Internasional

EESA Summit 2026: China–Indonesia Percepat Kolaborasi Teknologi Baterai demi Listrik Merata hingga Kepulauan Terluar

×

EESA Summit 2026: China–Indonesia Percepat Kolaborasi Teknologi Baterai demi Listrik Merata hingga Kepulauan Terluar

Sebarkan artikel ini

SinarHarapan.id-Sebanyak 22 pembicara dari pemerintah, BUMN, swasta nasional, serta perusahaan teknologi asal Tiongkok duduk bersama dalam EESA Summit Indonesia 2026. Mereka tidak hanya berdiskusi. Mereka menyusun peta jalan kolaborasi nyata: mempercepat transisi energi bersih melalui teknologi penyimpanan energi (energy storage system) dan jaringan listrik mandiri (microgrid) untuk seluruh wilayah kepulauan Indonesia.

Summit yang digelar di Pullman Hotel Thamrin, Jakarta, ini diprakarsai oleh EESA China bersama Seven Event, dengan dukungan penuh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI. Acara ini menjadi platform utama yang menghubungkan pasar energi terbarukan Indonesia yang tumbuh pesat dengan inovasi penyimpanan energi canggih dari China.

Hadir mewakili Direktur Jenderal EBTKE, Harris selaku Sekretaris Ditjen EBTKE membuka keynote dengan menegaskan arah kebijakan pemerintah. “Teknologi penyimpanan energi bukan lagi opsional, tetapi keharusan untuk mengatasi intermitensi PLTS dan PLTB,” ujarnya mengutip rencana nasional 100 GW yang salah satu pilar utamanya adalah energi surya skala besar.(9/6) 

Salah satu sorotan utama adalah tantangan kelistrikan di daerah terpencil dan kepulauan. Nur Hadiyanto, Koordinator Percepatan Penyediaan Infrastruktur Listrik Desa Kementerian ESDM, mengungkapkan target ambisius 2026: pembangunan Listrik Desa (Lisdes) di 2.065 lokasi. “Microgrid berbasis energi terbarukan dan baterai penyimpanan adalah jawaban untuk wilayah yang tidak mungkin dijangkau jaringan konvensional,” jelasnya.

Dari sisi industri, perusahaan China seperti Cornex New Energy, Megarevo, dan Topband memaparkan teknologi yang sudah berhasil diterapkan di negara mereka. Michael, Sales Director APAC Shenzhen Megarevo, mengatakan bahwa sistem penyimpanan cerdas mampu menstabilkan listrik di daerah kepulauan dengan biaya operasional yang semakin kompetitif.

Sesi yang paling dinantikan adalah diskusi tentang Era TKDN 2.0. Dessy Lusyana dari Kementerian Perindustrian memaparkan regulasi terbaru tingkat komponen dalam negeri untuk proyek energi. “Joint venture bukan sekadar kepatuhan, tetapi menciptakan nilai jangka panjang bagi industri lokal,” tegasnya. Hal itu diamini Hendry Asdayoka Putra, Presiden Direktur PLN Indonesia Power Renewables, yang menyebut bahwa kolaborasi dengan mitra China telah membuka transfer teknologi sekaligus penyerapan tenaga kerja lokal.

Tidak ketinggalan, skema pendanaan dibahas dalam sesi investment roundtable. Rene Duan, Secretary General EESA, berbagi pengalaman China dalam membiayai proyek penyimpanan energi skala besar. Woo Yong Lee dari International Finance Corporation (IFC) menambahkan bahwa proyek microgrid di Indonesia mulai layak mendapatkan pendanaan internasional jika dirancang dengan manajemen risiko yang matang.

COO Seven Event, Agus Riyadi, menyatakan bahwa summit ini adalah jembatan strategis. “Kami ingin sinergi Indonesia–China benar-benar mempercepat target net zero emission 2060 sekaligus mewujudkan ketahanan energi nasional,” tuturnya.

Dengan hadirnya regulator (ESDM, Kemenperin), buyer utama (PLN, Pertamina NRE), serta puluhan vendor teknologi, EESA Summit Indonesia 2026 bukan sekadar ajang seremonial. Ia menjadi titik awal implementasi proyek percontohan penyimpanan energi di berbagai pulau terdepan—dari Sabang sampai Merauke.