Gaya Hidup

Mawar De Jongh, Vino G. Bastian, dan Dessy Ratnasari Ungkap Tantangan Berperan di Film Hamka: Awal Mula Vol. 3

×

Mawar De Jongh, Vino G. Bastian, dan Dessy Ratnasari Ungkap Tantangan Berperan di Film Hamka: Awal Mula Vol. 3

Sebarkan artikel ini

Film yang mengangkat kisah hidup ulama serta sastrawan Buya Hamka yang tumbuh dengan berbagai pergulatan, hingga akhirnya menemukan jalan hidup dan perjuangannya.

Poster Film Buya Hamka: Awal Mula Vol. 3 Foto: IG Falcon Pictures

SinarHarapan.id-Menghadirkan kisah perjalanan hidup seorang tokoh besar tentu bukan perkara mudah. Terlebih ketika sosok yang diangkat adalah Buya Hamka, ulama, sastrawan, sekaligus tokoh bangsa yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Indonesia. Hal inilah yang dirasakan para pemain film Hamka: Awal Mula Vol. 3.

Sejumlah pemain, di antaranya Vino G. Bastian, Mawar de Jongh, dan Dessy Ratnasari, berbagi pengalaman menarik selama terlibat dalam produksi film yang menjadi penutup trilogi Buya Hamka tersebut. Tidak hanya dituntut menghadirkan akting yang kuat, mereka juga harus menjalani proses pendalaman karakter, mempelajari bahasa Minang, hingga bahasa Arab demi menghadirkan cerita yang sesuai dengan latar sejarahnya.

Vino G. Bastian yang kembali dipercaya memerankan Buya Hamka menjelaskan bahwa meskipun Hamka Awal Mula Vol. 3 menjadi penutup trilogi, cerita yang dihadirkan justru membawa penonton kembali ke awal perjalanan hidup Buya Hamka.

Vino G. Bastian yang berperan sebagai Buya Hamka.
Foto: Istimewa

Tantangan tersendiri bagi Vino adalah memerankan Hamka dalam usia yang jauh lebih muda dibandingkan dua film sebelumnya. Ia harus menampilkan perjalanan Hamka sejak remaja hingga menikah.
“Ini sebetulnya secara usia, jauh di bawah usia aku waktu syuting. Jadi memang diturunin banget umurnya,” kata Vino G Bastian saat di temui di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (3/10).

Selain perubahan penampilan, Vino juga harus mempelajari bahasa Minang dan bahasa Arab.
“Hamka itu fasih bahasa Arab, jadi saya harus belajar bahasa Arab lagi. Termasuk bahasa Minang, jadi bahasa Minang, bahasa Arab, bahasa Indonesia. Bahasa Arab tuh agak susah, ya. Kalau kita panjang pendeknya aja salah, artinya bisa beda,” ujar Vino.
“Ya mudah-mudahan buat teman-teman yang paham bahasa Minang dan bahasa Arab tidak mengecewakanlah,” tambah Vino.

Sementara itu,  Mawar de Jongh, kesempatan memerankan Kulsum menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan sekaligus menantang. Dalam film ini, Kulsum merupakan teman masa kecil yang kembali ditemui Buya Hamka dalam perjalanan menggunakan kapal.
“Jadi, Kulsum ini adalah teman masa kecil yang ditemui oleh Buya Hamka ketika perjalanannya di kapal. Pastinya aku banyak mencari referensi untuk memerankan karakter ini, banyak ngobrol juga sama Mas Fajar (Sutradara),” kata Mawar.

Mawar de Jongh

Mawar mengaku harus banyak mencari referensi untuk memahami karakter Kulsum. Selain membaca berbagai artikel dan sumber yang tersedia secara online, ia juga banyak berdiskusi dengan sutradara Fajar Bustomi serta mengikuti proses reading bersama para pemain dan acting coach.
“Awalnya agak sedikit kesulitan, tapi karena waktu reading juga sama cast lainnya ditemani oleh Mas Fajar terus, sama acting coach juga, jadi ya rasanya semua kesulitan, puji Tuhan, bisa diselesaikan bersama-sama,” imbuh Mawar.

Namun, Mawar justru dibuat kagum dengan detail set kapal yang dibangun untuk film tersebut. Menurutnya, kerja keras seluruh tim produksi berhasil menghadirkan suasana kapal yang begitu mengesankan.
“Ketika pertama kali melihat set-nya juga nggak berhenti terkagum-kagum. Kayak, ini kerja keras banyak orang untuk bikin set ini. Terus juga keren banget, semua detail-detailnya. Aku bangga banget dan bersyukur banget bisa ada di project ini,” ujarnya.

Dessy Ratnasari

Dessy Ratasari yang berperan sebagai Ummi Shafiyah atau ibu Kandung dari Buya Hamka mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru, terutama mengenai bahasa, adat istiadat, hingga nilai-nilai keislaman yang begitu kuat dalam kehidupan keluarga Buya Hamka.
“Banyak ilmu baru, banyak inspirasi baru, banyak pelajaran baru, terutama urusan agama. Bagaimana seorang tokoh Buya Hamka ini betul-betul memegang prinsipnya di mana pun dia berada. Baik itu sebagai sastrawan, jurnalis, politisi, ataupun sebagai ketua MUI pertama, beliau betul-betul memegang prinsip beliau di mana pun beliau berada. Itu pelajaran yang paling penting saya rasa,” ungkap Dessy.

Sinopsis
‎Film ketiga dari trilogi biopik Buya Hamka ini berfokus pada masa kanak-kanak dan masa muda sang ulama besar, saat ia masih dikenal dengan nama aslinya, Abdul Malik Karim Amrullah (Malik).

‎Tumbuh di tepian Danau Maninjau, Sumatra Barat, Malik adalah anak yang cerdas, berjiwa bebas, dan gemar bertualang, namun juga sering dicap nakal dan keras kepala.

‎Ia tumbuh di bawah bayang-bayang ayahnya yang disegani, Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), seorang ulama reformis Islam yang sangat tegas dan berdisiplin tinggi. Hubungan ayah dan anak ini kerap diliputi ketegangan akibat perbedaan pandangan dan watak Malik yang dinamis serta menyukai dunia sastra.
‎
‎‎Film ini menjadi penutup trilogi Buya Hamka sekaligus membawa penonton kembali ke titik awal perjalanan seorang anak muda yang tumbuh dengan berbagai pergulatan, hingga akhirnya menemukan jalan hidup dan perjuangannya.

Film Hamka: Awal Mula Vol. 3 akan tayang diseluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 19 November 2026.