga meliputi kedokteran nuklir, teknologi akselerator, teknologi fotonik baru, dan teknologi kuantum.
Bidang-bidang tersebut menjadi perhatian global karena berpotensi mendorong revolusi industri generasi berikutnya, termasuk di sektor kesehatan, komputasi, komunikasi, dan energi.
Penandatanganan dilakukan oleh Alexey Likhachev dan Presiden Chinese Academy of Sciences Hou Jianguo.
CEO Rosatom Alexey Likhachev menilai tiga MoU tersebut memiliki arti strategis jangka panjang bagi kedua negara.
“Negara kami dipersatukan oleh sejarah panjang kemitraan strategis tidak hanya dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, tetapi juga dalam pengembangan teknologi masa depan,” ujar Likhachev.
Ia menambahkan, nota kesepahaman mengenai kerja sama jangka panjang di bidang sains dan teknologi fundamental, terutama fusi nuklir terkendali, menunjukkan kesiapan Rusia dan China untuk melangkah bersama dan memastikan kepemimpinan global di bidang tersebut.
Penguatan kolaborasi Rusia–China ini juga menunjukkan persaingan global dalam penguasaan teknologi strategis semakin mengarah pada sektor energi bersih dan teknologi canggih.
Bagi dunia, kerja sama tersebut dapat mempercepat inovasi energi rendah karbon sekaligus membuka peluang baru dalam riset ilmiah internasional.












