SinarHarapan.id –Menyambut 500 tahun Jakarta pada 2027, Komunitas Salihara Arts Center menggelar Lokakarya Peta Sastra Kebangsaan pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 di Jakarta Selatan. Kegiatan yang melibatkan 22 guru SMA dari wilayah Jabodetabek ini bertujuan memperkenalkan metode pembelajaran sastra Indonesia yang lebih terbuka, fleksibel, dan mendorong partisipasi aktif siswa.
Lokakarya yang didukung Dinas Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini menjadi bagian dari upaya memperluas pengenalan sastra Indonesia sekaligus memperkuat tradisi intelektual bangsa melalui lingkungan pendidikan.
Kurator Sastra Komunitas Salihara, Ayu Utami, mengatakan Peta Sastra Kebangsaan merupakan program yang telah diinisiasi Salihara sejak 2017. Program ini berangkat dari pemikiran bahwa pengenalan sastra dan pemikiran Indonesia kepada pelajar merupakan bagian penting dalam membangun tradisi intelektual bangsa.
“Selama ini, sastra cenderung belum cukup dikaitkan dengan sejarah pemikiran bangsa. Melalui program ini, Salihara berupaya mempermudah pengajaran dan pengenalan sastra Indonesia, sekaligus menghubungkan kembali karya sastra dengan perkembangan pemikiran Indonesia,” kata Ayu dalam keterangan tertulis.
Metode Peta Sastra Kebangsaan memperkenalkan khazanah sastra Indonesia melalui sejumlah kata kunci yang relevan dengan kehidupan dan pengalaman pelajar. Peta yang dimaksud bukanlah peta geografis, melainkan peta logis-naratif atau mind map yang memperlihatkan hubungan antara tema, gagasan, dan karya sastra.

Metode ini tidak terpaku pada urutan waktu maupun periodisasi sastra. Guru dapat mengembangkannya sesuai konteks pembelajaran, ketersediaan materi, serta tingkat pengetahuan siswa.
Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak sekadar menjadi penerima materi, tetapi juga memperoleh ruang untuk menafsirkan, berdiskusi, dan terlibat aktif dalam membangun pemahaman terhadap sastra Indonesia.
Guru Menjadi Penggerak Pengenalan Sastra di Sekolah
Penyelenggaraan lokakarya pada 2026 merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya digelar pada 2024. Saat itu, kegiatan melibatkan 12 guru SMA terpilih dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua, dengan dukungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Pada penyelenggaraan tahun ini, peserta lebih difokuskan pada 22 guru SMA dari wilayah Jabodetabek.
Guru menjadi sasaran utama karena memiliki peran strategis dalam memperkenalkan sekaligus mengembangkan metode Peta Sastra Kebangsaan di lingkungan pendidikan. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama lokakarya diharapkan dapat diterapkan di sekolah masing-masing, sehingga pengenalan sastra Indonesia dapat menjangkau lebih banyak siswa.
Membongkar Khazanah Sastra Nusantara melalui Diskusi dan Praktik
Selama tiga hari, peserta mengikuti serangkaian sesi yang dirancang untuk memperkenalkan metode sekaligus mengembangkan keterampilan dalam menyusun peta sastra.
Lokakarya dibuka dengan pengenalan metode oleh Ayu Utami, dilanjutkan dengan pengantar simulasi “Sidang Penyusunan Diplomasi Budaya”. Para peserta juga mendapatkan pembekalan dari sejumlah penulis dan pegiat sastra, yakni Debra Yatim, Nirwan Dewanto, dan Zen Hae.
Dalam berbagai sesi, para guru diajak mendiskusikan tantangan pengajaran sastra di sekolah, berbagi pengalaman, serta memperoleh perspektif mengenai perkembangan seorang sastrawan dan cara memperkenalkan karya sastra agar lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Peserta kemudian berlatih mengembangkan peta sastra, menyusun narasi, dan memilih contoh teks melalui metode “Sidang Penyusunan Diplomasi Budaya”. Hasil kerja kelompok dipresentasikan pada hari terakhir lokakarya.
Melalui proses tersebut, para guru tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktis dalam menyusun materi pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi sekolah masing-masing.
Bagi Benedictus Anindito Rahadi, guru SMA Santa Ursula Jakarta, metode Peta Sastra Kebangsaan membantu menyusun pola berpikir secara lebih runtut sehingga sastra Indonesia menjadi lebih mudah dipahami.
“Lokakarya ini sangat menarik dan bermanfaat. Menurut saya, sastra sebagai belantara membutuhkan petunjuk agar pembacanya tidak tersesat. Peta sastra ini dapat menjadi panduan untuk mengenali dan menghargai karya-karya pemikiran Indonesia yang selama ini belum mendapatkan perhatian cukup,” ungkap Benedictus.
Ia berencana membagikan pengetahuan dan metode yang diperolehnya kepada rekan-rekan sejawat terlebih dahulu sebelum menerapkannya kepada para siswi di sekolah, dengan menyesuaikan kondisi pembelajaran yang ada.
Pengalaman serupa dirasakan Juriah, guru SMAN 69 Jakarta di Kepulauan Seribu. Baginya, lokakarya ini menjadi kesempatan pertama untuk mengenal metode Peta Sastra Kebangsaan sekaligus memperoleh inspirasi untuk menghidupkan kembali kegiatan literasi dan sastra di sekolahnya.
