Edwin Manopo, B.Sc (Hons), M.Soc.Sci (Psychology), CCHt, CI, psikolog dan spesialis emosi serta trauma, dalam analisisnya mengungkap bahwa pinjol hadir sebagai produk yang menjual kelegaan sesaat. Di era serba cepat, manusia dibiasakan merespons notifikasi tanpa henti, menikmati hiburan instan, dan berbelanja dengan satu sentuhan. Kebiasaan ini perlahan mengikis kemampuan menunda kepuasan, sebuah kapasitas penting dalam pengambilan keputusan yang sehat. “Yang dijual bukan hanya akses terhadap uang, melainkan rasa lega,” tulisnya.
Menurut Edwin, situasi ini semakin berbahaya karena banyak masyarakat masih membawa beban psikologis dan ekonomi setelah pandemi. Penghasilan tidak stabil, biaya hidup meningkat, dan kecemasan berkepanjangan membuat banyak orang hidup dalam mode bertahan. Dalam kondisi demikian, rasa takut sering mengalahkan pertimbangan rasional. Orang yang terjerat pinjol tidak selalu sedang menghadapi persoalan finansial semata. Banyak di antaranya juga bergulat dengan rasa malu, kelelahan, kesepian, dan kepanikan.
Fenomena ini menggambarkan apa yang disebutnya sebagai “penjara dopamin.” Keputusan untuk meminjam diambil bukan untuk memperbaiki kehidupan dalam jangka panjang, melainkan untuk meredakan sakit sesaat. Stres mendorong seseorang mengambil pinjol, pinjol memberi kelegaan sementara, lalu utang bertambah dan tekanan semakin besar. Ketika rasa takut kembali muncul, solusi instan kembali dicari. Siklus ini dapat merusak kesehatan mental sekaligus kondisi finansial secara bersamaan.
Sayangnya, masyarakat sering menilai korban pinjol secara berlebihan. Mereka dianggap ceroboh, tidak disiplin, atau serakah. Edwin menegaskan bahwa tanggung jawab pribadi memang tetap penting, tetapi tidak adil jika seluruh persoalan dibebankan kepada karakter individu. “Banyak keputusan lahir ketika kondisi psikologis seseorang sudah rapuh. Orang yang panik, terdesak, dan merasa sendirian tidak mengambil keputusan dari ruang batin yang tenang,” jelasnya.
Krisis pinjol, lanjut Edwin, bukan hanya tentang sistem yang mengeksploitasi dorongan psikologis manusia, tetapi juga tentang kegagalan kita memahami korban secara lebih manusiawi. Ketika seseorang tidak lagi mampu membayar utangnya, yang runtuh bukan hanya kondisi ekonominya, melainkan juga harga dirinya. Rasa malu dapat berubah menjadi keputusasaan, bahkan menghilangkan harapan. Di sinilah peran keluarga dan sahabat menjadi sangat penting. Respons pertama yang dibutuhkan bukanlah kemarahan atau penghakiman, melainkan kehadiran yang menenangkan.
Edwin menekankan bahwa upaya menghadapi persoalan pinjol tidak cukup dengan imbauan disiplin. Yang lebih penting adalah membangun kembali kebebasan mental agar tidak selalu tunduk pada dorongan sesaat, memperkuat empati sosial agar tidak mudah menghakimi mereka yang terjatuh, serta menghadirkan perlindungan publik yang benar-benar berpihak kepada masyarakat. “Kebebasan mental berarti masih adanya ruang antara dorongan dan keputusan, antara kesalahan dan kehancuran. Di tengah dunia yang menawarkan segala sesuatu secara instan, termasuk utang yang dapat dicairkan dalam hitungan menit, kemampuan menjaga jarak itulah yang menjadi bentuk kemerdekaan paling berharga,” pungkasnya.