SinarHarapan.id-Ruang auditorium Fairmont Jakarta berubah menjadi panggung kolaborasi geosains pada Kamis (6/8). Seequent, bagian dari The Bentley Subsurface Company, mengumpulkan lebih dari 100 profesional dari sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur dalam ajang Seequent Connect Indonesia 2026 .
Hadir pula perwakilan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) serta asosiasi profesi seperti Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Mereka duduk bersama untuk membahas masa depan industri yang bergantung pada pemahaman kondisi bawah tanah .
Direktur Pengembangan Bisnis Seequent, Scott Moore, menegaskan bahwa Indonesia adalah pasar terpenting bagi perusahaannya di Asia Pasifik. Ia menyebut ambisi Indonesia Emas 2045 membutuhkan pemahaman subsurface yang akurat untuk pengambilan keputusan strategis .
Agenda ini menjadi puncak dari rangkaian lokakarya teknis selama tiga hari di Jakarta. Sebelumnya, para profesional mengikuti pelatihan pemodelan geologi 3D dan estimasi sumber daya menggunakan Leapfrog Geo dan Leapfrog Edge untuk meningkatkan kompetensi teknis mereka .
Tak hanya pemodelan, kursus singkat GeoStudio juga digelar untuk membahas analisis stabilitas lereng dan rembesan. Materi ini krusial bagi proyek pertambangan dan infrastruktur kompleks yang menuntut perhitungan geoteknik tingkat lanjut untuk meminimalkan risiko sejak dini .
Scott Moore menjelaskan, sektor-sektor tersebut sama-sama bergantung pada data geosains yang saling terhubung. Investasi berkelanjutan dalam kapasitas teknis dan kemitraan lokal menjadi kunci agar perusahaan lebih yakin menjalankan proyek strategis jangka panjang di Indonesia .
Ketua MGEI, Rosalyn Wullandhary, menekankan pentingnya forum seperti ini untuk menjembatani pendidikan dengan praktik industri. Kolaborasi antara industri, asosiasi profesi, dan akademisi dinilai mampu membangun komunitas geosains yang lebih kuat dan adaptif terhadap tantangan ke depan.
Komitmen Seequent di Indonesia bukanlah hal baru, telah berlangsung lebih dari dua dekade. Kini, kerja sama dengan ITB mencakup dukungan lisensi pengajaran, sementara dengan MGEI fokus pada pengembangan profesional dan pelatihan mahasiswa dalam Bahasa Indonesia untuk memperluas akses.
Bukti nyata kolaborasi ini terlihat dari proyek nikel PT Stargate di Sulawesi yang menghemat biaya pengeboran hingga US$8 juta. Di sektor infrastruktur, proyek Jalan Trans-Papua milik PT Hutama Karya juga merasakan optimalisasi desain yang menghemat waktu dua bulan.
Berlandaskan antusiasme yang tinggi, Seequent berkomitmen terus memperdalam hubungan dengan organisasi dan universitas di Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan keahlian strategis dan membangun keterampilan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan industri nasional di masa depan .