“Saya ingin menerapkan kegiatan literasi yang sempat vakum di sekolah kami. Ke depannya, saya berharap anak-anak bisa menulis, baik puisi maupun pantun. Namun, sebelum sampai ke situ, minimal mereka suka dulu dengan sastra,” tutur Juriah.
Menumbuhkan Kecintaan terhadap Sastra Indonesia
Melalui lokakarya ini, Komunitas Salihara berharap Peta Sastra Kebangsaan dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas pengenalan sastra Indonesia di lingkungan pendidikan.
Dengan menempatkan guru sebagai pengembang metode sekaligus penghubung antara karya sastra dan siswa, program ini diharapkan mampu membuka ruang pembelajaran yang lebih dialogis dan kreatif.
Lebih dari sekadar mengenalkan karya sastra, Peta Sastra Kebangsaan juga berupaya mengajak generasi muda memahami hubungan antara sastra, sejarah, kebudayaan, dan perkembangan pemikiran bangsa.
Upaya tersebut menjadi relevan dalam menyambut 500 tahun Jakarta pada 2027, ketika refleksi atas perjalanan kota juga dapat dilakukan melalui kekayaan sastra dan tradisi intelektual Indonesia.
Tentang Para Pemateri
Ayu Utami merupakan sastrawan yang banyak mengangkat wacana seksualitas dari sudut pandang perempuan melalui karya-karyanya. Novel pertamanya, Saman, memenangi Sayembara Penulisan Roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1998. Karya lainnya, Bilangan Fu (2008), memperoleh Khatulistiwa Literary Award 2008, sedangkan karya terbarunya adalah Anatomi Rasa (2019).
Atas kiprahnya di dunia sastra, Ayu menerima Prince Claus Award pada 2000 dari Prince Claus Fund, Belanda. Ia juga merupakan salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan turut membangun Komunitas Utan Kayu, sebuah pusat seni, pemikiran, dan kebebasan informasi.
Saat ini, Ayu aktif sebagai Kurator Sastra dan Direktur Literature and Ideas Festival (LIFEs) di Komunitas Salihara serta Direktur Program Teater Utan Kayu.
Nirwan Dewanto adalah sastrawan, editor sastra, dan kurator kesenian. Ia telah menerbitkan 11 buku. Karya terbarunya antara lain Ke Arah Museum Revolusi (2025), buku puisi yang dinobatkan sebagai buku puisi terbaik tahun tersebut oleh majalah Tempo, serta Satu Setengah Mata-mata (edisi kedua, 2026), sebuah esai-prosa tentang rupa dan seni rupa. Edisi pertama buku tersebut memperoleh S.E.A. Write Award pada 2018.
Dalam tiga tahun terakhir, Nirwan memimpin kalamsastra.id, media daring dwimingguan yang memuat karya sastra dan telaah berbagai bidang kesenian. Pada periode 2024–2026, ia juga menjadi kurator pameran besar seni rupa kontemporer Indonesia tahunan di Surabaya, ARTSUBS.
Zen Hae menulis cerpen, puisi, naskah lakon, esai, serta kritik sastra dan teater. Buku terbarunya adalah omnibus Rahasia Kesaktian Raja Tua (Padrão Buku Abadi, 2022) dan kumpulan esai Sembilan Lima Empat (JBS, 2021).
Ia merupakan ko-editor dua jilid The Lontar Anthology of Indonesian Short Stories dan Antologi Cerpen Indonesia (Yayasan Lontar, 2017), serta terlibat dalam penerbitan seri kedua BTW Book yang diterbitkan Yayasan Lontar menjelang London Book Fair 2019.
Saat ini, Zen menjabat sebagai Kurator Gagasan di Komunitas Salihara, redaktur jurnal Kalam daring, serta memperkuat keredaksian Yayasan Lontar. Pada September–Oktober 2025, ia menjadi penulis mukiman di Praha, Republik Ceko, atas dukungan Perpustakaan Kota Praha-Kota Sastra Praha.
Debra Yatim adalah penulis, penyunting, dan pelatih kepenulisan. Ia menjadi penerjemah tetap puisi penyair Indonesia untuk antologi dwibahasa tahunan yang diterbitkan Ubud Writers & Readers Festival.
Debra aktif dalam berbagai kegiatan pemajuan literasi, antara lain melalui Indonesian Writers Inc, asosiasi penulis Alinea, kelompok Membaca Raden Saleh, Borobudur Writers & Cultural Festival, Makassar Writers Festival, Penulis Puandemik, serta seri diskusi Perpustakaan Baca Di Tebet. Saat ini, ia tengah menekuni Kajian Sinema di Institut Kesenian Jakarta.
Tentang Komunitas Salihara Arts Center
Komunitas Salihara Arts Center merupakan institusi kesenian dan kebudayaan yang menghadirkan berbagai karya seni kontemporer dari Indonesia maupun dunia, baik dalam bentuk pertunjukan maupun program edukasi. Berlokasi di kawasan Jakarta Selatan, Salihara menjadi ruang kreatif yang mendorong dialog, pertukaran gagasan, serta perkembangan seni dan kebudayaan.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai program dan kegiatan Komunitas Salihara, masyarakat dapat mengakses kanal media sosial berikut:
- X: @salihara (https://twitter.com/salihara?lang=en)
- Instagram: @komunitas_salihara (https://www.instagram.com/komunitas_salihara/)
- Facebook: Salihara.org (https://www.facebook.com/salihara.org/)
- TikTok: @komunitas_salihara (https://www.tiktok.com/@komunitas_salihara)
Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui email: media@salihara.org.






