SinarHarapan .id – Awak kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro akhirnya kembali menjalankan tugas dengan aman setelah berhasil melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis sekaligus paling rawan di dunia, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Arab.
Kru kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) Pertamina Pride tiba di perairan Cilacap pada 24 Juli 2026 setelah meninggalkan kawasan Teluk Arab pada awal bulan. Sementara itu, awak MT Gamsunoro lebih dahulu berhasil melintasi Selat Hormuz pada 25 Juni dan kini kembali beroperasi melayani pelanggan di perairan Singapura.

Kedatangan kru Pertamina Pride disambut jajaran manajemen PT Pertamina International Shipping (PIS) melalui konferensi video yang juga diikuti awak Gamsunoro.
“We are happy to be finally out of Hormuz,” ujar Rizqi Rafif, Second Officer Pertamina Pride, menggambarkan kelegaan setelah berbulan-bulan bertugas di kawasan yang menjadi perhatian dunia akibat konflik bersenjata.
Menurut Rizqi, pelayaran kali ini jauh berbeda dibandingkan perjalanan rutin yang biasa dijalani para pelaut. Selain harus menghadapi cuaca laut, awak kapal juga dihadapkan pada situasi keamanan yang tidak menentu.

Ia mengungkapkan bahwa sistem navigasi GPS sempat mengalami gangguan (jamming), sehingga seluruh tim navigasi harus meningkatkan kewaspadaan selama pelayaran.
“Kami sempat khawatir. Dalam situasi seperti itu muncul pertanyaan harus mengikuti pihak yang mana. GPS juga mengalami jamming. Kami bersyukur akhirnya dapat melewati semuanya dengan selamat,” katanya.
Pengalaman serupa disampaikan Daryl Josua Makaminang, Third Officer MT Gamsunoro. Ia mengatakan kapal yang diawakinya melintasi jalur selatan Selat Hormuz dengan pengawalan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy). Sehari setelah kapal berhasil keluar dari kawasan tersebut, terjadi serangan terhadap kapal lain di wilayah yang sama.

“Kami tentu cukup khawatir dengan situasi perang saat itu. Syukur kami dapat melewati Selat Hormuz dengan selamat,” ujarnya.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia. Dalam kondisi normal, kapal membutuhkan sekitar delapan jam untuk melintasi selat tersebut, termasuk sekitar empat jam melewati titik yang dinilai paling berisiko.
Direktur Utama PT Pertamina International Shipping, Surya Tri Harto, mengatakan keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama perusahaan selama meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Teluk Arab.
Menurut Surya, perusahaan terus memantau kondisi seluruh kru sejak kapal memasuki wilayah tersebut serta memastikan setiap keputusan operasional mempertimbangkan aspek keselamatan.
“Kami selalu menempatkan keselamatan seluruh awak kapal sebagai prioritas utama dalam setiap pelayaran,” ujarnya.
Komisaris Utama PT Pertamina International Shipping, Anwar Saadi, juga menyampaikan apresiasi kepada para nakhoda dan seluruh awak kapal yang dinilai mampu menjalankan tugas secara profesional di tengah situasi yang penuh risiko.
“Kami bersyukur seluruh awak Pertamina Pride maupun Gamsunoro berhasil kembali dengan selamat. Dedikasi dan profesionalisme mereka patut diapresiasi,” katanya.
Setelah keluar dari kawasan Teluk Arab, kedua kapal menjalani perawatan teknis sebagai persiapan untuk pelayaran berikutnya. MT Gamsunoro telah menjalani pembersihan lambung kapal (hull cleaning), sedangkan Pertamina Pride melakukan underwater hull cleaning guna menjaga performa armada.
Keberhasilan kedua kapal melintasi Selat Hormuz menjadi gambaran tantangan yang dihadapi para pelaut Indonesia dalam menjaga kelancaran distribusi energi di tengah dinamika geopolitik global.






