SinarHarapan.id – Jalur Sutra yang selama berabad-abad menjadi penghubung peradaban Timur dan Barat kini kembali memancarkan semangat kolaborasi. Kali ini bukan melalui perdagangan rempah, sutra, atau budaya, melainkan melalui pesan kemanusiaan dan inklusi bagi para atlet difabel dunia.
Semangat tersebut mengemuka dalam The 6th Silk Road International Festival dan rangkaian penghargaan United Nations World Silk Road Forum, yang menjadi momentum menguatnya dukungan internasional terhadap kampanye 100 CTFP (Celebrities Talk for Para Athletes).
Gerakan ini mendapat dukungan dari sejumlah tokoh budaya, sastra, dan media dari berbagai negara di sepanjang Jalur Sutra. Enam figur ditunjuk sebagai Honorary Chairpersons, yakni Cao Shui dan Wang Fangwen dari China, Ulugbek Yesdaulet dari Kazakhstan, Usmon Azim dari Uzbekistan, Altynai Temirova dari Kyrgyzstan, serta Ashraf Aboul-Yazid dari Mesir.
Cao Shui Ajak Tokoh Asia Dukung Atlet Difabel
Di antara para tokoh tersebut, penyair asal China Cao Shui dinilai memiliki peran penting dalam memperluas dukungan terhadap kampanye 100 CTFP. Penerima World Silk Road Culture Outstanding Contribution Award sekaligus Ketua Beijing International Poetry Film Festival itu dikenal sebagai sosok yang aktif membangun jembatan budaya antara Timur dan Barat.
Komitmennya terhadap pemberdayaan atlet difabel diwujudkan dengan mengajak sekitar 100 tokoh Asia untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan 100 CTFP.
Tokoh China lainnya, Wang Fangwen, menjabat sebagai Presiden International Poetry Committee of the United Nations World Silk Road Forum serta profesor di Modern College of Northwest University, Xi’an.
Sementara dari Kazakhstan, Ulugbek Yesdaulet merupakan Ketua Union of Writers of Kazakhstan sekaligus Ketua Dewan TURKSOY Writers Union. Dari Mesir, Ashraf Aboul-Yazid dikenal sebagai Sekretaris Jenderal Congress of African Journalists, mantan Presiden Asia Journalists Association (AJA), serta penerima Manhae Grand Prize dan Arab Journalism Award, yang selama ini aktif membangun dialog budaya lintas benua.
Pesan Inspiratif Menuju Asian Para Games 2026
Menjelang penyelenggaraan Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026, Cao Shui menyampaikan pesan penyemangat kepada para atlet difabel.
“Saya berharap para atlet yang akan berlaga di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 dapat menunjukkan potensi terbaik melalui imajinasi yang penuh semangat. Asia adalah tempat matahari terbit, dan saya yakin kalian akan memancarkan kekuatan baru.”
Pendiri Maria Monique Last Wish Foundation sekaligus penggagas gerakan 100 CTFP, Natalia Tjahja, menyampaikan apresiasi kepada Cao Shui dan para tokoh Jalur Sutra yang telah mendukung kampanye tersebut.
Ia juga berharap semakin banyak figur publik asal China ikut menyuarakan dukungan bagi atlet difabel dunia.
“Harapan saya, tokoh-tokoh seperti Jackson Yee, Xu Kai, Dilraba Dilmurat, Yang Mi, Lin Yi, Johnny Huang, Zhao Lusi, Bai Lu, serta figur publik lainnya dapat memberikan pesan inspiratif bagi para atlet difabel di seluruh dunia,” ujarnya.
President IPC Berikan Dukungan Resmi
Dukungan juga datang dari President of the International Paralympic Committee (IPC), Andrew Parsons, yang pada 11 Juli 2026 mengirimkan video ucapan resmi bertepatan dengan peringatan satu tahun kampanye 100 CTFP.
Dalam pesannya, Parsons menyampaikan selamat atas perjalanan gerakan tersebut serta menegaskan bahwa misi 100 CTFP sejalan dengan visi IPC untuk menciptakan dunia yang lebih inklusif melalui olahraga para.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menyukseskan inisiatif tersebut demi memperluas kesempatan dan penghargaan bagi atlet difabel di seluruh dunia.
Menanggapi dukungan tersebut, Natalia Tjahja mengungkapkan rasa syukur atas apresiasi yang diberikan IPC.
Menurutnya, gerakan 100 CTFP lahir dari semangat sukarela, dijalankan secara nirlaba tanpa dukungan anggaran, namun mampu memperoleh dukungan luas dari berbagai tokoh internasional.
643 Tokoh Dunia Bergabung
Hingga saat ini, sebanyak 643 tokoh dunia telah bergabung dalam kampanye 100 CTFP (Celebrities Talk for Para Athletes).
Partisipasi para tokoh dari berbagai negara menunjukkan bahwa Jalur Sutra modern tidak hanya menjadi simbol hubungan antarbangsa dan peradaban, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi global yang menyatukan suara untuk mendorong inklusi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap prestasi para atlet difabel.











