SinarHarapan.id – Sebanyak 16 perempuan muda mendapat kesempatan belajar langsung dari para pemimpin perempuan, eksekutif senior dunia usaha, serta pimpinan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui program CEO for a Day Indonesia: Women Shaping Tomorrow.
Program yang menggabungkan pengalaman job shadowing dan pendampingan (mentorship) tersebut ditutup melalui Forum Kepemimpinan di Sinarmas Land Plaza Tower 2, Jakarta, Rabu (12/8/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Anak Muda Internasional.
Program tersebut merupakan kolaborasi PBB di Indonesia, AmCham Indonesia Women Network, dan UN Global Compact Network Indonesia (IGCN). Inisiatif ini diarahkan untuk membuka akses yang lebih luas bagi perempuan muda dalam membangun pengalaman, kepercayaan diri, jejaring, dan kemampuan kepemimpinan.
Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Gita Sabharwal, mengatakan pemberdayaan generasi muda, khususnya perempuan dan anak perempuan, menjadi bagian penting dalam upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

“Hari ini, kita berkumpul untuk memanfaatkan kekuatan perempuan untuk mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” ujar Gita.
Menurut dia, setiap pemimpin memiliki titik awal dalam perjalanan kepemimpinannya. Karena itu, kolaborasi antargenerasi diperlukan untuk membuka lebih banyak peluang bagi perempuan muda agar dapat berkembang dan berkontribusi terhadap masa depan Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Program ini hadir di tengah masih terbatasnya keterwakilan perempuan dalam posisi kepemimpinan dan pengambilan keputusan di berbagai belahan dunia. Karena itu, pengalaman langsung dan akses kepada mentor dinilai penting untuk membantu perempuan muda memahami bagaimana kepemimpinan dijalankan dalam kehidupan profesional.
Sebanyak 16 peserta dipilih melalui proses seleksi berdasarkan potensi kepemimpinan, motivasi, serta komitmen mereka dalam menciptakan perubahan positif. Mereka kemudian dipertemukan dengan 15 CEO perempuan, eksekutif senior, dan pimpinan badan PBB.
Selama program berlangsung, para peserta mengikuti berbagai aktivitas kepemimpinan, termasuk menghadiri rapat, mengamati proses pengambilan keputusan, mengenal budaya organisasi, serta berdiskusi secara terbuka mengenai karier, tantangan kepemimpinan, dan tujuan hidup.
Salah satu peserta, Dhea Umi Amalia, 24, menilai pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa latar belakang keluarga tidak seharusnya menjadi batas bagi seseorang untuk menjadi pemimpin.
Dhea berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai sopir angkot, sedangkan ibunya merupakan lulusan SMP dari keluarga petani. Meski demikian, ia berhasil menyelesaikan pendidikan Kimia di Universitas Gadjah Mada dengan predikat cum laude dan menjadi lulusan tercepat di jurusannya sebelum kemudian beralih ke bidang pemasaran.
“Kesempatan untuk melakukan shadowing membuka mata saya bahwa kepemimpinan dibangun dari pengalaman, keberanian mengambil kesempatan, dan kemauan untuk terus belajar,” kata Dhea.
Ia mengajak perempuan muda, terutama mereka yang menjadi generasi pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi atau membangun karier profesional, untuk tidak membatasi diri berdasarkan latar belakang.
“Jangan biarkan dari mana kita berasal menentukan sejauh mana kita bisa melangkah. Berani bermimpi besar, mencari mentor, dan terus berinvestasi pada diri sendiri,” ujarnya.
Kepemimpinan Dibangun dari Pengalaman
Managing Director AmCham Indonesia Donna Priadi mengatakan kepemimpinan tidak cukup dipelajari melalui teori. Pengalaman langsung, rasa ingin tahu, keberanian bertanya, serta kesempatan melihat pemimpin menghadapi persoalan nyata menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Menurut Donna, CEO for a Day memberikan kesempatan kepada perempuan muda untuk melihat secara langsung berbagai aspek kepemimpinan, termasuk menghadapi tantangan, mengambil keputusan sulit, dan menjalankan tanggung jawab yang melekat pada sebuah posisi.
“Kami berharap pengalaman ini dapat mendorong mereka untuk mengejar cita-cita dengan penuh percaya diri dan menyadari bahwa mereka memiliki ruang tersendiri di jajaran kepemimpinan,” katanya.
Sementara itu, Presiden UN Global Compact Network Indonesia (IGCN) Y. W. Junardy menilai dunia usaha memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi pemimpin perempuan berikutnya.
Menurut dia, kesetaraan gender tidak cukup diwujudkan melalui komitmen formal. Perusahaan perlu membangun lingkungan kerja yang inklusif, memperkuat jalur kepemimpinan perempuan, menyediakan pendampingan yang bermakna, serta memastikan kesempatan yang setara bagi perempuan untuk berkembang.
“Kesetaraan gender harus lebih dari sekadar komitmen di atas kertas,” ujar Junardy.
Ia menambahkan, program tersebut menunjukkan bahwa kerja sama antara dunia usaha, PBB, dan generasi muda dapat mengubah komitmen bersama menjadi langkah nyata.
Forum penutupan CEO for a Day Indonesia diisi dengan refleksi peserta, gelar wicara mengenai kepemimpinan, penyerahan penghargaan, serta sesi interaktif Ask the Leaders. Dalam sesi tersebut, para peserta mendapat kesempatan berdialog langsung dengan pemimpin perempuan dari sektor swasta maupun PBB.
Program CEO for a Day Indonesia: Women Shaping Tomorrow diluncurkan pada Juni 2026 dan terbuka bagi perempuan muda berusia 18–25 tahun yang telah berkontribusi terhadap pencapaian SDGs melalui berbagai bidang, seperti pendidikan, kegiatan sukarelawan, aksi iklim, kewirausahaan, advokasi, inovasi, maupun kegiatan komunitas.
Para penyelenggara berharap program tersebut dapat mendorong lebih banyak institusi untuk berinvestasi pada pengembangan kepemimpinan generasi muda sekaligus memperluas keterwakilan perempuan dalam posisi kepemimpinan dan pengambilan keputusan.
Sejumlah organisasi yang terlibat dalam program ini antara lain AHANA, Bee Well Indonesia, AmCham Indonesia, HHP Law Firm, HP Indonesia, Dynapack Asia, Selaras Logistik Indonesia, Kiroyan Partners, APP Group, TBS Energi Utama, ILO Indonesia, UNESCO Indonesia, UNHCR Indonesia, UN Women Indonesia, serta Kantor Kepala Perwakilan PBB di Indonesia.





