NasionalNetwork

Li Foundation Gandeng Tanoto Foundation adakan Inspiring Asia Micro Film Festival 2026, Dukung Pemberdayaan Komunitas Lewat Kompetisi Film Pendek

×

Li Foundation Gandeng Tanoto Foundation adakan Inspiring Asia Micro Film Festival 2026, Dukung Pemberdayaan Komunitas Lewat Kompetisi Film Pendek

Sebarkan artikel ini

Inspiring Asia merupakan sebuah inisiatif regional yang menggunakan storytelling untuk mengangkat isu sosial dan pertemukan cerita, komunitas, serta ide

Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 #InspiringIndonesia di Ice Palace, Lotte Avenue Kuningan, Jakarta, Jum"at (11/9/26)

SinarHarapan.id- Berbagai persoalan sosial membutuhkan solusi yang lahir dari dan bersama komunitas yang mengalaminya. Di berbagai daerah, masyarakat terus menemukan cara untuk saling mendukung dan menjawab tantangan di sekitarnya, mulai dari pendidikan dan inklusi hingga isu berkelanjutan dan pelestarian lingkungan.

Semangat inilah yang diangkat melalui Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 #InspiringIndonesia, yang menggunakan film sebagai ruang untuk memperkenalkan cerita dan inisiatif pemberdayaan komunitas kepada publik.
Hal ini tercermin dalam Regional Screening & Awarding Day #InspiringIndonesia yang digelar di Ice Palace, Lotte Mall, Jakarta, dengan menampilkan 11 karya terbaik dari komunitas dari berbagai daerah di Indonesia.

Mengusung tema Community Empowerment: Belonging, Resilience, Thriving, #InspiringIndonesia menghadirkan kisah autentik tentang ketangguhan komunitas serta bagaimana komunitas bisa saling mendukung, bertumbuh, dan bangkit bersama, terutama di tengah keterbatasan.
“#InspiringIndonesia 2026 bukan hanya tentang karya, tetapi juga tentang keterlibatan komunitas dan kekuatan storytelling dalam menciptakan perubahan. Karena pada akhirnya, setiap cerita yang dibagikan adalah bentuk empowerment. Kami berharap semakin banyak orang terus bercerita, menginspirasi, membangun koneksi, dan menciptakan perubahan positif,” ujar Candy Goh, Director, Li Foundation.

Digagas oleh Li Foundation, Inspiring Asia merupakan sebuah inisiatif regional yang menggunakan storytelling untuk mengangkat isu sosial dan mempertemukan cerita, komunitas, serta gagasan dari berbagai negara di Asia, salah satunya di Indonesia lewat #inspiringIndonesia.

Dalam penyelenggaraan #InspiringIndonesia, Li Foundation menggandeng kembali Djarum Foundation, Tanoto Foundation, dan Campaign for Good sebagai mitra strategis dalam menghadirkan dan mengembangkan rangkaian festival di Indonesia, sekaligus memperluas jangkauan cerita dan dampak karya-karya yang dihasilkan.

Para pemenang Inspiring Asia Micro Film Festival 2026

Tiga Kategori Berbeda untuk Mengangkat Cerita Komunitas
Festival ini menghadirkan tiga kategori utama. Best Project Award diberikan kepada inisiatif sosial berdampak yang telah berjalan dan diangkat melalui film pendek, dengan penekanan pada dampak nyata serta kontribusi komunitas atau social enterprise dalam pemberdayaan masyarakat.

Empat karya yang masuk dalam kategori ini adalah HEAR HER STORY, LILIN-LILIN DARI PELOSOK, Bergandengan Tangan, dan Rancage. Best Micro Film Award ditujukan bagi pembuat film yang mampu menyampaikan cerita kuat melalui kualitas artistik, visual kreatif, dan sinematografi. Empat karya yang masuk dalam kategori ini adalah memBEKAS, Ruang Antara, SAMTAMA, dan Kisah Igo.

Tahun ini, #InspiringIndonesia untuk pertama kalinya juga memperkenalkan Best AI Film Award, kategori bagi karya yang menggunakan AI untuk bercerita tentang isu sosial. Tiga karya yang terpilih adalah Pulang, Jahitan Harapan di Atas Puing, dan 2 Are Better Than 1.

Kategori ini hadir untuk membuka akses berkarya bagi lebih banyak orang, terutama mereka yang menghadapi keterbatasan biaya, peralatan, atau keterampilan teknis. Lewat kategori ini, AI diposisikan sebagai alat untuk mendukung kreativitas manusia, dengan penilaian yang tetap berfokus pada storytelling, orisinalitas, eksekusi, dan dampak sosial.
Community Vetting Libatkan Publik dalam Menentukan Finalis.

