SinarHarapan.id-Teknologi pengolahan sederhana berbasis kimia bahan alam kini dilirik sebagai solusi untuk mendongkrak nilai jual kopi reject, biji kopi yang selama ini dibuang murah karena cacat fisik atau mutu visual rendah.
Tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) IPA Universitas Jember mengembangkan metode ekstraksi minyak kopi (coffee infused oil) yang diolah menjadi reed diffuser aromaterapi, dengan sasaran utama kelompok ibu-ibu petani kopi di Desa Pujer Baru, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso.
Program bertajuk “Kopi Aroma Argopuro” ini digagas oleh Rekfa Wika Amini, S.Si., M.Si., Dosen Program Studi Pendidikan IPA FKIP UNEJ yang berlatar belakang keilmuan kimia bahan alam, bersama dua rekannya, Jadnika Dwi Rakhmawan Amrullah, M.Pd dan Arvidhea Safira Gunawan, M.Pd.
Kopi Reject, Aset Terbengkalai di Lereng Argopuro

Sebagian biji kopi memiliki ukuran tidak seragam atau cacat fisik, sehingga hanya laku dengan harga jauh di bawah kopi kualitas premium. Selama ini kelompok ibu-ibu petani hanya kebagian peran di tahap penjemuran serta penyortiran, tanpa sentuhan pengolahan lanjutan yang bisa mendongkrak nilai ekonominya.
Rekfa menjelaskan bahwa persoalan itulah yang mendasari timnya mencari jalan keluar berbasis sains terapan.
Menurutnya, kopi reject sesungguhnya menyimpan potensi besar jika diolah dengan pendekatan teknologi yang tepat guna, bukan sekadar dijual mentah dengan harga rendah.
Dari Bubuk Kopi ke Botol Aromaterapi

Inovasi yang ditawarkan terbilang sederhana namun berbasis prinsip kimia yang jelas. Kopi reject disortir, disangrai pada suhu 150–180C, lalu digiling halus. Bubuk itu kemudian direndam dalam virgin coconut oil (VCO) sebagai carrier oil untuk menghasilkan coffee infused oil, proses ekstraksi yang memungkinkan senyawa aromatik kopi larut ke dalam minyak pembawa yang stabil dan tahan lama.
Minyak hasil ekstraksi lalu disaring hingga jernih, dituang ke botol kaca berukuran 100 ml, ditambah sedikit minyak kayu manis, dan dilengkapi lima hingga sepuluh batang reed rotan sebagai media penyebar aroma. Produk jadi ini diklaim mampu bertahan tiga hingga empat minggu, tergantung kondisi ruangan.
“Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada pemberdayaan perempuan petani agar lebih mandiri secara ekonomi,” ujar Rekfa.
Proses produksi yang tidak memerlukan alat mahal maupun keahlian teknis tinggi ini sengaja dirancang agar bisa direplikasi dalam skala rumah tangga. Hal itu sejalan dengan target program yang menyasar kelompok ibu-ibu dengan keterbatasan akses modal dan peralatan.
Pelatihan Berbasis Praktik, Bukan Sekadar Teori
Metode pelatihan yang diterapkan mengutamakan learning by doing, dengan porsi praktik langsung mencapai 80 persen dari total waktu kegiatan.
Peserta dilibatkan mulai dari penyortiran bahan baku, proses sangrai, pembuatan coffee infused oil, hingga perakitan dan pengemasan produk akhir.
Target program ini terukur secara spesifik, minimal 90 persen peserta pelatihan diharapkan mampu memproduksi reed diffuser secara mandiri begitu pelatihan usai.
Sedikitnya sepuluh unit prototipe reed diffuser bermerek “Kopi Aroma Argopuro” ditargetkan rampung sebagai bukti konkret hasil pendampingan, lengkap dengan dokumen standar operasional prosedur (SOP) produksi sederhana.
Rekfa menyebut keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah produk yang dihasilkan, tetapi juga dari pemahaman peserta terhadap konsep nilai tambah ekonomi.
“Melalui pelatihan terstruktur, mitra diharapkan mampu mengolah kopi reject menjadi produk nonpangan bernilai ekonomi lebih tinggi,” katanya.
Mahasiswa Turun Langsung, Dukung Riset Berbasis Bukti
Program ini turut melibatkan lima mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA UNEJ dalam skema service learning, yang berperan mendampingi pelatihan, mendokumentasikan kegiatan, hingga mengumpulkan data evaluasi program.
Klaim keefektifan pendekatan ini bukan tanpa dasar. Tim merujuk pada sejumlah kajian yang menunjukkan bahwa pemanfaatan produk reject menjadi produk turunan bernilai tambah dapat mendongkrak pendapatan usaha mikro sebesar 20–40 persen.
Sementara itu metode pelatihan berbasis praktik langsung terbukti meningkatkan penguasaan keterampilan teknis hingga di atas 70 persen dibandingkan metode ceramah konvensional.
Bukan Proyek Sesaat, tapi Fondasi Usaha Jangka Panjang
Program yang berjalan Mei–Desember 2026 ini didanai melalui skema Hibah Pengabdian Pemula (PPP) Universitas Jember dan dirancang sebagai fondasi awal dari peta jalan jangka panjang.
Tim menargetkan pembentukan kelompok usaha embrio pada 2028, hingga pengembangan menjadi UMKM aromaterapi kopi yang lebih mapan pada periode 2029–2030.
“Program ini diharapkan menjadi langkah awal kemandirian ekonomi ibu-ibu petani kopi melalui pemanfaatan potensi lokal,” tutup Rekfa.