Proses penjurian turut melibatkan juri lintas disiplin dengan pengalaman dari berbagai sektor. Dewan juri terdiri dari Muhammad Zaidy, Producer di Palari Films; Felicia Hanitio, Deputy Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation; Deviani Wulandari, Head of Strategic and Impact Communications di Tanoto Foundation; Nurdini Prihastiti, Founder Dama Kara; Roro Ajeng Sekar Arum, Social Media & Optimisation Lead di KompasTV; serta Ahmad Aziz, Program Head di Campaign for Good.

Selain itu, yang membedakan proses di Indonesia dengan regional negara lain adalah pemilihan finalis dilakukan melalui community vetting, atau proses seleksi oleh publik, melalui aplikasi Campaign for Good. Melalui mekanisme ini, masyarakat ikut berpartisipasi dan berdiskusi tentang isu pemberdayaan komunitas, memberikan suara, dan berpartisipasi aktif dalam menentukan karya yang layak melaju ke tahap penjurian akhir.

Tahun ini, kompetisi ini menerima 127 entri dari 26 provinsi di Indonesia, yang kemudian disaring menjadi 21 semifinalis. Proses community vetting melibatkan 7.411 anggota komunitas, menjangkau 38 provinsi. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipasi publik tidak berhenti pada pemberian suara. Sebanyak 57,3% anggota komunitas menyatakan ingin mempelajari lebih lanjut isu yang diangkat setelah menonton film, sementara 65,2% menyatakan berniat bagikan film yang sudah mereka tonton kepada orang lain.

Nurdini Prihastiti, Founder Dama Kara menjelaskan bahwa dalam kompetisi ini, banyak hal yang dinilai, bukan hanya sinematografi atau aspek teknis film, tapi juga inisiatif, pemberdayaan, dan bagaimana komunitas dapat berdampak pada masyarakat.
“Kami harap karya-karya ini bisa menyentuh masyarakat lebih luas lagi untuk terinspirasi dan akhirnya membuat inisiatif baru untuk lingkungan sekitarnya.”
Dari ajang tersebut, Rancage karya IPB University meraih Best Project Award dengan hadiah sebesar Rp100.000.000. “Kemenangan ini membuka peluang untuk membawa Rancage menjangkau lebih banyak pihak dan menghadirkan kolaborasi yang dapat memberikan manfaat bagi komunitas. Masih banyak potensi yang bisa dikembangkan bersama, dan kami berharap ke depannya akan semakin banyak kolaborasi yang dapat mendukung teman-teman di Rancage untuk terus bertumbuh dan memberikan dampak.” Wina Ekawati, IPB University, pemenang Best Project Award.

Sementara itu, Ruang ANTARA karya Feugee dan memBEKAS karya KATALIS meraih Best Micro Film Award dengan hadiah total sebesar Rp75.000.000.
“Film pendek yang baik adalah yang mampu menggambarkan sebuah cerita dengan kuat, dan juga menyampaikan gagasan pembuatnya dengan cara yang dapat dirasakan secara emosional oleh penonton. Dua karya yang terpilih sebagai pemenang Best Micro Film berhasil melakukan hal tersebut. Keduanya mampu mengemas cerita dan gagasan dengan kuat, sehingga saya yakin dapat menginspirasi penonton untuk turut berdampak pada masyarakat,” jelas Muhammad Zaidy, Produser, Palari Film.

Selanjutnya, untuk kategori Best AI Film, Pulang karya Dika Karan terpilih sebagai pemenang dan memperoleh hadiah sebesar Rp30.000.000. Sementara itu, Nyanyian di Angkringan karya Tim Samudra turut mendapat penghargaan Honourable Mention.

Finalis berkesempatan melanjutkan perjalanan ke tingkat regional untuk memperebutkan kesempatan tampil di Grand Final Inspiring Asia di Manila, Filipina, serta memperebutkan modal regional hingga USD100.000 untuk Best Project, USD50.000 untuk Best Micro Film, dan USD10.000 untuk Best AI Film.
“Seluruh karya yang hadir di #InspiringIndonesia 2026 memiliki cerita dan gagasan yang layak untuk dibawa ke panggung Asia. Karya-karya anak bangsa ini menunjukkan kreativitas dan kepedulian yang patut kita apresiasi. Karena itu, kami yakin untuk membawa karya-karya terbaik dari Indonesia ke tingkat regional, agar semakin banyak cerita dan gagasan dari Indonesia dapat dikenal dan menginspirasi masyarakat di Asia,” ujar Roro Ajeng, Social Media & Optimisation Lead, KompasTV.

Melalui #InspiringIndonesia, cerita tentang ketangguhan masyarakat dan kekuatan komunitas untuk saling mendukung dan menciptakan perubahan mendapat ruang untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dari cerita lokal, kolaborasi lintas pihak, hingga partisipasi publik, festival ini menunjukkan bahwa perubahan dapat tumbuh ketika masyarakat diberi ruang untuk bercerita, terhubung, dan bergerak bersama.